Mangupura, baliwakenews.com
Berhubungan seks atau persenggamaan merupan kebutuhan setiap insan manusia yang usianya matang untuk berreproduksi. Seks juga merupakan kebutuhan bagi pasangan suami dan istri. Dalam teks Resi Sembina Seks merupakan konsep penyatuan permpuan dan objek pemujaan, kebahagiaan sejati, dan moksa. Seks juga tidak hanya bermakna badan saja, tetapi lebih bagaimana aktivitas tersebut mengantarkan seseorang menuju ruang lebih tinggi dari dimensi manusia itu sendiri.
Seks juga teraktualisasi kedalam berbagai tradisi kehidupan masyarakat di Bali. Hal ini tercermin dalam kegiatan kebudayaan masyarakat Bali seperti, upacara perkawinan adat, pola prinsip dan falsafah hidup masyarakat Bali. Hal ini membentuk sebuah kode etik seksual yang tidak hanya dalam hubungan pada suami istri saja, tapi telah hidup dalam setiap gerak kegiatan manusia Bali. Namun yang lebih menarik dibahas kali ini, ternyata ada mantra-mantra tertentu dalam konsep bersenggama ala keyakinan hindu.
Dari kajian teks yang penulis dapatkan yakni teks Resi Sembina yang dikupas oleh penulis buku I Gede Suwantana dengan judul buku “Seks Sebagai Pendakian Spiritual”. Mengungkap sejumlah mantra saat dalam persenggamaan yang jarang diketahui masyarakat. Dalam kajian teks Resi Sembina melakukan persenggamaan adalah membangkitkan kekuatan para dewa yang bersemayam di setiap bagian tubuh manusia. Pembakitan kekuatan ini memerlukan rapalan mantra tertentu yang diucapkan pada saat puncak persenggamaan.

Adapun mantra-mantra tersebut disebutkan sebagai berikut;
“Syang mantraning susu karwa, ang mantraning puser, tang ring ati, Ong ring ulu, Ong mantraning ngaran, byang ring walakang, ung tanganing kiwan, ang mantraning tangan tengen, nyang bahu ring tengen, yang bahu kiwa, pang ring pundak”.
Artinya;
Mantra Syang organ tubuh kedua susu, mantra Ang di Pusar, mantra Tang di Hati, mantra Ong dibagian kepala/otak, mantra Ong untuk nama. Mantra Byang organ tubuh bagian belakang, mantra Ung bagian tangan kiri, mantra Ang untuk di tangan kanan, mantra Nyang untuk bahu kanan, mantra Yyang untuk bahu kiri dan mantra Pang bagian pundak
Disamping biji mantra tersebut, seorang widagda (orang yang ahli di bidang kama tattwa) juga harus merapalkan beberapa mantra saat proses berhubungan seksual berlangsung.
Mantra pertama sebagai berikut;
“Ong kamar dipati, kama sida ya namah swaha” Kemudian dengan menekan kemaluan si istri dengan jari tengah, sang widagda mengucapkan mantra;
“Ong Kusumayuda ya namah swaha”
Kembali ke kemaluan si istri di tekan dengan jari tengah dan mengucapkan mantra ;
“Ong manmata ya namah swaha”
Selanjutnya ibu jari dimaksukan kedalam kemaluan si istri serta mengucapkan mantra untuk kemaluan sang widagda sendiri dengan mantra ;
“Ong makara dwaja ya namah wicet swaha”
Penis kemudian dimasukan kedalam vagina serta mengucapkan mantra;
“Ong nama siwa dibio guru byo namaskara”
Mantra yang diucapkan ini agar dikabulkan. Tak dijelaskan secara rinci untuk apa permohonan tersebut dalam. Teks Resi Sembina. Namun mantra tersebut dalam tesk Resi Sembina diucapkan karena telah mengikuti Kama Tattwa. (Tim Baliwakenews)

































