Mangupura, baliwakenews.com
Dampak pembatasan ruang udara di kawasan Timur Tengah mulai terasa hingga ke Bali. Sejumlah pesawat maskapai dari kawasan tersebut terpaksa tertahan dan masih parkir di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai akibat pembatasan jalur penerbangan menuju wilayah Timur Tengah.
Hingga Minggu (8/3/2026), tercatat empat pesawat maskapai Timur Tengah masih terparkir di apron Bandara Ngurah Rai. Pesawat tersebut masing-masing milik Etihad Airways tujuan Abu Dhabi, dua pesawat Qatar Airways tujuan Doha, serta satu pesawat Emirates tujuan Dubai.
Kondisi ini terjadi setelah sejumlah ruang udara di kawasan Timur Tengah ditutup sehingga mempengaruhi rute penerbangan internasional, termasuk dari dan menuju Bali. General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati, menjelaskan bahwa hingga saat ini penerbangan dari Bali menuju Timur Tengah masih sangat terbatas.
“Kalau kita lihat dari NOTAM, ruang udara di Timur Tengah terbagi menjadi beberapa zona yang ditutup. Jika zona itu ditutup, maka tidak ada satu pun penerbangan sipil yang bisa melewati wilayah tersebut,” ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, Bandara Ngurah Rai saat ini hanya melayani sekitar satu penerbangan per hari dari dan menuju kawasan Timur Tengah. Dalam sepekan terakhir, sekitar 35 penerbangan rute Timur Tengah terdampak, dengan rata-rata lima penerbangan per hari mengalami pembatalan atau penyesuaian jadwal.
Pembatasan ruang udara tersebut membuat maskapai harus menghitung ulang rute serta kapasitas penerbangan mereka. Nugroho menjelaskan bahwa jika sebelumnya maskapai mampu mengoperasikan sekitar 115 penerbangan per hari secara global, pembatasan ruang udara dapat menurunkan jumlah tersebut menjadi sekitar 70 bahkan hanya 50 penerbangan.
“Dengan adanya pembatasan itu, maskapai harus menghitung ulang kapasitas penerbangannya karena jumlah pesawat yang bisa melintasi ruang udara tersebut menjadi terbatas,” jelasnya.
Kondisi ini membuat sejumlah pesawat yang sudah berada di Bali tidak langsung diterbangkan kembali ke tujuan di Timur Tengah karena mempertimbangkan kepadatan ruang udara serta faktor keselamatan penerbangan.
“Pesawat yang tadinya ada di sini tidak diterbangkan karena percuma juga kalau di sana kapasitasnya penuh atau justru berisiko terhadap keamanan dan keselamatan penerbangan,” katanya.
Meski terdapat beberapa pesawat yang parkir, pihak bandara memastikan kapasitas apron Bandara Ngurah Rai masih mencukupi sehingga tidak mengganggu operasional penerbangan lainnya.
Sementara itu, jumlah penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan diperkirakan mencapai lebih dari 17 ribu orang. Namun angka ini belum dapat dipastikan secara akurat karena sebagian penumpang kemungkinan memilih rute alternatif.
Sebagian penumpang diketahui mengalihkan perjalanan menuju Bali melalui berbagai kota transit seperti Turki, Kuala Lumpur, Singapura, Hong Kong, China, maupun Thailand sebelum melanjutkan penerbangan ke Denpasar.
Meski terjadi pembatasan penerbangan, Nugroho menilai dampaknya terhadap kunjungan wisatawan ke Bali tidak terlalu signifikan. Hal ini karena pasar wisatawan mancanegara ke Bali masih didominasi wisatawan asal Australia yang mencapai sekitar 75 hingga 80 persen dari total kunjungan.
Bahkan berdasarkan data yang dihimpun, jumlah penumpang internasional di Bandara Ngurah Rai masih menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hingga Minggu kemarin, pembatalan penerbangan masih terjadi. Pada hari tersebut hanya satu penerbangan Emirates yang tetap beroperasi dari Denpasar menuju Dubai, sementara satu penerbangan lainnya dibatalkan.
Menurut Nugroho, kondisi ini sangat bergantung pada situasi ruang udara di kawasan Timur Tengah serta kebijakan otoritas penerbangan di wilayah tersebut. BWN-04


































