Denpasar, baliwakenews.com – Desak Nyoman Sutariasih (51) duduk termenung di bale rumahnya di Desa Kesiman Petilan. Meski wajahnya kini tampak lebih tenang, rasa kecewa dan trauma dari peristiwa kehilangan mobil kesayangannya masih menyisakan jejak yang dalam.
Sudah lebih dari satu tahun Desak menyimpan harap, bahwa mobil Toyota Kijang miliknya yang raib dicuri, suatu hari akan kembali. Bukan hanya karena nilai mobil itu yang mencapai puluhan juta rupiah, melainkan karena itu adalah satu-satunya alat transportasi yang ia gunakan untuk mengelola kegiatan di Yayasan Dharma Sthapanam, tempat ia mengabdikan diri membantu pendidikan anak-anak kurang mampu.
“Saya sempat berpikir, mungkin memang tidak akan kembali. Tapi saya juga terus percaya, kebenaran pasti datang pada waktunya,” ucap Desak pelan.
Peristiwa pencurian terjadi jelang Natal, 23 Desember 2023. Mobil yang biasanya terparkir di garasi yayasan, mendadak hilang saat hendak digunakan. Kunci mobil yang biasa disimpan di wantilan juga raib. Sejak hari itu, hari-hari Desak dipenuhi kekhawatiran dan ketidakpastian.
Bagi sebagian orang, kehilangan kendaraan mungkin soal materi. Tapi bagi Desak, mobil itu punya nilai emosional. Dibeli dengan tabungan bertahun-tahun, mobil itu menjadi saksi bisu banyak aktivitas sosial dan perjuangan hidupnya.
Setahun lebih kasus itu membeku. Namun pada Minggu siang, 13 April 2025, kabar itu datang. Polisi menangkap tersangka pencurian, Engle Navy Bayu Wicaksono (33), di sebuah klinik di Jalan WR Supratman, Denpasar Timur. Ironisnya, saat itu Bayu sedang menemani istrinya berobat.
“Petugas menangkapnya tanpa perlawanan. Kami sudah mengantongi identitasnya sejak lama, hanya menunggu momen yang tepat,” ujar AKP I Ketut Sukadi, Kasi Humas Polresta Denpasar.
Dari hasil pemeriksaan, Bayu mengaku membawa kabur mobil Desak pada dini hari 26 Desember 2023, menjualnya di Surabaya seharga Rp16 juta. Harga yang jauh dari nilai sebenarnya.
Saat dihubungi oleh pihak kepolisian bahwa mobilnya ditemukan dan pelaku ditangkap, Desak tak bisa membendung air mata. “Saya hanya bisa menangis. Bukan karena senang semata, tapi karena semua ini seperti membuka luka lama,” katanya.
Meski mobil itu kini kembali, kerugian secara emosional dan aktivitas yayasan selama satu tahun lebih tidak bisa digantikan. “Tapi saya tetap bersyukur. Setidaknya saya tahu, keadilan masih bisa ditegakkan,” ujarnya dengan suara lirih.
Kini, Bayu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Sedangkan Desak, perlahan mulai menyusun kembali harapan yang sempat tercuri bersama mobil itu. BWN-01































