Mangupura, baliwakenews.com
Perhelatan Djakarta Warehouse Project 2025 (DWP25) yang kembali digelar di Garuda Wisnu Kencana (GWK) semakin menegaskan posisi Bali sebagai pusat festival dan kreativitas dunia. Sejak Jumat (12/12) sore, ribuan penonton mulai memasuki kawasan GWK, menunjukkan kuatnya daya tarik Pulau Dewata sebagai episentrum industri kreatif regional.
Tahun ini, panggung ikonik Garuda Land hadir dengan konsep baru yang memadukan unsur air dan api—dua elemen yang dekat dengan filosofi alam Bali. Desain dua garuda raksasa yang berdiri di sisi panggung disebut menjadi visual utama yang merepresentasikan perpaduan spiritualitas lokal dengan energi modern musik elektronik.
Brand Manager Ismaya Live, Argi Wibawa, menyebut panggung tersebut sebagai “kanvas raksasa” yang memvisualkan hubungan Bali dengan teknologi pertunjukan modern. “Unsur air melambangkan kesejukan dan spiritualitas Bali, sementara unsur api menggambarkan intensitas festival. Keduanya digabungkan dalam satu identitas panggung yang khas,” ujarnya.
DWP25 tahun ini kembali menjadi katalis bagi ekosistem kreatif Indonesia. Berbagai elemen panggung, mulai dari instalasi visual multilayer, sistem laser, pyro, hingga LED beresolusi tinggi melibatkan talenta teknis dalam negeri. Keterlibatan ini menunjukkan kapasitas pelaku industri kreatif Indonesia yang mampu bersaing dengan festival internasional.
Panggung Garuda Land menampilkan deretan artis global seperti Sammy Virji, Ilan Bluestone, dan Space 92. Namun penyelenggara juga memberi ruang besar bagi musisi Indonesia seperti Franc Fala, Lukas Fran, XYRA, serta Yaksa b2b TJO. Menurut Argi, tampilnya musisi lokal dalam format festival global menjadi momentum penting untuk memperluas eksposur mereka di kancah internasional.
Selama beberapa tahun terakhir, Garuda Land menjadi salah satu panggung festival yang paling sering diabadikan di media sosial. Siluet tebing GWK dan langit Bali menciptakan lanskap visual yang kuat, menjadikan festival ini magnet konten yang turut memberi dampak ke sektor akomodasi, UMKM, transportasi, hingga pekerja kreatif lokal.
Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch. Rossie Andriani, menyebut kolaborasi GWK dan DWP berjalan karena kesesuaian visi. “GWK sudah berstandar internasional dan siap menjadi rumah bagi konser serta festival global. Bali adalah destinasi yang menawarkan pengalaman budaya dan visual yang tidak dimiliki venue lain,” katanya.
Salah satu momen khas DWP25 adalah “Bhinneka Tunggal Ika Moment”, pembukaan yang menggabungkan musik elektronik dengan Tari Kecak Ramayana. Kolaborasi ini menjadi penegas bahwa festival global pun dapat memuat identitas budaya Bali tanpa menghilangkan esensi tradisinya. “Tradisi dan modernitas bisa berjalan berdampingan, dan itu yang ingin kami tampilkan,” ujar Rossie.
Penyelenggara memastikan sejumlah nama besar lain akan diumumkan menjelang hari puncak, termasuk berbagai zona interaktif dan pengalaman imersif khas Ismaya Live.
Dengan perpaduan teknologi, budaya, musik, dan pariwisata, DWP25 kembali mengangkat Bali sebagai pusat ekonomi kreatif global, bukan hanya sebagai lokasi festival, tetapi sebagai ruang di mana inovasi dan identitas lokal bertemu. BWN-04
































