Denpasar, baliwakenews.com
Wacana dari Kementerian Pendidikan mulai semester genap sekolah dari SD sampai SMA melakukan pembelajaran tatap muka langsung, menurut Akademis Universitas Hindu Indonesia (Unhi), Drs. I Putu Sarjana, MSi., masih perlu kajian. Pasalnya, meski telah terjadi budaya baru ‘New Normal’, namun kasus penyebaran Covid-19 terus meningkat termasuk di Bali.
Lebih lanjut Dekan Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan Hindu UNHI Denpasar tersebut saat ditemui Senin (21/12) di kampus UNHI mengatakan saat ini ‘new normal’ sudah menjadi budaya di masyarakat. Dengan kebiasaan- kebiasaan baru yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. “Budaya baru menggunakan masker sudah dimulai dari anak-anak. Budaya ini sudah tumbuh dalam diri mereka dengan sadar untuk menggunakan masker, tapi bukan berarti anak-anak sudah siap untuk pergi ke sekolah,” tukasnya.
Pasalnya kasus terus meningkat untuk di Bali saja per Minggu (20/12) terjadi penambahan kasus 99 orang, 98 diantaranya adalah transmisi lokal dengan total orang terkonfirmasi positif sejak awal penyebaran Covid-19 di Bali mencapai 16.328 orang, sembuh 14.849 orang (90,94%), dan meninggal 485 orang (2,97%).
Untuk mengantisipasi terus bertambahnya kasus maka masyarakat harus menghindari kerumunan. “Adanya kebijakan pemerintah terkait pembelajaran tatap muka langsung perlu dikaji, jangan sampai sekolah akan menjadi cluster- cluster baru penyebaran Covid-19. Namun anjuran ini memberikan angin segar bagi masyarakat karena orang tua dan juga siswa merasakan kejenuhan dengan sistem belajar daring,” ucap Sarjana. Karena banyak orang tua yang mengalami kesulitan memotivasi anaknya untuk belajar.
Meski demikian bila proses pembelajaran tatap muka memang akan dilaksanakan, ia berharapal proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, kemudian protokol kesehatan juga berjalan baik. “Mungkin kita harus lebih bersabar dan kemudian melihat kondisi di Januari 2021, apakah lebih baik atau penyebaran semakin tinggi. Harus ada kebijakan untuk mencegah terjadinya cluster baru,” tukasnya.
Untuk itu pelaksanaan protokol kesehatan harus dilakukan dengan baik terutama pertama untuk pengecekan suhu tubuh. “Persoalannya apakah semua sekolah mampu membeli alat termoscanner itu. Kemudian hand sanitizer, jadi setiap sekolah harus menyediakan itu dan bagaimana proses protokol kesehatan seperti cuci tangan harus dilakukan,” tandasnya.
Kemudian dikaitkan dengan pertemuan di kelas, bila dilihat angka roombel yang bervariatif mulai 15 – 36 orang, apakah satuan pendidikan sudah mampu mendesain sebuah kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara maksimal. Berapa kali pertemuan harus dirancang untuk itu, sehingga proses pembelajaran di roombel itu terbatas, kemudian menggunakan alat-alat yang dianjurkan untuk protokol kesehatan.
Terkait proses pembelajaran di Unhi dikatakan untuk mahasiswa yang jumlahnya kurang dari 15 masih dilakukan pembelajaran tatap muka. Mahasiswa yang jumlahnya 40 sampai 60 orang per kelas dilakukan pembelajaran daring. “Kalau di perguruan tinggi memang metode pembelajaran banyak mulai dari daring, tugas mandiri, dan tugas lain karena mahasiswa lebih dewasa dibandingkan dengan anak sekolah. Sehingga lebih mudah dalam pengawasan dalam pembelajaran daring,” pungkas Sarjana.*BWN-03


































