Fenomena “New Moon”, Pasang Puncak Ancam Pesisir Bali Sepekan ke Depan

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Menjelang libur panjang akhir Oktober, suasana di sejumlah pesisir Bali mulai berubah lebih waspada. Nelayan di Tanjung Benoa, Jimbaran, hingga Sanur tampak mulai memindahkan perahu mereka ke titik yang lebih aman. Bukan tanpa alasan. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengumumkan potensi pasang maksimum yang akan melanda pesisir Bali pada 21–25 Oktober 2025, akibat fenomena fase bulan baru (new moon).

Kepala BBMKG Denpasar, Cahyo Nugroho, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan kondisi alamiah ketika tarikan gravitasi bulan dan matahari bekerja searah, sehingga ketinggian air laut meningkat lebih kuat dari biasanya.

Baca Juga:  The Nusa Dua Jadi Tuan Rumah  Komgres APAO ke-39

Tujuh wilayah pesisir yang diminta meningkatkan kewaspadaan meliputi:
• Jembrana bagian selatan,
• Tabanan bagian selatan,
• Badung (Kuta, Tanjung Benoa, Jimbaran),
• Kota Denpasar,
• Gianyar,
• Klungkung selatan,
• Karangasem selatan.
Di kawasan seperti Tanjung Benoa dan Kuta, pasang maksimum tidak hanya berdampak pada aktivitas wisata bahari, tetapi juga akses mobilitas perahu nelayan tradisional, serta fasilitas bisnis di bibir pantai. Sejumlah pengusaha watersport dikabarkan mulai melakukan penyesuaian jadwal tur laut.

Baca Juga:  Hadiri Pujawali Pura Pasek Bendesa, Suyasa Apresiasi Krama Ajegkan Adat dan Budaya

Menurut Prakirawan BBMKG, I Wayan Wirata, gelombang di perairan selatan Bali diprediksi mencapai 1,0–2,5 meter (kategori sedang), sementara utara Bali relatif aman di 0,5–1,25 meter. Ia menegaskan, kombinasi pasang puncak dan energi gelombang dapat meningkatkan risiko banjir rob dan hempasan air laut ke permukiman atau jalan tepi pantai yang rendah elevasinya.

BMKG mengimbau masyarakat agar:
• menunda aktivitas berisiko tinggi di laut,
• mengamankan perahu dan logistik pesisir,
• dan rutin memantau pembaruan informasi melalui kanal resmi BBMKG.

Baca Juga:  PDP Covid-19 Meninggal di Badung Bertambah

Fenomena pasang seperti ini umum terjadi dua kali dalam sebulan mengikuti siklus bulan. Namun periode Oktober dikenal sebagai masa transisi cuaca dengan intensitas maritim cukup ekstrem, sehingga kewaspadaan lintas sektor, khususnya nelayan tradisional dan pelaku wisata bahari menjadi penting. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR