Denpasar, baliwakenews.com – Kasus infeksi menular seksual (IMS) di kalangan remaja Bali menunjukkan lonjakan signifikan sepanjang tahun 2024. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Bali menjadi salah satu dari tiga provinsi dengan angka IMS tertinggi pada kelompok usia 15-19 tahun, bersama DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Sepanjang 2024, Kemenkes mencatat 4.589 kasus IMS secara nasional pada kelompok usia remaja, naik tajam dari 3.222 kasus pada 2023 dan 2.569 kasus pada 2022. Dari jumlah tersebut, sekitar 48 persen merupakan kasus sifilis. Bali menjadi salah satu daerah dengan kontribusi signifikan terhadap angka tersebut, seiring meningkatnya jumlah tes yang dilakukan.
“Peningkatan jumlah tes memang membuka temuan kasus-kasus tersembunyi, termasuk di Bali. Namun, ini juga menunjukkan masih rendahnya pemahaman remaja terkait seksualitas dan perilaku seksual yang aman,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Ina Agustina Isturini, Jumat (5/7).
Menurutnya, lonjakan terjadi tidak semata karena skrining yang lebih gencar — dari 85.574 tes IMS pada 2022 menjadi 291.672 tes pada 2024 — tetapi juga karena terbatasnya edukasi dan akses layanan kesehatan reproduksi remaja, terutama di kawasan wisata seperti Bali yang memiliki interaksi sosial tinggi di kalangan usia muda.
Sejumlah tenaga kesehatan di Denpasar dan Badung menyebut bahwa banyak remaja datang ke fasilitas kesehatan dengan kondisi sudah mengalami gejala lanjut dari IMS, terutama sifilis, karena malu atau tidak tahu ke mana harus mencari bantuan. Mereka juga menyebut stigma sebagai penghambat utama upaya deteksi dini.
“Saat ini kami melihat kecenderungan peningkatan kasus sifilis di kalangan pelajar dan remaja putus sekolah. Mereka cenderung mengakses informasi dari media sosial yang tidak semuanya akurat,” ujar seorang tenaga medis di Puskesmas di Denpasar yang enggan disebutkan namanya.
Kemenkes mendorong pemerintah daerah, termasuk di Bali, untuk segera memperluas layanan kesehatan remaja yang bersifat ramah, gratis, dan mudah diakses. Edukasi seksual berbasis sekolah juga diusulkan diperkuat dengan materi yang sesuai perkembangan zaman dan budaya lokal.
“Remaja harus diberi ruang untuk mengakses layanan tanpa stigma dan dengan informasi yang benar. Ini krusial untuk menekan laju IMS, termasuk di Bali,” tegas dr. Ina.
Selain itu, keterlibatan tokoh masyarakat, pendidik, dan orang tua di Bali dianggap penting dalam membentuk lingkungan yang mendukung kesehatan seksual remaja. Pemerintah daerah diharapkan aktif menggandeng komunitas dan organisasi kepemudaan untuk menjangkau kelompok remaja yang rentan. BWN-01

































