Mangupura, baliwakenews.com
Desa Wisata ( Dewi) Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung sudah mulai dikenal dan dilirik oleh pengunjung karena keindahaan panorama persawahan Subak Lepud. Guna menunjang pengembangan Dewi Baha, saat ini Program Kemandirian Masyarakat (PKM) Universitas Mahasaraswati ( Unmas) Denpasar tengah mengembangkan potensi tanaman hias di desa tersebut.
Ketua Program Kemandirian Masyarakat (PKM) Unmas yang Terintegrasi dengan MBKM Berbasis Kinerja IKU Bagi PTS Tahun 2022, Dr.Ir.I Ketut Sumantra, MP., Senin 19 Desember 2022 mengatakan Dewi Baha memiliki keunikan yaitu di kawasan ini pengunjung dapat menikmati jalur trakking sepanjang 4 km yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dan atau dengan menaiki sepeda yang sudah disediakan oleh Pengelola Desa Wisata (Dewi).
“Di sepanjang jalur trakking pengunjung dapat menikmati aktivitas petani dalam melakukan budidaya dan panen hasil pertanian. Juga di jalur ini tersedia kolam pancing, kolam renang dan tempat melukat (wisata spiritual). Yang paling menarik di jalur ini tersedia warung makan yang ditata sedemikian asri dan juga bale panggung untuk melihat panorama sawah dan tempat photo selfi,” tutur Sumantra.
Lebih lanjut dikatakan, warung makan ini diberi nama WARUNG UMASANA. Semenjak PPKM Covid-19 dibuka oleh pemerintah, tempat ini mulai banyak dikunjungi oleh masyarakat baik untuk tujuan wisata edukasi, reunian, arisan keluarga dan masyarakat perorangan.
Untuk mendukung desa wisata, potensi tanaman hias sangat besar dalam menciptakan bidang usaha baik dalam sekala rumah tangga atau kelompok dapat dikembangan. Namun hal ini belum dikelola secara maksimal padahal tanaman hias di desa Baha mempunyai potensi besar dalam pengembangan untuk mendukung desa wisata dan sebagai cendera mata bagi pengunjung yang datang berwisata ke desa ini.
“Saat ini para pemuda secara perorangan juga telah mengembangkan usaha tanaman hias secara mandiri berdasarkan hobi semata. Ada yang mengembangkan bonsai dan tanaman hias lain seperti aglonema semata-mata untuk memenuhi estetika semata. Namun disisi lain peluang pasar belum dimanfaatkan secara optimal karena belum ada organisasi dan manajemen yang mengikat dalam melihat peluang pasar, ” ungkapnya.
Berangkat dari permasalahan tersebut kemudian dibentuk kelompok Tanaman Hias Mulasari yang beranggotakan 12 orang dengan Ketua Kelompok, I Ketut Merta yang sekaligus pemilik warung Umasana yang dijadikan tempat berjualan tanaman hias. Di tahun 2022 kelompok tanaman hias sudah mendapatkan pelatihan budidaya tanaman hias indoor, teknik membuat pupuk cair yang diperkaya dengan zat pengatur tumbuh alami, dan pembangunan outlet di warung Umasana.
“Permasalahan yang dialami oleh mitra adalah : 1) Belum memiliki inovasi yang memadai dalam perbanyakan tanaman hias baik dengan mempergunakan stek batang maupun daun. 2) Produk yang dimilki belum dikemas secara menarik untuk dipasarkan secara luas. 3) Mitra belum menguasai pemasaran khususnya marketing mix berbasis product, price, place dan promotions baik secara on line maupun secara offline, ” ucap Sumantra.
Untuk membantu Kelompok Tanaman Hias, PKM Unmas yang terintegrasi dengan MBKM Berbasis Kinerja IKU Bagi PTS Tahun 2022 melakukan beberapa kegiatan seperti: 1) Inovasi pembibitan tanaman hias yang bernilai jual, 2) Produks Inovasi POCMAS-Plus bernilai jual, dan 3) memberikan pelatihan manajemen dan pemasaran dengan model marketing mix pada Kelompok Tanaman Hias Mulasari.
“Inovasi pembibitan tanaman hias dari jenis Aglonema dilakukan dengan membuat bibit tanaman hias khususnya Aglonema dengan mempergunakan system stek pendek dari batang dan stek pucuk yang diberi ZPT alami dari ekstrak bawang merah yang diperkaya dengan bahan organic dari keong mas, ” paparnya.
Untuk Inovasi POCMAS-Plus bernilai jual dikerjakan bersama kelompok dengan memberikan kemasan ke dalam botol yang berlabel dengan tampilan menarik dan disertai brosur manfaat dan cara penggunaannya pada tanaman. Diharapkan inovasi ini akan mampu sebagai income generating bagi anggota kelompok.
Pemasaran dengan model marketing mix diberikan oleh Dr. Ida Ayu Made Susanti, SP. MAgb., dan tim yang dibantu oleh beberapa mahasiswa dari Unmas Denpasar. Konsep pemasaran marketing mix yang diberikan dalam pelatihan ini menekankan konsep marketing 4P yaitu Product, Price, Place, dan Promotion.
Dalam pelatihan ini anggota kelompok juga diajarkan memasarkan produk melalui online marketing seperti internet marketing, pemasaran dengan media sosial. Promosi produk selain melalui media sosial juga dikembangkan tempat pemasaran yaitu di Warung Umasana Baha.
“Kami harapkan pengunjung yang berbelanja kuliner ke Warung Umasana juga dapat membeli oleh-oleh tanaman hias, pupuk dan sarana lain yang disediakan oleh Kelompok Mulasari, ” ucap Sumantra memungkasi. *BWN-03





























