Menakar Diri di Karang Gunung Pecatu

Iklan Home Page

IK Eriadi Ariana

PECATU bukan lagi kawasan asing dalam peta pariwisata Bali. Kawasan ini adalah salah satu jantung pariwisata Bali. Letaknya yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia menjadi potensi tersendiri. Selama jutaan tahun, ombak telah mengukit bukit kars putih Pecatu, yang pada akhirnya melahirkan pantai-pantai menawan.

Namun demikian, sebagai bagian dari satu-kesatuan mandala Pulau Dewata, Pecatu dan sekitarnya bukan hanya menyoal objek pariwisata. Kawasan ini sejak lama telah dicatat sebagai salah satu simpul eko-teologis yang penting. Eksistensi kawasan tersebut salah satunya dibuktikan melalui keberadaan Pura Luhur Uluwatu.

Menurut konsep Padma Bhuwana atau Kahyangan Dewata Nawa Sanga, pura ini menempati posisi barat daya. Barat daya adalah arah kekuasaan dari Dewa Rudra, spirit Siwa yang acapkali diidentikkan sebagai energi penghancur, kejam, dan bengis. Entitasnya juga dekat dengan kehadiran badai.

Pada sudut pandang mistik orang Bali, barat daya dianggap sebagai mandala nistaning nista, yang berlawanan dengan timur laut sebagai mandala utamaning utama. Pada mandala inilah energi-energi disruptif berkumpul. Ketika pelaksanaan ritual caru misalnya, setelah diberi sesajian pengantar puja biasanya menginstruksikan para bhuta kala untuk mundur ke barat daya dan tidak mengganggu mandala hidup manusia.

Pura Luhur Uluwatu termasuk sebagai satu dari sejumlah Pura Sad Kahyangan Bali. Apabila ditinjau dari sisi sejarah, Pura Luhur Uluwatu diduga telah ada sejak abad ke-9 masehi, didirikan Mpu Kuturan pada masa pemerintahan Raja Marakata, putra Raha Dharmodayana. Menurut versi lainnya, keberadaan Pura Luhur Uluwatu disebut pula terkait dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha yang datang ke Bali pada tahun 1546 Masehi kala Bali diperintah Dalem Waturenggong. Bagi sebagian besar umat Hindu di Bali, Dang Hyang Nirartha diyakini mencapai moksa ‘kebebasan sejati’ di kawasan Pura Luhur Uluwatu (https://candi.perpusnas.go.id).

Kedudukan Pecatu sebagai salah satu mandala eko-spiritual Bali turut terekam pada sejumah teks tradisional Bali. Dua di antaranya adalah teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul dan Kakawin Purwaning Gunung Agung. Keduanya sama-sama mewacanakan kawasan Pecatu sebagai sebuah “gunung suci”.

Baca Juga:  Inilah Beberapa Pemain Utama Bali United yang Beranjak dari Kelompok Junior

Gunung Pecatu dalam teks Kuttara Kanda Dewa Purana identik dengan penjelasan Gunung Huluwatu. Narasi teks ini berpusat pada entitas Bhatara Guru atau Bhatara Pasupati (Siwa) sebagai tokoh utama. Nuansa filsafat Siwaisme sangat tampak dalam teks tersebut. Keempat babnya memposisikan gunung dalam arus utama narasinya. Konon, setelah tercipta dari ledakan telur semesta, Pulau Bali yang masih prematur mengalami keterombang-ambingan. Hal ini menyebabkan manusia dan mahkluk hidup lainnya sangat menderita. Lantaran iba terhadap apa yang menimpa Bali, Bhatara Siwa akhirnya memenggal puncak Mahameru.

Bhatara Guru membagi potongan Mahameru menjadi tiga bagian besar, kemudian ditempatkan di Bali dan Lombok. Potongan terbawah ditempatkan di bagian tengah Pulau Bali, diberi nama Gunung Apui atau Gunung Batur sebagai pusat energi api semesta. Bagian tengahnya ditempatkan di Pulau Lombok, diberi nama Gunung Rinjani. Sementara itu, terbawah ditempatkan di antara dua potongan sebelumnya, diberi nama Gunung Agung.

Selain menjadi tiga gunung utama itu, beberapa serpihan puncak Mahameru jatuh dan tercecer di Pulau Bali. Serpihan-serpihan itu pada akhirnya menjadi deretan pegunungan, yakni Gunung Tapsahi, Gunung Pangelengan, Gunung Mangu, Gunung Silanjana, Gunung Bratan, Gunung Watukaru, Pagunungan Nagaloka, Gunung Pulaki, Gunung Pucak Sangkur, Bukit Rangda, Tratebang, Bukit Paḍangdawa, Gunung Aṇḍakaṣa, Uluwatu, Gunung Byaha, Byasamuntig. Gunung Lempuyang, dan Gunung Sraya. Akhirnya melalui kehadiran ketiga gunung utama dan gunung-gunung penyangga itu, Pulau Bali [dan Lombok] diharapkan bisa harmonis, tak lagi terombang-ambing.

Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul menerangkan Gunung Uluwatu sebagai salah satu “hulu” selatan Bali. Bersama Gunung Andakasa, Byaha, dan Byasmuntig, Uluwatu menjaga keseimbangan kosmis. Sayangnya, tidak ada penjelasan yang spesifik tentang fungsi Gunung Uluwatu maupun entitas dewata yang bersemayam di sana, sebagaimana penjelasan tentang gunung-gunung lainnya. Sebagai pembanding, Gunung Andakasa dinarasikan sebagai stana dari Hyang Tugunatha dan memiliki kuasa sebagai pusat taksu dari pamangku dan balian.

Baca Juga:  Politeknik Kesehatan Kartini Bali Hidupkan Kembali Obat Herbal di Desa Pengotan

Kata uluwatu dibentuk dari dua kata yakni ulu dan watu. Ulu merujuk arti ‘kepala’, ‘suatu tempat yang dimuliakan’; sedangkan watu berarti ‘batu’. Maka, uluwatu dapat dibaca sebagai ‘batu yang dimuliakan atau disucikan’. Sinonim watu dalam khazanah bahasa Jawa Kuno adalah śilā. Kata śilā ‘batu’ memiliki homofon dengan kata śīla ‘azas’, ‘pondasi’; dan sila ‘duduk’. Mungkinkah penulis tidak saja ingin memaknai uluwatu bukan sekadar sebagai kepala batu atau batu yang dimuliakan, tetapi juga membuka ruang makna lebih simbolis sebagai azas atau cara duduk yang mulia?

Terlepas dari lapisan pemaknaan yang dapat dibangun, Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul tampak berupaya mewacanakan kawasan Gunung Pacatu sebagai ruang yang wajib dimuliakan. Narasi “serpihan” Mahameru tegas mengindikasikan kawasan tersebut sebagai salah satu simpul eko-spiritual Bali yang sentral. Narasi itu sekiranya diharapkan sebagai kerangka etis bagi manusia yang tinggal di kawasan tersebut untuk bisa menjaganya dengan baik.

Eksistensi Gunung Pecatu juga dipertegas dalam uraian Kakawin Purwaning Gunung Agung. Teks ini adalah salah satu sastra kakawin (puisi Jawa Kuno) tradisi Bali yang dikarang oleh Ida Pedanda Made Sidemen. Seperti Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, teks tersebut juga menjelaskan kosmologi Bali sebagai kesatuan mandala suci yang wajib dijaga.

Gunung Pecatu pada pada teks ini disebut sebagai Gunung Arata yang memiliki lanskap yang mempesona akibat terlampau sering dihantam ombak samudera. Hanya saja, kawasan Gunung Arata adalah kawasan kering. Tidak ada sumber air yang besar untuk menghidupi setiap makhluk yang memohon hidup pada tubuhnya. Oleh karena itu, ia juga disebut pacatu lantaran selalu tergantung pada air hujan (pacatu nāma parwwata, apan tan hana toya mukya ri lěbaknya satata umadang sakeng langit).

Baca Juga:  UHN IGB Sugriwa Denpasar, Kukuhkan Prof Yoga Segara Jadi Guru Besar Ke 13

Apabila dijejak dari aspek kebahasaan, kata pacatu merupakan kata jadian. Kata dasarnya catu yang berarti ‘bagian’ atau ‘ukuran’. Kata ini lantas mendapat prefiks pa- yang maknanya dapat merujuk tempat atau alat. Oleh karena itu, pacatu dapat bermakna ‘tempat mengukur’ maupun bermakna ‘alat ukur’.

Apa gerangan yang diukur oleh lelangit Bali di kawasan tersebut? Kakawin Purwaning Gunung Agung secara tegas mengaitkan dengan air. Penjelasan ini pada satu sisi mungkin terarah pada makna sesungguhnya (denotatif), tetapi tidak menutup kemungkinan membuka ruang diskursus yang lebih dalam tentang makna air itu sendiri.

Orang Bali sendiri pada prinsipnya sangat dekat dengan idiom air. Air acapkali dimuarakan pada makna tentang kehidupan, kesejahteraan, dan kemurnian. Maka, boleh jadi seorang Ida Pedanda Made Sidemen melalui tiap barisnya tidak saja berupaya mewacanakan kawasan Pecatu sebagai kawasan “alat ukur” air Bali, tetapi alat ukur kesejahteraan dan kemurnian orang Bali.

Wacana ini sekiranya penting untuk kita refleksikan ke ruang kontemporer hari ini, ketika kawasan tersebut telah menjelma menjadi ekosistem wisata yang begitu masif di Bali. Pada napas pariwisata yang berdenyut kencang di Pecatu, orang Bali mungkin diajak untuk tetap ingat menakar kemurniannya sebagai anak-anak semesta. Kemurnian ini tentu tidak bisa diukur dari seberapa besar praktik ritual yang dilakukan, atau seberapa banyak dilukat. Pecatu adalah tantangan agar manusia Bali tetap sadar, kemudian berhenti sejenak dan menakar kembali ego, sembari melihat daya lenting lingkungan yang acapkali terabaikan atas nama kesejahteraan.

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR