Pengelola DTW Uluwatu Tunjukkan Komitmen Konservasi Satwa Lewat Tumpek Uye “Monyet Berpesta”

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Kawasan Luar Pura Uluwatu kembali menegaskan komitmennya terhadap konservasi satwa dan pariwisata berkelanjutan melalui pelaksanaan Tumpek Kandang atau Tumpek Uye, Sabtu (7/2/2026) sore. Ritual sakral yang dikenal wisatawan sebagai momen “monyet berpesta” ini menjadi bukti keseriusan pengelola dalam merawat dan menghormati satwa, khususnya ratusan monyet yang hidup di kawasan Uluwatu.

Manajer Pengelola DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, I Wayan Wijana, menegaskan bahwa Tumpek Uye bukan sekadar agenda seremonial atau atraksi wisata, melainkan bagian dari sistem pengelolaan satwa yang telah dirancang secara berkelanjutan. “Bagi kami, monyet bukan hanya ikon wisata, tetapi bagian penting dari ekosistem dan spiritualitas kawasan Uluwatu. Karena itu, mereka harus dipelihara, dirawat, dan dihormati,” tegasnya.

Dalam perayaan Tumpek Uye, pengelola menyiapkan dua gebogan buah raksasa dengan kualitas terbaik sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan terhadap satwa. Prosesi ritual dipadukan dengan pertunjukan budaya Bali, seperti tari pendet dan sekar jepun, yang seluruhnya dikoordinasikan langsung oleh pengelola DTW bersama pemangku dan prajuru adat setempat.

Baca Juga:  Pelantikan Kepengurusan DPW ILDI Kabupaten Badung Periode 2025-2029

Saat ini, pengelola mencatat populasi monyet di kawasan Luar Pura Uluwatu mencapai sekitar 650 ekor. Jumlah tersebut dikelola secara terkontrol melalui pengaturan populasi, pemantauan perilaku, hingga perawatan kesehatan berkala. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari dengan komposisi nutrisi terukur, mengacu pada rekomendasi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (Unud).

“Kami mengalokasikan anggaran yang sangat besar, mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan, khusus untuk makanan dan kesehatan monyet. Ini komitmen nyata kami agar satwa tetap sehat dan interaksi dengan wisatawan berlangsung aman,” ujar Wijana.

Baca Juga:  Gubernur Koster Apresiasi Krama Penatih Guyub Sukseskan Karya Ngusaba, Cara Jaga Bali Tetap Eksis dan Kokoh

Selain monyet, pengelola DTW Uluwatu juga merawat satwa lain seperti kijang dan rusa yang ditangkarkan di kawasan. Seluruh satwa mendapatkan perlakuan yang sama dalam hal pakan, kebersihan kandang, serta pengawasan kesehatan. Pengelola juga memastikan seluruh monyet telah mengantongi sertifikat bebas rabies dengan pemeriksaan rutin setiap tiga hingga enam bulan.

Asisten Manager Operasional dan Personalia DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, I Made Murah, menambahkan bahwa Tumpek Kandang merupakan implementasi nilai Tri Hita Karana dalam pengelolaan destinasi wisata. “Upacara ini adalah bentuk bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa sekaligus wujud keharmonisan antara manusia dan alam. Meski Tumpek Uye hanya enam bulan sekali, perhatian terhadap satwa dilakukan setiap hari,” jelasnya.

Baca Juga:  Badung Gelar Entry Meeting Audit LPD

Menurutnya, perayaan Tumpek Uye juga melibatkan UMKM dan distributor lokal penyedia buah, sehingga memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Hal ini sejalan dengan konsep pengelolaan DTW Uluwatu yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga keberlanjutan sosial dan lingkungan.

Dengan masuknya Tumpek Kandang dalam kalender event Kabupaten Badung, pengelola DTW Uluwatu berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan destinasi wisata berbasis budaya dan konservasi satwa. Antusiasme wisatawan mancanegara dan domestik yang tinggi menjadi indikator bahwa pendekatan pengelola dalam merawat satwa dan menjaga nilai budaya mendapat apresiasi luas.BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR