Badung, baliwakenews.com
Jarum jam baru menunjuk pukul satu dini hari ketika suasana tenang di kawasan wisata Canggu dan Seminyak tiba-tiba berubah. Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, sejumlah petugas Satpol PP BKO Kecamatan Kuta Utara menyusuri jalanan yang biasanya riuh oleh wisatawan. Malam itu, mereka bukan sedang berpatroli biasa melainkan menertibkan para gelandangan dan pengemis (gepeng) yang kerap muncul di kawasan wisata.
Beberapa anak kecil ikut terjaring dalam operasi ini. “Ada delapan anak-anak dan empat orang dewasa yang kami amankan malam itu,” tutur Putu Agustina, Danru Satpol PP BKO Kuta Utara.
Operasi yang berlangsung sejak dini hari itu menyasar tiga titik rawan, Jalan Pantai Batubolong, Jalan Pantai Berawa, dan Jalan Kayu Aya, tiga ikon wisata malam yang kini juga menjadi tempat beristirahat sementara bagi sebagian kaum marginal.
Menurut Agustina, wajah-wajah yang mereka temui sebagian besar bukanlah orang baru. “Sebagian besar sudah pernah kami tertibkan sebelumnya,” ujarnya. Dari 12 gepeng yang diamankan, empat ditemukan di kawasan Batubolong, tiga di Berawa, dan lima di sekitar Kayu Aya.
Sementara itu, dua waria juga ikut diamankan saat tengah nongkrong di sekitar Jalan Kayu Aya. Kawasan ini memang kerap menjadi sorotan warga karena aktivitas malam yang dianggap mengganggu kenyamanan publik. “Kami hanya minta keterangan dan buatkan surat pernyataan sebelum diserahkan ke Dinas Sosial,” jelas Agustina.
Di sisi lain, Made Astika Jaya, Kepala Seksi Operasional Satpol PP Badung, menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari patroli rutin Pemkab Badung dalam menjaga ketertiban umum, khususnya di kawasan pariwisata. “Kami ingin memastikan wisatawan merasa aman dan nyaman,” katanya.
Namun di balik data dan prosedur, ada wajah-wajah kecil yang menatap kosong di tengah malam, menggenggam plastik berisi pakaian seadanya. Mereka ikut digiring ke kendaraan Satpol PP, menuju Dinas Sosial untuk pembinaan. Sebagian dari mereka mungkin belum paham mengapa malam itu menjadi malam yang berbeda.
Operasi penertiban seperti ini bukan hanya tentang menegakkan aturan, tetapi juga tentang realitas sosial yang masih berulang di balik gemerlapnya destinasi wisata internasional seperti Kuta Utara. Ketika lampu-lampu kafe di Canggu mulai redup dan jalanan kembali sepi, cerita malam itu menyisakan pertanyaan, sampai kapan anak-anak harus ikut merasakan dinginnya di tengah kota pariwisata? BWN-04


































