Klungkung, baliwakenews.com
Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Warmadewa kembali menggelar Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Ketua tim PKM Unwar, Dr. Drs. I Wayan Gde Sarmawa, M.M., mengatakan PKM kali ini dengan mengusung tema “Peningkatan Produktivitas Petani Garam”, berupaya mencari solusi bagi persoalan yang dihadapi para petani garam di Desa Kusamba.
Bersama anggota Tim PKM Dr. Ida Bagus Udayana, SE., MM., dan Drs. I Nyoman Senimantara M.Si., Sarmawa berupaya mengidentifikasi persoalan yang dihadapi para petani garam yang masih tersisa di Desa Kusamba. “Garam buatan petani garam di Desa Kusamba, cukup terkenal dan harganya relatif lebih tinggi dari petani garam daerah lain. Namun jumlah petani garam terus berkurang, kami mencoba mencari tahu penyebabnya dan mencarikan solusi, ” tutur Sarmawa.
Lebih lanjut Sarmawa menuturkan sekitar tahun 70- an jumlah petani garam di Desa Kusamba ada ratusan orang. Semakin tahun jumlahnya terus menurun dan akhirnya saat ini hanya tinggal 16 petani garam. Untuk mempertahankan keberadaan petani garam di Desa Kusamba ini, maka dibentuk kelompok petani garam yang diberi nama Kelompok Petani Garam Sarining Segara.
“Dibentuknya kelompok petani garam ini dengan harapan dapat mempertahankan petani garam di Desa Kusamba yang merupakan kearifan lokal. Dengan adanya kelompok petani garam, tentunya ada perhatian dari pemerintah sehingga bisa memperoleh berbagai bantuan baik dari pemerintah maupun dari swasta untuk pengembangan usaha, ” ungkapnya.
Sarmawa memaparkan dari hasil identifikasi diketahui permasalahan yang dihadapi para petani garam di Desa Kusamba adalah masih rendahnya kuantitas dan kualitas garam yang dihasilkan petani. “Persoalan ini karena proses pengerjaan garam masih dilakukan secara tradisional. Sehingga garam yang dihasilkan dengan kualitas garam yaitu kandungan NaCl 96%, ” ucapnya.
Dengan proses pembuatan garam yang masih tradisional dalam satu kali proses, seorang petani mampu menghasilkan garam berkisar 10-15 kg. Proses pembuatan garam ini sendiri memakan waktu 3 hari. Sehingga dalam tiga hari petani bisa mendapatkan penghasilan kotor berkisar Rp200 ribu – Rp300 ribu.
Untuk mengatasi persoalan tersebut dari PKM Unwar memberikan solusi yang paling mudah dilakukan petani yaitu dengan penggunaan geomembrane dalam proses pengeringan air laut. “Dengan penggunaan geomembrane maka garam yang dihasilkan menjadi lebih bersih dan lebih banyak, serta NaCL – nya lebih tinggi. Kami targetkan NaCl bisa mencapai 99%, ” ucapnya.
Meski demikian Sarmawa berharap ke depan, pemerintah dapat memberikan bantuan teknologi yang mampu lebih meningkatkan produksi garam sehingga harga garam bisa lebih bersaing. Dengan meningkatnya daya saing tersebut maka peminat dari garam Kusamba juga akan meningkat.
Prebekel Desa Kusamba, I Nengah Sumadi menyambut baik kegiatan pengabdian yang dilakukan PKM Unwar. Ia berharap ada keberlangsungan kegiatan untuk peningkatan priduktivitas petani garam, sehingga kesejahteraan petani semakin meningkat.
Hal senada disampaikan Manajer Koperasi yang memasarkan produk garam yang dihasilkan petani, Gusti Nyoman Sadi Adiputra. Dikatakan selama ini koperasi berperan dalam hal membantu pemasaran produk garam yang dihasilkan petani garam Desa Kusamba. Diakui dibandingkan dengan harga garam dari tempat lain, harga garam Kusamba sudah cukup tinggi yaitu menembus Rp20 ribu per kg.
“Memang agak sulit bersaing harga karena harga produk kami sudah tinggi. Jadi kami hanya berharap pada pembeli fanatik dan keunikan rasa, ” ucapnya.
Karenanya ia berharap, agar kegiatan PKM Unwar bisa dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga memberikan solusi bagi petani garam agar dapat meningkatkan jumlah produksi yang secara otomatis dapat meningkatkan pendapatan petani garam.
Ketua Kelompok Petani Garam Sarining Segara, Mangku Wayan Rena, mengatakan sangat bersyukur ada perhatian dari PKM Unwar yang memberikan pengetahuan kepada petani tentang cara meningkatkan kualitas dan juga jumlah produksi garam. Ia berharap anggota kelompok tani garam yang saat ini tinggal 16 orang tersebut dapat menerapkan pengetahuan yang diberikan oleh tim akademisi dari PKM Unwar.*BWN-03































