Lima Sisi Gelap Sistem Pernikahan “Nyentane” di Bali yang Perlu Diketahui

Iklan Home Page

Bali, baliwakenews.com

Sistem pernikahan nyentane atau pakidih merupakan tradisi dalam masyarakat Bali di mana laki-laki yang menikah pindah ke keluarga pihak perempuan, mengikuti garis keturunan istrinya. Meski dianggap sebagai solusi untuk mempertahankan garis keturunan perempuan, praktik ini memiliki berbagai tantangan sosial yang jarang dibicarakan.

Tekanan Sosial bagi Pria yang “Nyentane

Dalam budaya Bali yang masih kental dengan sistem patrilineal, di mana garis keturunan biasanya mengikuti pihak laki-laki, pria yang memilih nyentane sering menghadapi stigma sosial. Mereka dianggap tidak mampu menjalankan peran tradisional sebagai kepala keluarga dan bahkan bisa dicap sebagai “kurang mandiri” atau “tidak berdaya”. Tekanan ini sering kali datang dari keluarga sendiri maupun lingkungan sosialnya.

Baca Juga:  Warga Kanada Bawa Pisau di Kuta Utara Ternyata Investor Properti 

Konflik Keluarga dan Warisan

Dalam beberapa kasus, pria yang nyentane mengalami kesulitan dalam hal hak waris dari keluarga asalnya. Karena telah bergabung dengan keluarga istrinya, ia sering kehilangan hak atas harta orang tuanya, sementara di pihak istri, ia belum tentu mendapatkan hak yang setara. Konflik ini bisa memicu ketegangan antar keluarga dan bahkan menyebabkan perpecahan.

Beban Ganda bagi Perempuan

Sistem ini juga tidak selalu menguntungkan bagi perempuan. Meskipun secara teori perempuan yang mengambil nyentane dapat mempertahankan garis keturunannya, kenyataannya banyak dari mereka harus menanggung beban ganda. Mereka diharapkan tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu, sementara suami mereka bisa mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan peran baru dalam keluarga istri.

Baca Juga:  Keren, Anak Usia Enam Tahun Kini Bisa Gunakan "Autogate" Imigrasi

Dinamika Rumah Tangga dan Perceraian

Ketidakseimbangan peran dalam rumah tangga nyentane sering kali menjadi pemicu konflik rumah tangga. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pria yang merasa kehilangan identitas dan perannya dalam keluarga lebih rentan mengalami tekanan psikologis, yang pada akhirnya bisa berujung pada perceraian.

Masa Depan Sistem Nyentane

Seiring perubahan zaman dan berkembangnya pola pikir masyarakat Bali, sistem nyentane mulai mengalami pergeseran. Beberapa keluarga lebih terbuka dalam menerima peran gender yang lebih fleksibel, tetapi tantangan sosial dan budaya masih menjadi hambatan besar bagi pasangan yang menjalani pernikahan dengan sistem ini.

Baca Juga:  Gemakan Keberagaman Budaya, Wali Kota Jaya Negara Lepas Parade Nusantara Imlek Tahun 2025

Tradisi yang telah mengakar dalam budaya Bali ini masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat, terutama bagi generasi muda yang ingin tetap menghormati adat tetapi juga menginginkan kebebasan dalam menentukan kehidupan rumah tangga mereka. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR