web analytics

Merunut Dugaan Kasus Korupsi di Gumi Keris, Aktornya Pengurus LPD

Mangupura, baliwakenews.com

Dugaan tindak pidana korupsi di Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Badung belakangan mencuat. Diawal 2022 ini, aparat berwajib mengusut dua LPD yang menyebabkan kerugian hingga ratusan miliar. Masyarakat di gumi keris itu pun dibuat resah. Dan rata-rata, aktor dibalik kasus korupsi itu tiada lain adalah pengurus LPD sendiri. Setelah LPD di Desa Adat Sangeh, Abiansemal dalam tahap penyidikan oleh Kejaksaan Negeri Badung, kini Kepala LPD Desa Adat Gulingan, Mengwi, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Badung.

Tak tanggung-tanggung dugaan tindak pidana korupsi di kedua LPD itu, menyebabkan kerugian hingga ratusan miliran rupiah. Selain LPD Desa Adat Sangeh dan LPD Desa Adat Gulingan, pihak berwajib juga masih membidik sejumlah LPD lainnya di Kabupaten Badung yang diduga bermasalah. Terkait penetapan tersangka terhadap Ketua LPD Desa Adat Gulingan, dibenarkan oleh Kasi Humas Polres Badung Iptu Ketut Sudana, Minggu (27/2) siang. “Ketuanya inisial RD sudah menjadi tersangka terkait dugaan kasus korupsi. RD menyandang status tersangka sejak Kamis 10 Februari 2022,” katanya.

Hasil pemeriksaan saksi-saksi dan gelar perkara, kerugian yang terjadi di LPD Desa Adat Gulingan mencapai Rp 30.922.440.294. “Penyidikan ini memerlukan proses panjang. Awalnya kasus ini diadukan oleh nasabah LPD Gulingan ke Polres Badung tahun 2021. Pengaduan itu dilakukan karena nasabah tersebut tidak bisa menarik tabungannya pada LPD tersebut,” katanya.

Baca Juga:  Manfaatkan Badung Free Wifi Untuk Biosecurity, Peternak Badung Raih Juara I se-Bali

Menerima aduan tersebut, pada Mei 2021 Unit Tindak Pidana Korupsi Polres Badung melakukan penyelidikan. Dalam penyelidikan tersebut ditemukan peristiwa tindak pidana korupsi keuangan LPD Gulingan dilakukan oleh RD selaku kepala LPD. Berdasarkan hasil audit ditemukan kerugian sebesar Rp 30.922.440.294.

Kemudian pada 25 Oktober 2021, Polres Badung melakukan gelar perkara dan menaikan status perkara tersebut ke tahap penyidikan. Sekitar 39 saksi yang diperiksa selain saksi ahli dan saksi terlapor. Penyidik berusaha mengungkap modus tersangka melakukan korupsi di LPD tersebut. Hingga akhirnya diketahui sejumlah fakta penyebab timbulnya kerugian itu. Seperti adanya kredit fiktif dibuat oleh RD. Dan adanya deposito yang dicairkan tanpa sepengetahuan nasabah.

Selain itu, kata Sudana, terdapat beberapa kelemahan terkait pengelolaan keuangan LPD sehingga mudah terjadinya tindak pidana. Beberapa di antaranya LPD sudah memiliki daftar nominatif pinjaman, namun daftar nominatif pinjaman yang ada pada sistem dengan di neraca berbeda. Terdapat selisih antara daftar nominatif kredit di sistem neraca.

Menurut Sudana, LPD Gulingan tidak memiliki kebijakan tertulis terkait SOP pemberian pinjaman. LPD tidak memiliki kebijakan terkait persyaratan dokumen kredit (seperti KTP dan KK), tidak melakukan analisis kredit, tidak menyertakan hasil rapat komite kredit, tidak menyertakan dokumentasi berupa foto atas jaminan, dan tidak menyertakan bukti cek jaminan ke lapangan. “Dan di LPD Gulingan belum memiliki kebijakan dan prosedur restrukturisasi pinjaman yang disetujui oleh paruman desa dan disahkan oleh bendesa,” kata Sudana.

Baca Juga:  Jaga Eksistensi Daerah Konservasi, ‘Badung’ Ditanam di Bukian

Sudana mengungkapkan, LPD belum memiliki SOP atas pinjaman macet dan AYDA (aset yang diambil alih) LPD dalam memberikan kredit sudah dilengkapi dengan syarat permohonan kredit namun belum dilengkapi dengan syarat dokumen yang harus disertakan dalam permohonan kredit. “Berdasarkan fakta-fakta dan temuan kerugian tersebut Polres Badung melakukan gelar perkara 10 Pebruari 2022. Hasil gelar perkara penyidik meningkatkan status RD menjadi tersangka sesuai pasal Primer pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18, Subsider pasal 3 jo Pasal 18 dan/atau Pasal 9 UU Nomor 31 tahun 1999. Meski RD ditetapkan sebagai tersangka, namun tidak ditahan,” ungkap tegasnya.

Sebelumnya, Kejaksaan Negeri Badung juga mengusut dugaan tindak pidana korupsi LPD Sangeh. Kejaksaan melihat potensi kerugian negara Rp 130.869.075,68 atau seratus tiga puluh miliar delapan ratus enam puluh sembilan juta seratus sembilan puluh enam ribu tujuh puluh lima rupiah. Menurut Kepala Kejaksaan Negeri Badung I Ketut Maha Agung, Kamis (24/2), pihaknya telah melakukan penyelidikan selama kurang lebih 1,5 bulan, terkait dugaan tindak pidana korupsi di LPD Desa Adat Sangeh. “Pada Kamis 24 Februari 2022 kasus ini telah ditingkatkan ke tahap penyidikan. Penanganan perkara ini telah dimulai oleh tim penyelidik dari awal tahun 2022 yakni pada Januari 2022,” ucapnya.

Baca Juga:  Pantau Kegiatan Bersih-Bersih di Pantai Kuta Sekda Adi Arnawa Support Tenaga Kebersihan

Berdasarkan hasil penyelidikan, kata Agung, potensi kerugian keuangan negara berdasarkan hasil audit yang diserahkan oleh Bendesa Adat Sangeh, kurang lebih sebesar Rp 130.869.196.075,68. Menurut Agung, ​selama penyelidikan pihaknya telah memeriksa 18 orang saksi. Mulai dari Ketua LPD, pengurus LPD, badan pengawas periode terdahulu serta badan pengawas yang menjabat saat ini.

Dan ditemukan beberapa kelemahan yang membuat LPD Sangeh menderita kerugian. Seperti, tidak memiliki SOP secara tertulis baik dalam hal pemberian pinjaman, simpanan berjangka dan tabungan. Kurangnya kompetensi dan kejujuran SDM dalam menyusun laporan keuangan. Dalam menyusun laporan keuangan tidak mencatat secara real tim. Tidak berpedoman pada prinsip kehati-hatian dalam melakukan pemberian kredit. Lemahnya pengendalian prosedur pemberian kredit. Dan tidak melaksanakan Peraturan Gubernur Bali Nomor 14 Tahun 2017 tentang Peraturan Pelaksana Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2017 tentang Lembaga Perkreditan Desa dalam mengelola likuiditas keuangannya. “Sedangkan bentuk penyimpangan yang terjadi, mulai dari terdapat beberapa kredit fiktif, adanya pencatatan selisih tabungan antara neraca dan daftar nominative, dan adanya kredit macet yang tidak disertai dengan anggunan,” beber Agung. BWN-01

RELATED ARTICLES

Tinggalkan Balasan

- Advertisment -
%d blogger menyukai ini: