Denpasar, baliwakenews.com
Siswi SMA berinisial RV (17) yang dianiaya dua orang Satgas Himpunan Keluarga Matawi Amahu Sumba Timur (Hikmast) di lapangan futsal My Stadium, Teuku Umar Barat, Denpasar Barat, berharap pelakunya dihukum berat. Akibat ditendang dan pukul oleh para pelaku, tangan kiri RV patah dan harus dioperasi hingga menghabiskan biaya puluhan juta rupiah.
Tak hanya itu, kedua orang dan keluarga besarnya pun tak terima dengan kejadian yang dialami RV. Mereka berharap agar para pelaku mendapatkan hukuman setimpal. “Kami juga meminta Satgas Hikmast dibubarkan. Karena kerap membuat ulah dan para satgasnya arogan,” kata Franky dan Anna, ibu serta ayah korban RV, pada Selasa (15/3).
Menurut Franky, kronologi kasus yang terjadi pada Minggu (6/3) itu, berawal saat RV datang ke lokasi untuk menyaksikan tim futsal ayahnya bertanding. “Saya dan ibunya tidak menemani RV karena sedang ada kesibukan di luar Bali. Dan putri kami mewakili ke lokasi kejuaraan futsal,” tuturnya.
Menurut Franky, saat itu akhirnya tim futsalnya menang. Usai pertandingan korban yang datang bersama saudara sepupunya hendak masuk ke dalam lapangan melalui pintu barat untuk berfoto.
Namun, yang diberikan untuk masuk hanya sepupunya saja. Sementara korban dilarang oleh anggota satgas bernama Andy yang saat ini sudah ditetapkan tersangka oleh Polresta Denpasar. Setelah terjadi perdebatan akhirnya RV diizinkan masuk. Hanya saja tangganya ditarik dengan kasar. Kemudian, korban pergi ke pintu timur tapi tetap diikuti samapi dia bertemu Ketua Satgas bernama Alex. Alex mengaku kepada koban bahwa dirinya sebagai ketua, dan meminta korban diam. Jika tidak Alex mengancam akan meremas mulut korban.
Karena kembali terjadi cekcok, maka datang anggota datgas lain bernama Ruben yang juga sudah ditetapkan tersangka langsung mendorongnya diikuti oleh Andy. Bahkan mereka menendang korban sampai tangan kirinya tersangkut di jaring lapangan hingga patah. RV pun menangis histeris karena kesakitan, tapi Alex disebut terus mencarinya dan mengatakan agar korban tidak melapor ke bapaknya.
Bahkan Bupati Sumba Timur yang hadir di acara itu mendengar tangisan korban, namun dicegah untuk mendekat oleh Satgas dengan mengatakan semua baik-baik saja. Sehingga Franky meminta saudaranya melapor polisi sampai akhirnya Ruben dan Andy ditangkap. BWN-01































