Singaraja, Baliwakenews.com
Transformasi digital yang berkembang pesat menuntut Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk berubah lebih adaptif, responsif, dan berintegritas. Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa menegaskan ASN masa kini tak cukup hanya bekerja administratif, tetapi harus mampu melayani masyarakat dengan hati dan memahami perubahan zaman.
Hal itu disampaikan Sekda Suyasa saat hadir dalam Podcast Petuah Ngopi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Buleleng di Ruang Kerja Sekda Buleleng, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, tantangan birokrasi saat ini jauh berbeda dibanding sebelumnya. Di tengah derasnya arus media sosial dan digitalisasi, setiap persoalan bisa dengan cepat menjadi konsumsi publik. Karena itu, ASN dituntut memiliki kemampuan membaca situasi, membangun kompetensi, dan mampu memprediksi fenomena yang akan terjadi di masa depan.
“ASN harus memiliki jiwa melayani masyarakat, adaptif terhadap perubahan, dan jangan sampai tertinggal oleh zaman,” tegasnya.
Suyasa menilai aspek kepemimpinan atau leadership menjadi faktor paling menentukan dalam membangun birokrasi yang sehat. Berdasarkan pengalamannya memimpin enam Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ia menilai sistem reward and punishment harus diterapkan secara tegas, namun tetap menjaga keharmonisan lingkungan kerja.
Ia juga menyoroti masuknya Generasi Z ke dalam dunia birokrasi. Menurutnya, ASN muda memiliki kreativitas tinggi dan pemikiran out of the box, namun seluruh inovasi tetap wajib berada dalam koridor hukum dan regulasi yang berlaku.
“Jangan sampai kreativitas justru menabrak aturan dan memicu pelanggaran,” ujarnya.
Di era kolaborasi saat ini, lanjut Suyasa, ego sektoral tidak boleh lagi dipertahankan. Seluruh instansi harus saling mendukung demi mempermudah pelayanan publik dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
“Jangan sampai hal yang mudah dipersulit. Melayani masyarakat harus dilakukan dengan membahagiakan,” katanya.
Tak hanya bicara soal ASN, Sekda Suyasa juga menyinggung transformasi pendekatan kerja Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Buleleng. Menurutnya, pola penegakan ketertiban kini diarahkan lebih humanis, edukatif, dan regulatif, bukan semata-mata mengedepankan sanksi.
Sebagai bagian dari Tim Yustisi, Satpol PP Buleleng diminta mengedepankan pendekatan persuasif agar penertiban di lapangan tidak selalu berujung konflik dengan masyarakat.
“Paradigma baru harus dibangun agar masyarakat melihat Satpol PP sebagai aparat penegak ketertiban yang humanis,” jelasnya.
Ia menyebut pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil positif, termasuk dalam penertiban papan reklame dan penataan bangunan tidak layak di kawasan pesisir yang kini mulai diterima masyarakat dengan baik.
Di akhir pernyataannya, Suyasa mengingatkan seluruh ASN agar terus membangun kompetensi, menjaga integritas, dan hadir langsung di tengah masyarakat.
“ASN akan dicintai rakyat jika mampu hadir dan bekerja nyata di tengah masyarakat. Ketika masyarakat mendukung program pemerintah, di situlah kunci keberhasilan pembangunan,” pungkasnya. BWN-03

































