Dari Gemerlap Panggung ke Tegapnya Barisan, Mang Cipta Jalani Dua Dunia yang Berbeda

Iklan Home Page

Mangupura, Baliwakenews.com – Panggung dan barisan Paskibraka mungkin terlihat seperti dua dunia yang bertolak belakang. Di satu sisi ada musik, tari dan kebebasan berekspresi. Di sisi lain ada barisan yang harus tegap, disiplin dan penuh tanggung jawab.

Namun, bagi Komang Triyadi Cipta Wibawa, keduanya justru menjadi bagian yang saling melengkapi dalam perjalanan dirinya.

Remaja yang akrab disapa Mang Cipta ini merupakan siswa kelas XI SMAN 1 Kuta. Lahir di Badung, 27 Desember 2009, ia sejak kecil sudah dekat dengan dunia seni. Menyanyi, menari hingga menabuh menjadi bagian dari aktivitas yang membentuk dirinya.

Menariknya, pada 2026 Mang Cipta mengambil langkah ke dunia yang berbeda dengan menjadi anggota Paskibraka Daerah Bali.

Ia tidak meninggalkan seni ketika memilih mengikuti proses Paskibraka. Sebaliknya, pengalaman di dua dunia tersebut justru menjadi bagian dari prosesnya dalam mengenal dan mengembangkan diri.

Seni memberinya ruang untuk berekspresi dan berkreativitas, sedangkan Paskibraka mengajarkannya disiplin, tanggung jawab, nasionalisme hingga kemampuan bekerja sama.

Kecintaannya terhadap seni telah membawanya meraih sejumlah prestasi. Ia pernah menjadi Juara III Tari Kebyar Duduk pada Pekan Seni Olahraga Pelajar Kabupaten Badung Tahun 2023.

Setahun kemudian, ia meraih Juara Harapan I Lomba Nyanyi Pop Bali dalam Pekan Budaya dan Kreativitas Daerah Kabupaten Badung 2024.

Prestasinya terus bertambah. Mang Cipta juga meraih Juara III Lomba Menyanyi Solo Lagu Pop Bali dalam Badung Education Fair serta Juara II Lomba Nyanyi Kartini Award 2025 SMKP Cakra Nusantara.

Baca Juga:  Bali Siapkan 24 Pemanah, Pra-PON Tambah 4 Medali Emas 

Tidak berhenti di panggung perlombaan, Triyadi Cipta—nama yang digunakannya sebagai artis—mulai menapaki dunia musik secara lebih serius. Ia telah mengeluarkan single lagu pop Bali berjudul “Tresnan Beli” yang kini sudah tayang di YouTube.

Mang Cipta merupakan bungsu dari tiga bersaudara, putra pasangan I Made Adi Wibawa, SH dan Ni Made Sutiari. Di tengah perjalanan sebagai pelajar dan pegiat seni, ia kemudian mencoba pengalaman baru dengan mengikuti proses Paskibraka hingga akhirnya mendapat kesempatan menjadi anggota Paskibraka Daerah Bali 2026.

Keputusan tersebut bukan berarti dirinya meninggalkan dunia seni. Ia justru ingin mencoba sesuatu yang berbeda tanpa melepaskan dunia yang sudah menjadi bagian dari dirinya.

“Saya menekuni seni karena adanya ketertarikan dari diri saya sendiri. Bagi saya, seni menjadi salah satu cara saya untuk mengekspresikan diri dan berkreativitas. Karena kebetulan keluarga saya adalah keturunan seni dan sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan kesenian,” ujarnya.

Sementara untuk Paskibraka, motivasinya berawal dari keinginan mencoba pengalaman berbeda. Sang kakak yang pernah menjadi anggota Paskibraka Kabupaten Badung juga turut meyakinkannya untuk mengikuti proses tersebut.

“Alasan utama saya ikut Paskibraka juga karena ingin meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air saya terhadap negara Indonesia,” katanya.
Menjalani dua aktivitas yang sama-sama membutuhkan ketekunan tentu bukan perkara mudah.

Sebagai pelajar, ia tetap harus menjalankan kewajiban sekolah. Di sisi lain, seni membutuhkan waktu untuk berlatih dan berkembang, sedangkan Paskibraka menuntut kedisiplinan serta kesiapan fisik dan mental.

Baca Juga:  Tahun Ini, AP 1 Targetkan 68 Juta Pergerakan Penumpang

Bagi Mang Cipta, ada satu kunci yang harus dipegang, yakni mengatur waktu.

“Menurut saya kuncinya adalah mengatur waktu. Contohnya seperti kapan harus membagi waktu untuk sekolah, untuk seni, dan Paskibraka,” tuturnya.
Perjalanan menuju Paskibraka Provinsi Bali menjadi salah satu fase yang paling membekas baginya.

Proses latihan sebelum mengikuti seleksi tingkat provinsi menjadi tantangan tersendiri. Ia harus berlatih bersama teman-teman dari seluruh kabupaten dengan berbagai tantangan.

Rasa lelah dan capek tentu menjadi bagian dari proses. Namun, kebersamaan justru membuat perjalanan tersebut terasa menyenangkan.

“Kami bisa merasakan lelah bersama, saling menyemangati, dan juga menikmati setiap prosesnya bersama-sama,” ungkapnya.

Menurut Mang Cipta, tantangan terberat untuk lolos Paskibraka datang dari tiga sisi, yakni mental, fisik, dan persaingan.

Dari sisi mental, ia dituntut tetap percaya diri dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan selama proses seleksi dan pelatihan.

Dari sisi fisik, kondisi tubuh harus dijaga karena latihan yang dijalani cukup menguras tenaga.

Persaingan juga menjadi tantangan tersendiri. Setiap peserta memiliki kemampuan dan kelebihan masing-masing. Karena itu, ia harus berusaha memberikan kemampuan terbaik, sembari tetap menghargai dan belajar dari peserta lainnya.

Setelah mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari Paskibraka Provinsi Bali 2026, Mang Cipta ingin menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk terus berkembang, terutama dalam hal kedisiplinan dan kemampuan berorganisasi.

Baca Juga:  Gerebek Rumah Oknum Polisi di Denpasar, Polda Temukan Belasan Paket Narkoba

Di dunia seni, targetnya juga tidak kalah jelas. Ia ingin terus mengembangkan kemampuan dan memperbanyak pengalaman, baik melalui perlombaan maupun kegiatan seni lainnya.

Di sekolah, Mang Cipta aktif sebagai pengurus Ekstra Band dan Ekstra Paskib SMAN 1 Kuta. Pengalaman tersebut menjadi ruang baginya untuk belajar bekerja sama sekaligus mengembangkan minat yang ia miliki.

Baginya, Paskibraka juga memberikan pelajaran yang jauh melampaui baris-berbaris. Ia belajar disiplin, bertanggung jawab, menghargai waktu, dan bekerja sama.

Lebih dari itu, Paskibraka mempertemukannya dengan generasi muda dari seluruh kabupaten/kota di Bali.

“Menurut saya banyak sekali manfaat yang didapat dalam Paskibraka. Kita diajarkan untuk disiplin, bertanggung jawab, menghargai waktu, dan bekerja sama,” ujarnya.

Perjalanan Mang Cipta menjadi menarik bukan karena ia berhasil memilih antara seni atau Paskibraka. Justru sebaliknya, ia memilih untuk menjalankan keduanya.
Di satu sisi, ia tetap menjadi remaja yang menikmati panggung, musik dan seni.

Di sisi lain, ia belajar berdiri tegap, disiplin dan bertanggung jawab sebagai bagian dari Paskibraka. Seni membuatnya berani tampil dan berekspresi. Paskibraka membentuk disiplin dan rasa tanggung jawabnya.

Dua dunia berbeda itu kini bertemu dalam sosok Mang Cipta, remaja Badung yang sedang menyiapkan dirinya untuk melangkah lebih jauh ke masa depan. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR