Gaji UMR Hanya Cukup untuk Diri Sendiri, Tidak untuk Kebutuhan Keluarga

Iklan Home Page

baliwakenews.com – Upah Minimum Regional (UMR) yang ditetapkan setiap tahun seharusnya menjadi jaring pengaman bagi pekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup layak. Namun, kenyataannya, banyak pekerja mengeluhkan bahwa gaji UMR hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi, sementara untuk menghidupi keluarga masih jauh dari kata cukup.

Dalam beberapa tahun terakhir, biaya hidup terus meningkat akibat inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Harga pangan, transportasi, tempat tinggal, hingga pendidikan terus mengalami lonjakan, tetapi kenaikan UMR sering kali tidak sebanding dengan kenaikan biaya tersebut.

Seorang karyawan perusahaan di Denpasar, Agung (30), mengungkapkan, dengan gaji UMR sebesar Rp3,2 juta per bulan, ia hanya bisa memenuhi kebutuhan makan, transportasi, dan tempat tinggal untuk dirinya sendiri. “Kalau untuk hidup sendiri masih cukup, tapi kalau sudah menikah dan punya anak, rasanya sangat berat. Harga kos atau ngontrak rumah mahal, biaya sekolah juga tinggi,” ujarnya.

Baca Juga:  Salurkan 5 Juta Masker KSP, GP Ansor Dan Aice, Putus Penyebaran Covid-19

Bagi pekerja yang telah berkeluarga, kondisi ini semakin sulit. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga riset ekonomi, kebutuhan hidup layak bagi keluarga kecil dengan satu anak di kota Denpasar bisa mencapai Rp7 juta per bulan. Ini berarti, jika hanya mengandalkan gaji UMR, seorang pekerja harus mencari penghasilan tambahan atau pasangannya juga harus bekerja.

Baca Juga:  Gotong Royong Sukseskan Vaksinasi Covid-19, BPJS Kesehatan Harap Peran Masyarakat

Dewi (28), seorang karyawan hotel di Badung, mengatakan, dia dan suaminya sama-sama bekerja dengan gaji UMR, tetapi tetap kesulitan mengatur keuangan keluarga. “Kami harus menghemat sebisa mungkin, tidak bisa punya tabungan yang cukup, dan sering kali harus mencari kerja sampingan,” katanya.

Banyak pihak mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi kembali terhadap kebijakan UMR agar lebih sesuai dengan kebutuhan hidup pekerja, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Baca Juga:  UMK Bali 2025, Cukupkah untuk Menutup Tingginya Biaya Hidup di Pulau Seribu Pura ?

Ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Budi Santoso, menilai bahwa pemerintah perlu mempertimbangkan mekanisme penentuan UMR yang lebih realistis. “Seharusnya ada formula yang mempertimbangkan biaya hidup riil di setiap daerah, bukan hanya berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kebijakan tambahan seperti subsidi perumahan, pendidikan, dan transportasi bagi pekerja berpenghasilan rendah agar mereka tidak semakin terpuruk. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR