Tabanan, Baliwakenews.com
Pagi belum benar-benar terang ketika jalan menanjak menuju Banjar Adat Belulang, Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Tabanan, mulai dipenuhi warga berpakaian adat. Udara dingin turun dari lereng Batukaru. Kabut tipis menggantung di sela pohon-pohon tinggi, sementara suara kulkul dan kidung pelan terdengar dari arah pura.
Di kawasan itulah berdiri Pura Luhur Batu Panes, pura yang dipercaya masyarakat berada tepat di tengah Pulau Bali. Tidak ada papan besar atau kemegahan seperti pura tujuan wisata. Jalannya sempit, melewati sawah berundak dan rumah warga yang masih basah oleh embun pagi.
Namun beberapa hari terakhir, kawasan itu kembali hidup. Warga desa adat sibuk ngayah menyiapkan pujawali yang jatuh pada Rabu 13 Mei 2026, bertepatan dengan Buda Keliwon Gumbreg.
Di antara keramaian krama adat, tampak seorang pria mengenakan pakaian adat serba putih. Pria itu adalah I Nyoman Arnawa.
Tak ada podium. Tak ada pidato panjang. Arnawa justru lebih banyak terlihat larut dalam aktivitas warga. Dia ikut dalam prosesi ngingsiran Ida Betara Luhur Taman Beji Agung, berjalan berdampingan dengan krama desa, tanpa menjaga jarak sebagai pejabat publik.
Bagi warga Belulang, pemandangan itu bukan sesuatu yang dibuat-buat menjelang agenda politik. Arnawa dikenal sebagai tokoh masyarakat yang masih aktif hadir dalam kegiatan adat dan spiritual desa. Di tengah kesibukannya sebagai Ketua DPRD Tabanan, dia tetap rutin turun saat ada pujawali, gotong royong adat, hingga kegiatan ngayah di pura-pura sekitar Penebel.
“Kalau ada karya atau kegiatan adat, beliau memang selalu turun langsung,” ujar salah satu warga pengempon pura.
Pujawali tahun ini terasa berbeda karena dirangkai dengan pemelaspasan Pura Taman Beji Agung yang baru selesai diperbaiki. Prosesi sakral itu akan dipuput oleh Ida Pandita Mpu Nabe Rsi Siwa Putra Sanatana Daksa Manuaba dari Banjar Utu, Pesiapan.
Di Bali, ngayah bukan sekadar kerja sukarela. Ini adalah bagian dari keyakinan hidup masyarakat adat, bahwa menjaga pura sama artinya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan leluhur.
Arnawa menyebut tradisi itu perlahan mulai menghadapi tantangan zaman. Modernisasi dan geliat industri pariwisata membuat sebagian generasi muda Bali mulai menjauh dari akar tradisinya.
Karena itu, menurut dia, desa adat dan pura menjadi ruang penting untuk menjaga identitas Bali agar tidak kehilangan ruhnya sendiri.
“Bali tidak hanya tentang pariwisata. Bali bisa tetap kuat karena adat, budaya dan spiritualitasnya masih hidup,” kata Arnawa di sela persiapan upacara.
Ucapan itu terasa relevan di Penebel, wilayah yang hingga kini masih mempertahankan wajah Bali lama. Sawah terasering terbentang luas. Mata air masih dijaga lewat ritual adat. Pura-pura tua tetap menjadi pusat kehidupan sosial masyarakat. BWN-01


































