Merah yang Menyala di Pesisir Buleleng: Klenteng Ling Gwan Kiong Bersiap Sambut Imlek 2577

Iklan Home Page

Singaraja, Baliwakenews.com

Nuansa merah mulai mendominasi kawasan eks Pelabuhan Buleleng. Lampion-lampion digantung rapi, ornamen khas Tionghoa dipasang dengan penuh ketelitian. Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Seng Hong Bio – Ling Gwan Kiong Singaraja perlahan bersolek, menyambut datangnya Tahun Baru Imlek 2577.

Klenteng berusia sekitar 153 tahun ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan saksi sejarah keberagaman dan harmoni di Buleleng. Setiap jelang Imlek, denyut kebudayaan terasa semakin kuat di tempat ini—menjadi ruang perjumpaan spiritual, tradisi, dan kebersamaan lintas latar belakang.

Ketua TITD Ling Gwan Kiong Singaraja, Wirasanjaya, yang akrab disapa Cong San, menjelaskan bahwa perayaan Imlek tahun ini mengusung tema “Harmoni Imlek Nusantara”. Tema tersebut dipilih sebagai refleksi semangat kebersamaan dan persaudaraan di tengah keberagaman Indonesia.

Baca Juga:  Pasca Maraknya Aksi Balap Liar, Tim Gabungan Gelar Operasi

“Melalui perayaan Imlek ini, kita ingin menjalin hubungan yang harmonis di Nusantara. Tradisi tetap kami jalankan sesuai dengan rangkaian yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.

Rangkaian perayaan Imlek akan dimulai pada 10 Februari 2026 dengan ritual sakral “Pengantaran Dewa Naik”, sebuah tradisi yang menandai persiapan spiritual menjelang pergantian tahun. Sementara itu, puncak perayaan akan berlangsung pada malam 16 Februari 2026, yang diisi dengan sembahyang bersama serta pementasan tarian barongsai yang selalu dinanti umat dan masyarakat.

Baca Juga:  Bupati Sanjaya Apresiasi Yadnya Krama Antosari Selbar

Untuk menjaga kenyamanan dan mengantisipasi kepadatan, pihak klenteng membagi waktu persembahyangan bersama menjadi tiga sesi, yakni pukul 19.00, 20.00, dan 21.00 Wita, sebelum memasuki detik-detik pergantian tahun pada tengah malam.

“Pada momen itu juga akan ada pementasan barongsai untuk penyelaan petasan, lalu dilanjutkan sembahyang memohon petunjuk memasuki Tahun Kuda Api,” tambah Cong San.

Lebih dari sekadar perayaan spiritual, Imlek di Ling Gwan Kiong dimaknai sebagai perayaan tradisi dan budaya. Cong San menegaskan bahwa Imlek bukan semata perayaan keagamaan, melainkan momentum kebudayaan yang terbuka dan inklusif.

Baca Juga:  Pastikan Pelayanan Bersih, Kapolres Buleleng Sidak Pelayanan Publik Di Gedung SPKT Polres Buleleng

Di tengah masyarakat Buleleng yang majemuk, perayaan Imlek diharapkan menjadi perekat kebersamaan dan simbol toleransi yang terus terjaga.

“Harapan kami, harmoni tetap terjalin tanpa memandang suku, agama, dan ras,” pungkasnya.

Saat klenteng tua itu bersolek menyambut tahun baru, merah lampion dan denting persiapan seolah menjadi pesan senyap: bahwa tradisi, bila dirawat dengan rasa hormat dan keterbukaan, akan selalu menemukan tempatnya di tengah zaman dan keberagaman. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR