Bali, baliwakenews.com
Sistem pernikahan nyentane atau pakidih merupakan tradisi dalam masyarakat Bali di mana laki-laki yang menikah pindah ke keluarga pihak perempuan, mengikuti garis keturunan istrinya. Meski dianggap sebagai solusi untuk mempertahankan garis keturunan perempuan, praktik ini memiliki berbagai tantangan sosial yang jarang dibicarakan.
Tekanan Sosial bagi Pria yang “Nyentane“
Dalam budaya Bali yang masih kental dengan sistem patrilineal, di mana garis keturunan biasanya mengikuti pihak laki-laki, pria yang memilih nyentane sering menghadapi stigma sosial. Mereka dianggap tidak mampu menjalankan peran tradisional sebagai kepala keluarga dan bahkan bisa dicap sebagai “kurang mandiri” atau “tidak berdaya”. Tekanan ini sering kali datang dari keluarga sendiri maupun lingkungan sosialnya.
Konflik Keluarga dan Warisan
Dalam beberapa kasus, pria yang nyentane mengalami kesulitan dalam hal hak waris dari keluarga asalnya. Karena telah bergabung dengan keluarga istrinya, ia sering kehilangan hak atas harta orang tuanya, sementara di pihak istri, ia belum tentu mendapatkan hak yang setara. Konflik ini bisa memicu ketegangan antar keluarga dan bahkan menyebabkan perpecahan.
Beban Ganda bagi Perempuan
Sistem ini juga tidak selalu menguntungkan bagi perempuan. Meskipun secara teori perempuan yang mengambil nyentane dapat mempertahankan garis keturunannya, kenyataannya banyak dari mereka harus menanggung beban ganda. Mereka diharapkan tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu, sementara suami mereka bisa mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan peran baru dalam keluarga istri.
Dinamika Rumah Tangga dan Perceraian
Ketidakseimbangan peran dalam rumah tangga nyentane sering kali menjadi pemicu konflik rumah tangga. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pria yang merasa kehilangan identitas dan perannya dalam keluarga lebih rentan mengalami tekanan psikologis, yang pada akhirnya bisa berujung pada perceraian.
Masa Depan Sistem Nyentane
Seiring perubahan zaman dan berkembangnya pola pikir masyarakat Bali, sistem nyentane mulai mengalami pergeseran. Beberapa keluarga lebih terbuka dalam menerima peran gender yang lebih fleksibel, tetapi tantangan sosial dan budaya masih menjadi hambatan besar bagi pasangan yang menjalani pernikahan dengan sistem ini.
Tradisi yang telah mengakar dalam budaya Bali ini masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat, terutama bagi generasi muda yang ingin tetap menghormati adat tetapi juga menginginkan kebebasan dalam menentukan kehidupan rumah tangga mereka. BWN-01





























