Komitmen Pembiayaan Syariah ISEF 2026 Tembus Rp27,43 Triliun, UMKM Hijau Bali Dapat Apresiasi BI

Iklan Home Page

Jakarta, Baliwakenews.com

Bank Indonesia (BI) memperkuat sinergi pembiayaan syariah untuk mendorong transformasi ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 Tahun 2026, total komitmen kesepakatan pembiayaan dan perdagangan syariah mencapai Rp27,43 triliun. Di tengah penguatan tersebut, inovasi UMKM hijau binaan Bank Indonesia Provinsi Bali turut mendapat apresiasi nasional.

Apresiasi diberikan kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali melalui Program Inovasi UMKM Hijau Bali Tahun 2026. Program ini dinilai berhasil menerapkan praktik bisnis hijau yang sejalan dengan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif serta berkelanjutan.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan ekonomi syariah tidak hanya berorientasi pada peningkatan pembiayaan, tetapi juga mendorong transformasi model bisnis UMKM agar lebih ramah lingkungan, produktif, dan memiliki daya saing.

Pembiayaan Syariah Jadi Pengungkit Industri Halal

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro menegaskan pentingnya akses permodalan untuk meningkatkan daya saing industri halal. Hal tersebut disampaikan saat membuka Business Deals Ceremony Pembiayaan dan Perdagangan Syariah di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026).

Menurutnya, penguatan pembiayaan syariah harus terhubung langsung dengan sektor riil agar mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam ekosistem ekonomi syariah. Indonesia bahkan berada di posisi pertama untuk sektor modest fashion, peringkat ketiga pada makanan halal serta media dan rekreasi, dan peringkat keempat untuk farmasi dan kosmetik.

Baca Juga:  Badung Sosialisasikan Peran Jaksa Selaku Pengacara Negara

“Posisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan untuk memperluas akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha. Dukungan permodalan diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, serta memperkuat daya saing produk halal Indonesia, ” ujarnya.

Solikin menyoroti tiga prioritas pengembangan pembiayaan syariah, yakni memperluas akses pembiayaan bagi sektor unggulan, meningkatkan inklusi keuangan syariah bagi UMKM, serta memperkuat sinergi antara otoritas, industri keuangan, dan pelaku usaha.

Pembiayaan Perbankan Syariah Tumbuh 11,61 Persen

Penguatan pembiayaan tersebut didukung kinerja positif industri perbankan syariah nasional.

Hingga Agustus 2026, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 11,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp748,7 triliun. Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) gross tetap terjaga pada level 2,3 persen.

Data tersebut menunjukkan adanya ruang untuk memperluas pembiayaan kepada sektor produktif, terutama industri halal dan UMKM yang membutuhkan dukungan modal untuk meningkatkan kualitas produk, kapasitas usaha, serta jangkauan pemasaran.

Dalam rangkaian ISEF 2026, implementasi program SAPA SYARIAH (Sinergi Perdagangan dan Pembiayaan Syariah) serta PINISI (Percepatan Intermediasi Indonesia dan Percepatan Intermediasi Nasional) turut memperkuat konsolidasi kerja sama pembiayaan dan perdagangan.

Total komitmen kesepakatan yang dihimpun mencapai Rp27,43 triliun, mencakup pembiayaan proyek strategis sebesar Rp19,40 triliun, pasar uang dan valas syariah sekitar Rp5,32 triliun, serta pembiayaan korporasi halal lebih dari Rp2,2 triliun.

Baca Juga:  Pegadaian Perpanjang Program Gadai Tanpa Bunga Bantu Masyarakat Di Tengah Pandemi

Kesepakatan lainnya meliputi Letter of Intent (LoI) kerja sama UMKM dengan pembeli sekitar Rp9,78 miliar, pembiayaan UMKM dan startup halal sebesar Rp499,75 miliar, serta blended finance melalui Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) senilai Rp4,45 miliar.

Besarnya komitmen tersebut memperlihatkan upaya mempertemukan kebutuhan pembiayaan dengan peluang perdagangan, sekaligus memperkuat keterhubungan antara lembaga keuangan dan sektor usaha.

UMKM Hijau Bali Tampilkan Inovasi Pengolahan Limbah

Di tingkat daerah, komitmen penguatan ekonomi syariah tercermin melalui keberhasilan Program Inovasi UMKM Hijau Bali Tahun 2026 yang dikembangkan KPwBI Provinsi Bali.

Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia memberikan apresiasi atas implementasi praktik bisnis hijau melalui program tersebut. Sebagai bentuk penghargaan sekaligus contoh praktik baik bagi kantor perwakilan BI di daerah lainnya, UMKM binaan KPwBI Bali, DINZ Handmade Bali, memperoleh fasilitas showcasing khusus dalam rangkaian ISEF 2026 di Jakarta.

DINZ Handmade Bali menghadirkan produk-produk kreatif yang memanfaatkan limbah produksi untuk diolah kembali menjadi barang baru bernilai komersial. Pelaku usaha ini juga menggunakan pewarna alami dalam produknya dan berkolaborasi dengan UMKM binaan Bank Indonesia Provinsi Bali lainnya untuk mengembangkan pemanfaatan limbah produksi.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa praktik ramah lingkungan dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan usaha, bukan sekadar upaya mengurangi sampah. Limbah yang sebelumnya berpotensi tidak terpakai dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan membuka peluang pasar baru.

Baca Juga:  Kukuhkan Kepengurusan Tanam Tuwuh, Wagub Bali Giri Prasta Minta Penanaman Budi Pekerti Jadi Pondasi Menuju Bali Adiluhung

Selain berinovasi dalam pengolahan bahan, DINZ Handmade Bali turut memberdayakan kelompok perempuan lokal. Keterlibatan masyarakat tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja.

BI Bali Perkuat Ekosistem UMKM Hijau

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, melalui penguatan program UMKM hijau menegaskan arah pengembangan ekonomi daerah yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Ke depan, KPwBI Provinsi Bali akan terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem UMKM hijau di Bali. Langkah ini diharapkan memperkuat kapasitas pelaku usaha dalam mengembangkan produk inovatif, meningkatkan nilai tambah, dan memperluas akses pasar.

Apresiasi dalam ISEF 2026 sekaligus menempatkan inovasi UMKM hijau Bali sebagai salah satu contoh pengembangan usaha yang menghubungkan prinsip ekonomi syariah, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Tantangan berikutnya adalah memastikan praktik bisnis hijau tersebut dapat berkembang lebih luas, memiliki pasar yang berkelanjutan, dan memperoleh dukungan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan usaha.

Dengan demikian, sinergi pembiayaan syariah dan inovasi UMKM hijau diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing industri halal nasional, tetapi juga menciptakan pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR