Mangupura, baliwakenews.com
Dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan masyarakat Badung, terutama yang bekerja di sektor pariwisata. Kondisi seperti itu menimbulkan kekhawatiran akan memicu meningkatnya tindakan kriminalitas di desa-desa. Mencegah dan mengantisipasi gangguan Kamtibmas, Kapolres Badung AKBP Leo Dedy Defretes membuat program ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan tak produktif.
“Kami menggandeng para petani (di wilayah Badung) dan para tokoh masyarakat untuk mengelola lahan tidur atau tak produktif. Kami melibatkan masyarakat yang terdampak pandemi dengan memberikan mereka bibit tanaman dan bibit ternak,” kata Leo, usai memberikan bibit tanaman cabe, terong, jagung dan lainnya di Banjar Pengiasan, Mengwi, Badung, Jumat (11/3) siang.
Leo menuturkan, program ketahanan pangan ini telah dimulai setelah pandemi Covid-19 melanda Bali. Tak hanya sekedar menanam berbagai sayur mayur di desa-desa, kegiatan polisi berkebun ini juga untuk mengantisipasi gangguan Kamtibmas dampak dari kondisi serba sulit seperti sekarang ini. “Kami mapping atau memantau situasi yang rawan gangguan kriminal di wilayah yang dijadikan lokasi berkebun. Masyarakat biasanya memberikan informasi terkait adanya gangguan Kamtibmas ke polisi dari kebun atau sawah yang dikelola,” bebernya.
Lebih lanjut dikatakan perwira asal Maluku ini, meski sektor pariwisata sudah mulai bangkit, pihaknya berharap program ketahanan pangan terus berkelanjutan. “Sektor pertanian jangan ditinggalkan. Sebab pertanian ini bisa menjadi ketahanan pangan bagi masyarakat Badung,” tegasnya.
Tak hanya pertanian, Kapolres juga menggandeng Bali Waste Cycle (BWC) untuk mengelola sampah plastik yang ada di desa-desa agar bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. “Sampah plastik bisa diserahkan ke pihak BWC, nanti mereka dikasi buku tabungan berisi uang dari penukaran sampah plastik. Dan kami juga telah membentuk kelompok-kelompok di desa untuk menangani sampah plastik,” ucap Leo. BWN-01































