Mangupura, Baliwakenews.com
Pemerintah Kabupaten Badung mulai tancap gas memperkuat pasokan cabai. Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) Badung menyiapkan lahan seluas 42 hektare untuk pengembangan cabai yang tersebar di Kecamatan Mengwi, Abiansemal, dan Petang.
Program yang dilakukan bertahap mulai Agustus hingga Desember 2026 ini ditargetkan mampu menghasilkan 420 ton cabai. Langkah tersebut disiapkan untuk menjaga ketersediaan komoditas sekaligus mengantisipasi potensi kelangkaan dan lonjakan harga, terutama saat musim hujan.
Kepala Diperpa Badung, A.A. Ngurah Raka Sukadana, SP., M.Si., mengatakan produktivitas cabai ditargetkan mencapai sekitar 10 ton per hektare.
“Total target produksi 10 ton per hektare dikali 42 hektare, jadi ditargetkan produksi 420 ton,” kata Raka, Rabu (19/8/2026).
Di Kecamatan Mengwi, pengembangan cabai tersebar di sejumlah lokasi, yakni Kelompok Manik Pertiwi 2 hektare, Subak Perang 2 hektare, Subak Guming 2 hektare, Kelompok Bina Mandiri 2 hektare, Subak Lepud 4 hektare, Subak Babakan 2 hektare, Babakan Sorangan 2 hektare, Tinjak Menjangan 1 hektare, serta Kelompok Tani Merta Nadi 1 hektare.
Sementara di Kecamatan Abiansemal, pengembangan dilakukan di Subak Blahkiuh, Citra, Tanah Putih, dan Umasangiang, masing-masing seluas 2 hektare.
Adapun di Kecamatan Petang, lokasi pengembangan meliputi Subak Wana Sari 5 hektare, Semanik Sari 5 hektare, Sedana Winangun 5 hektare, dan Munduk Samuan 1 hektare.
Salah satu lokasi yang segera melakukan gerakan tanam adalah Subak Lepud, Desa Baha, Mengwi, dengan luas mencapai 4 hektare.
Raka menyebut sarana produksi telah didistribusikan sejak akhir Juli. Saat ini petani masih menjalani proses pembibitan yang membutuhkan waktu sekitar 20–25 hari. Di sisi lain, pengolahan lahan, pemasangan mulsa hingga pemupukan telah dilakukan.
“Rencana tanggal 26 kalau benih sudah siap tanam akan dilaksanakan gerakan tanam cabai,” ujarnya.
Pengembangan di Subak Lepud dilakukan pada delapan munduk. Masing-masing munduk menggarap lahan sekitar 50 are dengan melibatkan sekitar 10 petani.
Dengan demikian, sedikitnya 80 petani akan terlibat dalam pengembangan cabai di lahan seluas 4 hektare tersebut.
Varietas yang digunakan adalah Caliber. Dengan produktivitas yang ditargetkan mencapai 10 ton per hektare, lahan 4 hektare di Subak Lepud diproyeksikan menghasilkan sekitar 40 ton cabai.
Panen diperkirakan berlangsung pada Oktober hingga November 2026.
Diperpa Badung juga mulai memikirkan persoalan setelah panen. Pemerintah daerah menyiapkan skema penyerapan agar produksi petani tidak berhenti pada peningkatan hasil, tetapi juga memiliki kepastian pasar.
Salah satu langkahnya dengan menggandeng Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana untuk membeli hasil panen petani.
“Strategi kami menjalin dan menggandeng kerja sama dengan Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana untuk membeli hasil panen petani, di samping petani menjual ke pengepul maupun langsung memasarkan ke pasar,” terang Raka.
Dengan pengembangan 42 hektare tersebut, Badung tidak hanya mengejar produksi 420 ton, tetapi juga berupaya memperkuat mata rantai pasokan cabai dari tingkat petani hingga pasar. Jika target tercapai, program ini diharapkan menjadi salah satu penyangga pasokan cabai Badung menghadapi periode rawan produksi pada musim hujan. BWN-03

































