Bali Siapkan Trem Listrik Bandara–Canggu, Target Beroperasi 2029 dan Angkut 60 Ribu Penumpang per Hari

Iklan Home Page

Denpasar, Baliwakenews.com – Rencana menghadirkan moda transportasi massal baru di Bali mulai menemukan bentuk yang lebih konkret. Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sepakat mengembangkan trem listrik berbasis baterai yang akan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hingga kawasan Canggu.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama pengembangan perkeretaapian di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026). Kerja sama ini menjadi langkah awal untuk merealisasikan transportasi massal yang diharapkan mampu menjadi salah satu solusi kemacetan, khususnya di kawasan Badung.

Pengembangan trem menjadi pilihan setelah konsep tersebut dinilai paling sesuai dengan karakteristik Bali dibandingkan moda MRT maupun LRT. Selain berukuran relatif kecil, trem dirancang ramah lingkungan, memiliki tingkat kebisingan rendah, serta tidak membutuhkan kabel listrik di sepanjang jalur karena menggunakan teknologi baterai.

Rute awal yang disiapkan menghubungkan kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hingga Canggu dengan panjang trase sekitar 12 kilometer.

Jalur trem dirancang menggunakan dua lintasan dengan area persilangan untuk mendukung kelancaran operasional. Lebar trase sekitar 3 meter, sementara dimensi trem sekitar 2 meter lebih sehingga ukurannya relatif kecil dan bahkan lebih kecil dibandingkan bus.

Baca Juga:  Lupa EFIN, Cek Lewat Fitur Baru di M-Pajak

Pemilihan koridor Bandara–Canggu bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki tingkat mobilitas yang sangat tinggi dengan pergerakan diperkirakan mencapai sekitar 150 ribu orang setiap hari dan melibatkan sekitar 80 ribu kendaraan.

Tingginya mobilitas inilah yang mendorong pemerintah menyiapkan alternatif transportasi massal untuk mengurangi ketergantungan masyarakat dan wisatawan terhadap kendaraan pribadi.

Trem tersebut diproyeksikan mampu mengangkut sekitar 15 ribu hingga 20 ribu penumpang dalam kondisi maksimal. Waktu tempuh dari Bandara hingga Canggu diperkirakan sekitar 30 menit dengan jeda keberangkatan antartrem sekitar 10 menit.

Dalam operasional maksimal, kapasitas angkutnya diproyeksikan mencapai sekitar 60 ribu penumpang per hari. Jumlah tersebut diharapkan dapat mengakomodasi sekitar 40 persen kepadatan mobilitas di koridor Bandara–Canggu.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, groundbreaking pembangunan trem ditargetkan dilakukan pada Maret 2027. Trase pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2028, sedangkan seluruh jalur hingga Canggu diharapkan dapat rampung dan beroperasi penuh pada 2029.

Setelah penandatanganan kerja sama, sejumlah tahapan akan dilakukan, mulai dari studi teknis dan penyusunan kajian lanjutan hingga sosialisasi kepada masyarakat.

Baca Juga:  Gampang dan Sederhana, Inilah Trik Cara Membasmi Kecoa di Rumah Anda

Pemerintah juga akan melibatkan desa adat, pelaku industri pariwisata, hotel, penyedia akomodasi wisata, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan pengembangan trem merupakan tindak lanjut dari upaya memperbaiki fasilitas dan sistem transportasi di Bali, terutama di Kabupaten Badung yang selama ini menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas.

Namun, ia menekankan pembangunan infrastruktur transportasi di Bali tidak boleh hanya berorientasi pada teknologi dan kecepatan.

“Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata, dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat,” tegas Koster.

Menurutnya, pembangunan jalur trem harus dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek pariwisata, lingkungan, kawasan permukiman, serta kehidupan masyarakat di sepanjang trase.

“Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” katanya.

Koster juga menegaskan bahwa trem yang akan dikembangkan di Bali tidak boleh disamakan begitu saja dengan kereta api konvensional.

Moda transportasi tersebut dirancang tidak berukuran besar, tidak berisik, ramah lingkungan, menggunakan teknologi baterai, serta menyesuaikan karakter dan kearifan lokal Bali.

Baca Juga:  Wacana Optimalkan Peran LPD Sebagai Antisipasi Dampak Sosial, Begini Reaksi Fraksi Golkar Badung

Pengembangan transportasi, menurutnya, harus tetap menjaga identitas, budaya, keindahan, dan harmoni Bali.

Komitmen serupa disampaikan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin. Ia mengatakan KAI akan menempatkan aspek budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat lokal sebagai pertimbangan utama sejak tahap perencanaan.

Menurut Bobby, Bali merupakan wilayah yang memiliki keluhuran budaya, spiritualitas, jati diri masyarakat, serta kehidupan sosial yang khas.

“Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali,” ujar Bobby.

Teknologi berbasis baterai dipilih untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan dan tingkat kebisingan, sekaligus menjaga kenyamanan masyarakat maupun wisatawan.

Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, trem listrik Bandara–Canggu sepanjang sekitar 12 kilometer akan menjadi salah satu wajah baru transportasi publik Bali. Selain diharapkan menjadi solusi kemacetan, kehadirannya juga diproyeksikan memperkuat konektivitas kawasan pariwisata tanpa mengabaikan budaya, lingkungan, dan identitas Pulau Dewata. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR