Pecatu, baliwakenews.com
Pengelola DTW Labuan Sait bersama warga dan komponen terkait lainnya memiliki cara unik dalam mengangkat sampah dari bawah tebing yang curam. Mereka tidak mau menyerah dengan kondisi pantai yang diserbu sampah kiriman. Selain membersihkan secara manual, mereka juga menggunakan katrol listrik yang dipasang di atas jembatan untuk mengerek sampah naik ke atas. Terutama sampah batang dan ranting pohon yang sudah dipotong-potong. Sementara dua truk sudah disiapkan untuk mengangkut sampah tersebut ke TPA.
Manager Pengelola DTW Pantai Labuan Sait, Wayan Wijana ditemui di lokasi saat evakuasi berlangsung, Rabu (19/1) memaparkan, pihaknya memang baru pertama kali mengangkat sampah menggunakan katrol. Sebab sebelumnya volume sampah yang menepi tidak separah saat ini. “Periode-periode sebelumnya sejak bertahun-tahun, volume sampah yang biasanya datang relatif sangat kecil, yakni sekitar 10 hingga 15 persen dari volume saat ini,” Ungkapnya sembari menjelaslam kalau tnda-tanda datangnya sampah kiriman dengan volume tinggi sudah tampak sejak Sabtu (16/1) lalu dan mulai menepi esoknya Minggu (17/1).
Akibatnya hampir seluruh pantau penuh tertutup sampah batang dan ranting pohon yang membludak. Pihaknya dari manajemen Pengelola kawasan bersama warga dan komponen masyarakat langsung turun melakukan aksi bersih-bersih. “Seperti ada Sekaa Teruna, Balawisata, komunitas Pedagang dan Nelayan, komunitas Bule, Orari Lokal Pecatu dan kami di manajemen langsung turun gotong royong,” ujarnya.
Salah satu yang menjadi prioritas penanganan adalah sampah plastik. Sebab dikhawatirkannya akan mencemari lingkungan. “Baik itu unsur dari desa dinas dan desa adat, pemuda, nelayan, lifeguard, pedagang, komunitas wisatawan asing di Pecatu, para penyedia jasa transportasi wisata, hingga Orari lokal Pecatu semua bergerak tanpa diminta,” bebernya.
Pihaknya sangar menga apresiasi atas kepedulian dan respon cepat semua komponen tersebut. Untuk lebih memudahkan pengangkutan ke atas tebing yang curam, akhirnya pihaknya juga menggunakan katrol. “Medan yang curam dan ketiadaannya akses langsung armada ke pantai, itulah yang menjadi kendala. Tapi tentu kita tidak boleh menyerah, sehingga akhirnya kita coba kerahkan sistem katrol,” paparnya sembari menambahkan untuk pengangkutannya dibantu DLHK Badung yang telah menerjunkan armada dan personilnya.
Walaupun ini menurutnya sebuah langkah kecil, namun paling tidak, ada solusi yang diambil mengatasi masalah sampah tersebut.
Katrol yang disiapkan secara tersebut akan digunakan dalam bebrrapa hari mengangkat sampah di bawah tebing tersehut. “Kami juga sudah membeli gergaji mesin pemotong kayu satu. Mudah-mudahan nantinya ini bisa dikoordinasikan dan dipolakan ke depan agar bisa ada mesin katrol lagi satu untuk memudahkan mengangkut sampah ini ke depan,” harapnya. BWN-04































