Pecatu, baliwakenews.com
Pagi itu, debur ombak di Pantai Nyangnyang terdengar gagah, memecah keheningan tebing karang yang menjulang. Hamparan pasir putih sepanjang hampir tujuh hektar terhampar luas, seakan memanggil siapa saja yang datang untuk duduk, berjalan, atau sekadar menatap samudra tanpa batas. Para wisatawan sudah lama menemukan surga tersembunyi ini, meski harus rela menuruni tebing curam dan jalanan seadanya untuk sampai ke bibir pantai.
Potensi besar itu bukan sekadar ilusi. “Pantai Nyangnyang sudah pernah disurvei saat Sekda Badung masih jadi Kadis PUPR. Luasnya sekitar 7 hektar, potensinya luar biasa. Tinggal dukungan infrastruktur saja,” ujar Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta, dengan nada penuh harap.
Tak jauh dari Nyangnyang, Pantai Bingin menyimpan cerita lain. Beberapa bulan terakhir, kawasan ini ramai diberitakan karena pembongkaran bangunan ilegal yang menutupi pesisir. Kini, Bingin sedang bersiap menata ulang wajahnya, membuang masa lalu yang semrawut demi menyambut masa depan yang lebih teratur.
“Sudah ada pembicaraan dengan Bupati Badung. Harapannya, Bingin bisa diarahkan menjadi destinasi wisata yang lebih tertata,” ungkap Sumerta. Di pantai ini, suara ekskavator sesekali terdengar bersahut dengan debur ombak. Sebuah simbol, bahwa alam dan manusia sedang berusaha menemukan keseimbangannya kembali.
Lalu ada Dreamland, nama yang begitu puitis, seakan menjanjikan surga kecil di selatan Bali. Pantai ini memang sudah populer di kalangan turis mancanegara. Ombaknya jadi arena favorit peselancar, dan pasirnya jadi tempat para pelancong berjemur menanti matahari tenggelam.
Namun, popularitas saja tak cukup. Tanpa infrastruktur yang memadai, Dreamland terancam kalah bersaing dengan pantai-pantai lain di Bali Selatan yang semakin tertata. “Kalau tidak ada dukungan infrastruktur, ya sulit. Potensi besar itu tidak bisa maksimal,” kata Sumerta yang juga anggota DPRD Badung.
Selama ini, kerja sama yang berjalan baru sebatas antara Pemkab Badung dan Desa Adat untuk kawasan luar Uluwatu dan Padang-Padang. Pantai-pantai lain masih seperti mutiara yang belum digosok.
Skema kerja samanya sebenarnya sudah ada, 75 persen untuk pemerintah daerah, 25 persen untuk desa adat. Tinggal kemauan politik dan anggaran yang bisa mengubah wajah tiga pantai eksotis Pecatu menjadi destinasi kelas dunia.
“Kalau infrastruktur dibangun, kami yakin kawasan ini bisa berkembang sesuai harapan,” pungkas Sumerta.
Kini, Nyangnyang, Bingin, dan Dreamland masih berdiri sebagai saksi, betapa keindahan alam kadang terhenti di persimpangan, menunggu uluran tangan infrastruktur agar bisa benar-benar bersinar. BWN-04

































