Bangli, baliwakemews.com – Pagi baru saja menyapa Desa Susut, Bangli, ketika halaman Balai Banjar Susut Kaja mulai dipenuhi aroma bumbu Bali yang menyeruak ke udara. Di balik aroma itu, tangan-tangan muda tengah sibuk mencacah daging, memeras kelapa, dan meracik bumbu genep khas Bali.
Sementara di sisi lain, perempuan-perempuan muda dengan busana adat berseri-seri menyusun buah-buahan lokal menjadi gebogan setinggi 80 sentimeter simbol persembahan yang sakral sekaligus estetis.
Mereka adalah para anggota Sekaa Teruna Teruni (STT) dari delapan desa adat di wilayah Desa Susut. Pada Minggu (18/5/2025), mereka berkumpul dalam sebuah perhelatan budaya: Festival Amertha Sanjiwani, sebuah ajang yang tak sekadar lomba, tetapi juga panggung bagi generasi muda untuk menunjukkan keterampilannya merawat tradisi.
Festival ini diprakarsai oleh Yowana Puri Agung Susut, sebuah organisasi pemuda adat yang ingin agar warisan leluhur tak sekadar jadi kenangan, tapi tetap hidup dalam keseharian anak muda. Dua lomba utama digelar, yakni ngelawar untuk peserta laki-laki, dan gebogan untuk peserta perempuan.
Lebih dari Sekadar Kompetisi
Setiap kelompok peserta ngelawar terdiri dari lima orang laki-laki yang ditantang membuat tiga menu khas Bali: lawar merah, lawar daun belimbing (don blimbing), dan sate lembat, sate tradisional dari campuran daging, kelapa parut, dan rempah khas Bali. Di meja sebelahnya, kelompok perempuan dengan tiga anggota menyusun gebogan dari buah-buahan lokal yang telah disiapkan panitia.
“Semua bahan sudah kami sediakan secara seragam. Jadi yang dinilai benar-benar keterampilan dan kreativitas mereka,” jelas Dewa Agung Eka Darma, Ketua Panitia sekaligus Manggalaning Pasemetonan Puri Agung Susut.
Penilaian lomba tidak hanya soal rasa. Lawar yang dibuat harus memenuhi standar kelengkapan bumbu, kebersihan proses, hingga estetika penyajian. Begitu juga gebogan, tak hanya harus indah, tapi juga rapi, bersih, dan tak melebihi batas tinggi 80 cm. Para peserta diberi waktu empat jam, dari pukul 08.00 hingga 12.00 WITA, untuk menyelesaikan seluruh rangkaian tugas mereka.
Tiga juri dihadirkan untuk menilai hasil akhir, terdiri dari satu perwakilan Majelis Desa Adat dan dua tenaga pendidik dari SMK Negeri 4 Bangli. Para pemenang nantinya akan diganjar piala, piagam, dan uang tunai, bentuk apresiasi atas usaha mereka menghidupkan tradisi.
Ritual yang Menyatu dengan Masa Kini
Di balik kemeriahan festival, ada semangat yang lebih dalam: menjadikan budaya sebagai bagian hidup anak muda. “Ini bukan hanya lomba. Ini tentang bagaimana generasi muda tidak asing dengan tradisi leluhurnya,” tegas Agung Eka.
Festival ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-821 Kota Bangli. “Kita sebagai masyarakat Bangli juga punya tanggung jawab merayakan, bukan hanya pemerintah,” ujarnya.
Lebih jauh, kegiatan ini dirancang sebagai program tahunan. Tahun depan, panitia merencanakan menambah jenis lomba, seperti pembuatan masakan Bali lainnya hingga pembuatan banten (persembahan khas Bali).
Agung Eka berharap kegiatan ini bisa terus tumbuh dan menjadi ruang pembelajaran yang hidup bagi pemuda Bali. “Saya ingin mereka bukan hanya tahu cara membuat lawar, tapi juga memahami maknanya dalam kehidupan adat dan upacara di Bali. Dengan begitu, tradisi tidak sekadar dikenang, tapi dijalani.”
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba modern, di Desa Susut hari itu, waktu seolah melambat. Di antara potongan daging, lembaran daun belimbing, dan susunan buah-buahan lokal, warisan leluhur kembali hidup di tangan generasi muda yang tak takut menyingsingkan lengan baju demi menjaga jati diri budayanya. BWN-01

































