Pengelola Uluwatu Presentasikan Rancangan Gerbang Elektronik Apresiasi Masukan Pengemong dan Pengempon

Iklan Home Page

Badung, baliwakenews.com

Manajemen Pengelola Kawasan Luar Uluwatu bersama Konsultan mempresentasikan rancangan Pembangunan gerbang Elektronik yang akan dibangun di Objek Wisata Kawasan Luar Pura Uluwatu, Selasa (19/5).
Kegiatan yang berlangsung di wantilan kawasan objek wisata Uluwatu ini juga dihadiri Penglingsir Puri Jro Kuta, Gusti Ngurah Jaka Pratidnya atau yang sering dipanggil Turah Joko serta Undagi Pura Uluwatu, IB Wira, Bendesa Adat Pecatu Made Sumertha beserta prajuru dan tokoh Pecatu selaku Pengemong Pura Luhur Uluwatu. Dalam kesempatan tersebut Pengelola dan Konsultan juga mendengarkan arahan dan masukan dari Penglingsir Puri dan tokoh Pecatu serta Undagi Pura Uluwatu.

Wijana dalam kesempatan tersebut menyampaikan terimakasih dan apresiasinya kepada Penglingsir puri Jro Kuta dan prajuru. Karena tiada kenal lelah untuk memberikan arahan dan masukan untuk menjaga keberadaan Pura Luhur Uluwatu serta alas kekeran yang ada.
Masukan dan arahan ini senantiasa menjadi acuan konsep pihaknya dalam mengelola Objek Kawasan Wisata Luhur Uluwatu.

Terkait rancangan pembangunan gerbang elektronik yang akan dibangun di sana adalah yang mengacu standarisasi yang ditetapkan pemerintah. Namun tetap tidak terlepas dari nilai estetika. Selain itu dengan dihangunnya gate elektrik tersebut nantinya secara aktivitas dan transparansi akan bisa terukur dengan jelas. Dimana nantinya akan menambah kenyamanan dan keamanan wisatawan maupun pemedek yang tangkil ke Pura Uluwatu.

“Yang terperting adalah pemisahan akses buat pemedek yang melakukan persembahyangan dengan wisatawan menjadi sangat jelas. Dimana adanya destinasi Uluwatu tidak mengurangi keindahan estetika serta pola mekanisme pelaksaan upacara,” tegasnya. Bukan itu saja, selain akses ini menjadi jelas, dari sisi akuntabilitas, keamanan dan kenyamanan serta nilai sosialnya juga tetap terjaga. “Artinya kami tidak hanya mengais rejeki dengan membuat pundi pundi fasilitas secara ekonomis, tetapi juga memperhatikan nilai sosial relegius agar tetap terjaga,” ujarnya. Karenanya pihaknya mengundang pihak penglingsir puri Jro Kuta dan juga undagi serta tokoh untuk memberikan masukan dan arahannya. “Agar nantinya sisi ekonomi dan sosial religius bisa seimbang,” imbuhnya. Selain itu juga

Baca Juga:  Tingkat Hunian Hotel The Nusa Dua Rata-Rata 65,37%, 10 dari 18 hotel capai di atas 70%

tetap mempertahankan alas kekeran sebagai penyangga pengembangan pariwisata di sana. Dimana di sana ada pura ada sunset dan juga alas kekeran sebagai paru parunya. Lebih jauh Wijana memaparkan, pihaknya juga sudah melakukan antisipasi jika destinasi sudah dinyatakan dibuka namun elektrik gate belum jadi. Yakni dengan membuat rancangan memanfaatkan pos tiket yang sudah ada dengan tetap memperhatikan peosedur kesehatan. Termasuk di lengkapi dengan standarisasi pola pola penanganan covid-19 serta ambulance untuk penanganan emergency.
“Walau elektrik gate belum selesai dibangun, ketika destinasi sudah dimulai dibuka kami harus juga siap,” akunya.

Bendesa Adat Pecatu, Made Sumertha mengingatkan kalau rencana pembangunan gate elektronik tidak boleh terpisahkan akan keberadaan Parahyangan Ida Betara di Utamaning Mandala. Sedangkan alas Kekeran adalah sebagai daya dukungnya. Dimana secara kasat mata harus ada yang namanya sor singgih. “Kita yang harus menyesuaikan,” tegas Bendesa yang juga Anggota DPRD Badung tersebut. Dia juga menekankan dalam pembangunan gare ini agar memanfaatkan material dari bukit. “Ornamen ornamen yang dipergunakan juga agar disesuaikan,” sarannya sembari menambahkan dengan penyesuaian ini diharapkan nantinya tidak sampai membuat “branded” Uluwatu terkaburkan oleh ornamen orneman baru. Sebab hal ini memiliki keunikan tersendiri dan yang dicari saat ini adalah yang alami.

Baca Juga:  Komisi IV Bedah Anggaran Sosial Badung"

Pengelingsir Puri Agung Jro Kuta Turah Joko menyambut positif rencana pembangunan gerbang elektronik tersebut. Namun demikian Penglingsir Puri ini juga mengingatkan ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian dan acuan dalam pembangunan di Kawasan Uluwatu. Turah Joko menegaskan dalam melalukan pembangunan di kawasan tersebut, kesucian dan kelestarian Pura Uluwatu harus tetap dijaga. Dicontohkannya yakni, model bangunan tidak boleh terlalu tinggi. Selain itu apapun yang dibangun harus mengacu pada kesucian pura, karena berkat Paican Ida Betara bisa menemukan kerahayuan. Karenanya dalam penyajian gambar oleh konsultan disarankan ada hal yang perlu direvisi. Yakni pembangunan canovi agar diperpendek dan pembangunan tembok agar tidak mengambil alas Kekeran. Dia juga Turah mengaku sangat setuju akan usulan desa adat untuk memanfaatkan bahan lokal.

Siapapun yang mengambil proyek tersebut harus koordinasi dengan desa adat. Karena desa adatlah yang akan mengawasi pembangunan nantinya,” sarannya sembari juga menegaskan setiap pembangunan harus tetap mengacu pada bangunan di Utama mandala. Seperti tidak ada ukiran, karena di utama mandala tidak ada ukiran. Dimana kondisi ini menyatu dengan keberadaan hewan “wenara”yang ada dan sudah menyatu bertahun tahun. Kenapa ketinggian dibatasi, karena lokasi dekat laut dan bisa terjadi angin puting beliung yang mengancam bangunan.

Baca Juga:  Fraksi Golkar DPRD Badung Soroti Target PAD Tak Realistis, Minta Evaluasi Postur APBD 2024

“Karenanya saya tidak bosan bosan setiap ada pertemuan menyampaikan hal ini. Setiap kebijakan yang diambil antara Puri selaku Pengempon dan desa adat sebagai Pengemong selalu bersinergi,” pungkasnya. IB Wira selaku Undagi Pura Luhur Uluwatu menambahkan karakter kawasan Uluwatu memang berbeda. Sebab pemandangan alamnya sangat natural dan objeknya juga sangat relegi. Karenanya sebagai suatu kawasan harus mengacu dengan kondisi dan keadaan setempat. “Mau tidak mau perkembangan sekarang objek religi menjadi kawasan pariwisata. Yang terpenting bagaimana ini menjadikan supaya relegi tidak terganggu, kegiatan pariwisata sebagai usaha saat ini bisa berjalan,” imbuhnya.

Oleh karena itu saran dia, sirkulasi wisatawan dan pemedek harus dibedakan. Dimana wisatawan datang melihat objek alam dan pemedek akan langsung ke pura. “Sekarang karena ada bentuk menajemem kekinian yaitu gate elektrik memang perlu penataan ulang. Sekalian merencanakan bangunan baru tanpa menggangu alam yang ada,” ujarnya. Selain itu ada nilai yang dulu harus dikembalikan lagi. Contohnya bentuk kesederhanaan, dimana bangunan baru tidak sampai mengungguli bentuk pura yang sudah ada. BW-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR