Tri Kaya Parisudha Jadi Pegangan Anak Hadapi Tantangan Kesehatan di Era Digital

Iklan Home Page
Denpasar, Baliwakenews.com
Perkembangan teknologi digital membawa manfaat besar bagi anak, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan baru terhadap kesehatan dan tumbuh kembang mereka. Penggunaan gawai berlebihan, gangguan tidur, minim aktivitas fisik, perundungan digital, tekanan sosial, hingga paparan informasi yang belum sesuai usia menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Dosen Kepakaran Kesehatan Ibu dan Anak Universitas Dhyana Pura, Dr. Made Dewi Sariyani, S.ST., M.Kes., mengatakan kesehatan anak di era digital tidak cukup dipahami hanya dari kondisi fisiknya. Anak juga perlu dibekali kemampuan berpikir, berkomunikasi, mengelola emosi, berperilaku, serta menjaga dirinya sendiri.

Menurutnya, nilai Tri Kaya Parisudha dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membangun kebiasaan tersebut. Tri Kaya Parisudha mencakup tiga prinsip, yakni manacika atau berpikir yang baik, wacika atau berkata yang baik, dan kayika atau berbuat yang baik.

“Ketiga prinsip tersebut terlihat sederhana, tetapi apabila diterapkan secara konsisten dapat membantu membentuk perilaku anak yang lebih sehat dan bertanggung jawab,” kata Made Dewi.

Ia menjelaskan, prinsip manacika penting diterapkan karena anak saat ini sangat mudah memperoleh berbagai informasi melalui internet. Hanya dengan beberapa sentuhan pada layar, anak dapat menemukan informasi mengenai kesehatan, gaya hidup, pergaulan hingga perilaku yang ditampilkan di media sosial.

Persoalannya, anak belum selalu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan salah. Karena itu, anak perlu dibiasakan berpikir sebelum mempercayai atau mengikuti sesuatu yang dilihatnya di dunia digital.

Orang tua, kata Made Dewi, dapat membangun kebiasaan tersebut melalui percakapan sederhana. Ketika anak melihat sebuah video di media sosial, misalnya, orang tua dapat mengajak anak mempertanyakan apakah informasi tersebut benar, aman dilakukan, sesuai usia, serta apa dampaknya terhadap kesehatan.

Baca Juga:  Bocah 4 Tahun Terseret Arus, Tubuhnya Masuk ke Gorong-gorong

Kebiasaan itu secara perlahan dapat membantu anak membangun kemampuan berpikir kritis.

Manacika juga berkaitan dengan kesehatan mental anak. Anak perlu diberi ruang untuk mengenali pikiran dan perasaannya ketika mengalami kesedihan, kekecewaan, kemarahan, ketakutan maupun kecemasan.

“Orang tua tidak selalu harus langsung memberikan solusi. Terkadang anak hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan,” ujarnya.

Lingkungan keluarga yang terbuka dinilai dapat membuat anak merasa lebih aman untuk menyampaikan persoalan. Dengan demikian, masalah yang dialami anak dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Kata-Kata dan Ancaman Perundungan Digital

Selain pikiran, perhatian juga perlu diberikan terhadap cara anak berkomunikasi. Prinsip wacika, menurut Made Dewi, mengajarkan pentingnya berkata dengan baik karena perkataan dapat memberikan dampak terhadap perkembangan anak.

Kalimat sederhana seperti “Ibu bangga kamu sudah berusaha” dapat memberikan dukungan positif. Sebaliknya, kebiasaan menghina, membandingkan atau mempermalukan anak dapat memengaruhi rasa percaya dirinya.

Nilai wacika menjadi semakin penting ketika komunikasi anak berlangsung di ruang digital. Komentar media sosial, pesan dalam grup, unggahan, maupun percakapan saat bermain gim daring tetap membutuhkan etika.

Perundungan pun tidak hanya terjadi secara langsung di sekolah. Ruang digital dapat menjadi tempat terjadinya perundungan melalui ejekan, penghinaan, penyebaran foto tanpa izin, komentar negatif, hingga tindakan mempermalukan seseorang di media sosial.

Karena itu, anak perlu dibiasakan berhenti sejenak sebelum mengirim pesan atau komentar. Anak dapat diajak mempertanyakan apakah perkataan yang akan disampaikan benar, memang perlu disampaikan, dan apakah dapat menyakiti orang lain.

Kebiasaan tersebut diharapkan menjadi bagian dari pola komunikasi sehat anak, baik di dunia nyata maupun dunia digital.

Kayika Mendorong Anak Menjaga Tubuh

Baca Juga:  LSP Unwar Gelar "Witness" dan Serah Terima Lisensi dari BNSP Pusat

Prinsip ketiga adalah kayika, yakni mewujudkan pikiran dan perkataan yang baik melalui tindakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kayika dapat diterapkan melalui kebiasaan menjaga kebersihan diri, mengonsumsi makanan bergizi, melakukan aktivitas fisik, tidur cukup, menjaga lingkungan, serta menggunakan gawai secara bijaksana.

Anak juga perlu memahami bahwa menjaga kesehatan merupakan bentuk penghargaan terhadap tubuhnya sendiri.

Saat memasuki masa pertumbuhan dan pubertas, anak perlu memperoleh informasi mengenai perubahan tubuh dan kesehatan reproduksi sesuai tingkat perkembangannya.

Anak perlu mengetahui cara menjaga kebersihan tubuh, mengenali bagian tubuh yang bersifat pribadi, memahami batasan diri, serta mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Pendidikan kesehatan reproduksi, lanjut Made Dewi, penting diberikan sejak dini dengan bahasa yang sederhana, terbuka dan sesuai usia.

“Tujuannya bukan membuat anak cepat dewasa, melainkan membantu anak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melindungi dirinya,” jelasnya.

Gawai Bukan untuk Dimusuhi

Di tengah kekhawatiran terhadap penggunaan gawai, pendekatan yang hanya mengandalkan larangan dinilai belum tentu cukup. Anak perlu diajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Tri Kaya Parisudha dapat digunakan sebagai salah satu cara sederhana untuk membangun kebiasaan tersebut.

Manacika dapat diterapkan dengan mengajarkan anak berpikir sebelum membuka, menonton atau membagikan sesuatu. Wacika diterapkan melalui penggunaan bahasa yang baik ketika berkomunikasi di dunia digital.

Sementara kayika diwujudkan dengan penggunaan teknologi secara seimbang. Anak tetap harus memiliki waktu untuk tidur, bergerak, belajar, bermain dan berinteraksi dengan keluarga.

Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan semata-mata menjauhkan anak dari teknologi. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan anak agar mampu menggunakan teknologi secara sehat.

Orang Tua Harus Menjadi Teladan

Baca Juga:  LAM-PTKes, Akreditasi Prodi Diploma IV Manajemen Informasi Kesehatan Poltekkes Kartini Bali

Penerapan Tri Kaya Parisudha juga tidak bisa hanya dibebankan kepada anak. Keluarga menjadi tempat pertama bagi anak mempelajari nilai dan perilaku.

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari contoh yang diberikan orang dewasa.

Jika orang tua meminta anak mengurangi penggunaan gawai, tetapi tetap menggunakan telepon ketika sedang berbicara dengan anak, pesan tersebut menjadi kurang kuat. Begitu pula ketika anak diminta berbicara sopan, tetapi orang tua justru terbiasa menggunakan kata-kata kasar.

Karena itu, membangun kesehatan anak membutuhkan keteladanan. Rumah perlu menjadi tempat anak merasa aman untuk bertanya, bercerita dan meminta pertolongan.

Sekolah kemudian dapat memperkuat kebiasaan tersebut melalui lingkungan belajar yang aman dan mendukung.

Menurut Made Dewi, kesehatan anak pada akhirnya tidak hanya menyangkut apakah anak sakit atau tidak. Kesehatan juga mencakup kemampuan anak berpikir, berkomunikasi, berperilaku, berinteraksi serta menjaga dirinya.

Tri Kaya Parisudha memberikan kerangka sederhana untuk membangun hal tersebut. Manacika mengajarkan anak berpikir baik dan kritis, wacika mengajarkan berkata baik dan menghargai orang lain, sedangkan kayika mengajarkan tindakan baik sekaligus menjaga kesehatan diri.

Ketiga prinsip itu dapat diterapkan untuk menghadapi berbagai persoalan anak masa kini, mulai penggunaan gawai, kesehatan mental, perundungan, pola hidup sehat hingga kesehatan reproduksi.

Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, anak membutuhkan pengetahuan kesehatan sekaligus nilai yang dapat menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Tri Kaya Parisudha menjadi salah satu pendekatan untuk membantu anak memahami bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga bagaimana berpikir, berbicara dan bertindak dengan baik. *

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR