Tabanan, baliwakenews.com – Sore itu, Selasa (12/8), langit di atas Pantai Kedungu, Desa Belalang, Kediri, Tabanan, mulai berwarna jingga. Putu Indra Bayu Pratama (28), warga Desa Pangkung Tibah, berdiri di bibir pantai. Riak ombak yang tampak jinak membuatnya tergoda untuk mandi di laut. Ia tak menyadari, di balik gulungan air itu, arus deras sedang menunggu mangsa.
Hanya dalam hitungan detik, gelombang tinggi datang tanpa ampun. Tubuh Bayu terhempas, lalu ditarik menjauh dari tepian. Ia berusaha melawan, namun setiap tarikan napas terasa semakin sulit. Di kejauhan, seorang peselancar asal Prancis bernama Loa yang sedang bermain ombak melihat tubuh Bayu terombang-ambing.
“Dia langsung melepaskan papan selancarnya dan berenang ke arah korban,” cerita Kepala BPBD Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri, sehari setelah kejadian. Loa tak sendirian—beberapa peselancar lain ikut membelah ombak, bertarung dengan arus yang tak bersahabat.
Proses penyelamatan berlangsung menegangkan. Arus deras berkali-kali mencoba merebut kembali tubuh Bayu. Hampir satu jam mereka berjuang di tengah gulungan ombak yang tak henti menerjang. Barulah pukul 17.45, Loa dan rekan-rekannya berhasil menyeret Bayu kembali ke pasir, basah kuyup namun masih bernapas.
Bagi Bayu, hari itu adalah peringatan bahwa laut bisa berubah ganas kapan saja. Bagi Loa, keberanian tak mengenal batas negara. “Kami mengimbau semua warga dan wisatawan agar waspada, terutama saat gelombang tinggi. Jangan sampai lengah,” tegas Srinadha.
Di tepi pantai, matahari yang mulai tenggelam menyaksikan sebuah nyawa kembali, diselamatkan dari pelukan maut lautan. BWN-07































