Teknologi digital komunikasi dalam wujud gadget merupakan fenomena yang paling unik dan menarik dalam penggunaannya, karena gadget yang mudah dibawa, tidak mengenal usia dan kalangan serta banyak memiliki fungsi yang semakin berkembang, sehingga teknologi ini sering dikatakan teknologi merakyat. Orangtua mempunyai pengaruh terhadap anaknya dan perlakuan orangtua akan mempengaruhi perilaku anaknya, dimana anak yang mendapatkan pola asuh dengan rasa kasih sayang dan keterlibatan tinggi akan tumbuh menjadi anak yang mempunyai kontrol yang baik, percaya diri dan kompeten.
Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa, dimana pada periode ini berbagai perubahan terjadi baik perubahan hormonal, fisik, psikologis maupun sosial (Batubara, 2010). Remaja (adolescence) adalah masa transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional, dimana secara umum, masa remaja awal kira-kira sama dengan masa sekolah menengah pertama dan perubahan pubertas, selanjutnya masa remaja akhir menunjuk pada kira-kira setelah usia 15 tahun yang akan muncul minat pada hubungan romantisme lawan jenis, dan eksplorasi identitas lebih nyata (Fatmawati, 2017).
Pengawasan remaja dalam menggunakan gadget harus dilakukan oleh orangtua agar orangtua tetap dapat mengontrol remajanya sehingga penggunaan gadget pada remaja tidak kebablasan. Dukungan dari orangtua secara psikologis sangat berpengaruh pada perilaku remaja (Janssens, et.al, 2015) khususnya dalam penggunaan gadget. Pola asuh yang penuh perhatian berpengaruh terhadap tingginya perilaku positif pada remaja awal, sehingga orangtua harus mengetahui metode pola asuh yang berbeda-beda pada setiap perkembangan remaja (Parent,et.al, 2015).
Peran orangtua dalam sebagai pendamping remaja yaitu Mentor, dimana orangtua berperan mengembangkan potensi dan minat anak, menawarkan nasehat dan dukungan, memberikan pujian, menjadi pendengar yang baik, dan menjadi teman. Coaching yaitu orangtua membantu anaknya memahami tujuan hidup dan membantunya membuat rencana guna mencapai tujuan tersebut. Fasilitator, dimana orangtua harus aktif memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan anak, baik fisik maupun mental, memberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal dalam suasana yang menyenangkan, sehingga ia mampu mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimilikinya agar berguna untuk diri dan lingkungan sosialnya yaitu orangtua memberikan nasehat dan bantuan bila si anak memperoleh masalah, baik di sekolah, lingkungan teman-temannya atau masalah pribadi. Sebagai konselor, orangtua tidak berarti mengambil alih dan menyelesaikan semua persoalan anak. Akan tetapi, cukup memberi berbagai alternatif pemecahan masalah dengan kemungkinan konsekuensinya lalu membiarkan mereka memilih alternatif yang paling baik menurut anak. Motivator yaitu orangtua harus menumbuhkan motivasi intrinsik yang muncul dari dalam diri anak untuk mau berprestasi, beribadah, maju bersaing secara sehat, dan hal-hal baik lainnya. Untuk merangsang hal tersebut orangtua hendaknya memberi apresiasi setiap kali anak melakukan suatu kebaikan yang diharapkan. Pendidik yaitu orangtua mendidik dan membentuk watak anak-anaknya, serta membekali keterampilan hidup (life skills) secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Teladan/model yaitu bersikap, bertutur kata, bertingkah laku di hadapan anak menjadi media pembelajaran yang efektif bagi anak. Jika yang tampil dalam pergaulan sehari-hari tutur kata yang lembut maka anak akan menirunya seperti itu ketika bertutur dengan orang lain. Teman yaitu sebagai teman harus setia saling mendengarkan cerita, perasaan, pendapat, apa pun isinya. Mendampingi anak ketika dalam suasana hati mereka yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Negosiator, dimana orangtua kadang-kadang harus bertindak sebagai negosiator ulung dalam melakukan tawar-menawar dengan anak, terutama anak-anak yang sudah beranjak remaja. Sebab, remaja kadang kala juga memiliki keinginan-keinginan yang menurut orangtua kurang pantas, seperti keinginan main berlama-lama, memilih teman sembarangan, memiliki barang yang tidak semestinya, dan sebagainya. Pentingnya pendampingan keluarga di kalangan masyarakat kurang modern atau disebut masih dalam lingkungan yang kurang pendidikan, belum menjadi perhatian, sehingga para remaja menjadi lebih bebas dan dapat melakukan hal-hal negatif seperti kejadian tawuran, pemakaian narkoba dan kecanduan penggunaan media online (Ningrum, 2017).
Pengasuhan orangtua yang penuh perhatian mampu meningkatkan komunikasi antara orangtua remaja dengan mengurangi reaksi negatif orangtua terhadap informasi, persepsi remaja kontrol berlebihan, meningkatkan kualitas hubungan antara orangtua dan remaja. Pendampingan orang tua terhadap remaja yaitu berorientasi pada keterlibatan, penyaringan dan pemantauan, berinteraksi dengan anak melalui gawai pengiriman pesan singkat yang berisikan anjuran anak-anak menggunakan gawai dengan benar, pengasuhan anak yang penuh perhatian melalui mendengarkan dengan perhatian penuh seperti sikap mindfull, kehangatan dari orang tua, perilaku yang terkendali, pemberian otonomi, pengasuhan yang otoritatif, dukungan, kontrol psikologis, proaktif, hukuman yang terkontrol dan hukuman keras, proses perhatian, kesadaran, tidak reaktivitas, dan tidak menghakimi.
Penulis: Dr. Made Dewi Sariyani, SST.,M.Kes
Ketua STIKES Advaita Medika Tabanan & Guru SMK Kesehatan Bali Dewata

































