Mangupura, baliwakenews.com
Kawasan Pantai Timur Kedonganan mimili potensi luar biasa yang belum tergarap secara optimal. Terutama potensi alam hutan mangrove beserta biota laut di dalamnya. Potensi ini disadari betul oleh Desa Adat Kedonganan.
Karenanya kini di era kepengurusan
Bendesa Adat Dr. Wayan Mertha, SE, M.Si potensi ini mulai akan digarap.
Diawali dengan penanaman sebanyak 2.500 pohon mangrove, Selasa (21/7).
Penanaman ribuan mangrove ini melibatkan para kelompok nelayan yang ada di sana. Didukung pula oleh pihak Kelurahan, LPM, para mahasiwa Unud, para penglingsir serta warga setempat.
Menurut Mertha ada tiga kelompok nelayan yang beraktivitas di pantai timur. Yakni Kelompok Nelayan Segara Ayu, Ulam Sari, serta Wana Segara kertih. Mereka inilah nantinya sebagai motor penggerak lokomotif pengembangan mangrove ke depan. Sebab daerah Timur Kedonganan merupakan kawasan yang memiliki potensi luar biasa.
“Selama ini baru dimanfaatkan hanya untuk aktivitas nelayan. Padahal, potensi hutan mangrove seluas 1,3 hektar yang ada di kawasan ini, sangat potensial dikembangkan,” ujarnya.
Dengan dikembangkannya kawasan ini menjadi Eko Wisata diharapkan nantinya bisa meningkatkan sektor ekonomi masyarakat setempat.
Ditegaskannya, pengembangan kawasan mangrove untuk pariwisata ini akan memberikan nuansa berbeda dengan apa yang ada di pantai Barat Kedonganan.
“Kalau di pantai Barat mengandalkan pantai dengan pasir putih serta kafe ikan bakarnya. Sedangkan untuk di pantai Timur ini nantinya lebih kepada pelestarian alam,” beber Mertha sembari mengungkapkan, keberadaan hutan mangrove dengan biotanya lautnya akan menjadi andalan dalam pengembangan nanti.
Dimana tentunya mengedepankan kenyamanan dan keamanan alam dan konservasi lingkungan.
“Yang menjadi basisnya adalah pariwisata lingkungan menonjolkan kearifan lokal yang ada di sana.
Ekowisata hutan mangrove ini, akan menggabungkan aktivitas nelayan tradisional dengan pariwisata,” jelasnya.
Pengembangan Eko Mangrove ini lanjut dia nantinya akan mengedepankan aktivitas budaya, terutama nelayan tradisional menjadi daya tarik utama.
Selain itu aktivitas pariwisata yang dikembangkan akan tetap mempertahankan kelestarian mangrove di sana.
“Karenanya mengawali program ini, kami bersama berbagai komponen, baik kelurahan, LPM dan kelompok nelayan melakukan penanaman mangrove di kawasan pantai timur ini,” paparnya sembari menambahkan sebanyak 2500 bibit mangrove ditanam dalam aksi peduli lingkungan tersebut.
Program ini juga bertujuan untuk betul betul memberdayakan Desa Adat agar bisa memberikan kesejahteraan bagi krama Kedonganan, utamanya yang ada di sekitar kawasan tersebut. BWN-04

































