Tabanan, baliwakenews.com
Kegaduhan dalam tubuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tabanan semakin memuncak. Menjelang pemungutan suara pada 27 November 2024 mendatang, partai yang dikenal sebagai “Banteng” ini dihadapkan pada krisis internal yang serius.
Sejumlah pengurus anak ranting di Desa-desa Kecamatan Kediri, Tabanan, melayangkan surat pengunduran diri secara massal. Keputusan ini dipicu oleh sejumlah masalah internal yang tak kunjung teratasi, menambah masalah yang kini membelit PDIP Tabanan.
Mundurnya pengurus anak ranting dari beberapa desa di Kecamatan Kediri, seperti Desa Pandak Bandung dan Desa Belalang, tidak hanya menjadi pukulan telak bagi partai, tetapi juga mencerminkan ketidakpuasan yang meluas di kalangan akar rumput.
Menurut informasi yang dihimpun, penyebab utama pengunduran diri ini adalah ketidakmampuan PDIP Tabanan dalam mengakomodasi aspirasi para kadernya, khususnya di tingkat anak ranting. Selain itu, dugaan pengabaian terhadap tokoh-tokoh potensial di Kecamatan Kediri, yang merupakan salah satu daerah dengan jumlah pemilih terbesar di Kabupaten Tabanan, semakin memperburuk situasi.
Anak Agung Made Adi, Ketua Anak Ranting Desa Pandak Bandung yang juga mengundurkan diri, dengan tegas menyatakan bahwa dirinya merasa tidak lagi dapat melanjutkan pengabdiannya setelah 25 tahun berjuang untuk partai. “Situasi di PDIP Tabanan tidak kondusif,” katanya.
Dia menegaskan, salah satu alasan utamanya adalah minimnya perhatian terhadap tokoh-tokoh lokal di Kediri. Adi mengungkapkan, meskipun Kecamatan Kediri memiliki basis pemilih yang besar, tokoh-tokoh yang seharusnya diberdayakan justru diabaikan. “Tokoh seperti I Made Edi Wirawan yang telah mendampingi I Komang Gede Sanjaya selama 3,5 tahun di periode pertama, justru tidak dilibatkan lagi,” tambahnya.
Tidak hanya soal pengabaian terhadap tokoh lokal, pengunduran diri ini juga dipicu oleh kebijakan sepihak yang diterapkan oleh PDIP Tabanan, seperti penggantian saksi di tingkat TPS menjelang hari-H pemungutan suara tanpa penjelasan yang jelas. “Semua saksi-saksi yang ada di anak ranting diganti mendadak. Alasan apa yang melatarbelakangi itu, saya tidak tahu,” ungkap Made Adi.
Keputusan mendadak ini jelas menambah ketidakpercayaan dan kekecewaan yang sudah ada..Kekacauan internal ini tentu menjadi sinyal bahaya bagi PDIP Tabanan, terutama menjelang pemilu yang semakin dekat. Bagaimana mungkin sebuah partai yang menghadapi masalah internal yang serius dapat menjaga konsolidasi dan memenangkan hati rakyat? Dengan hilangnya kader-kader terbaik di tingkat bawah, PDIP Tabanan tampaknya harus segera melakukan introspeksi mendalam agar tidak terjerumus ke dalam kekalahan telak pada Pemilu yang akan datang. BWN-01
































