Bangli, baliwakenews.com
Di tengah arus modernisasi dan ketergantungan masyarakat pada obat-obatan kimia, sebuah gerakan inspiratif lahir dari Desa Pengotan, Kabupaten Bangli, Bali. Melalui program bertajuk Gerakan Masyarakat Berbasis Obat Herbal, tim dosen dari Politeknik Kesehatan Kartini Bali mengambil langkah nyata dalam menghidupkan kembali kearifan lokal pengobatan tradisional.
Program ini tidak hanya bergerak secara mandiri, tetapi mendapat dukungan penuh melalui hibah pendanaan Pengabdian Kepada Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan, Sains dan Teknologi Tahun Anggaran 2025. Melalui hibah sebesar Rp 41.077.000 dengan Nomor Kontrak Induk 125/C3/DT.05.00/PM/2025 tanggal 28 Mei 2025 dan Nomor Kontrak Turunan 2167/LL8/AL.04/2025 tanggal 5 Juni 2025, kegiatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam mengakses pengetahuan, keterampilan, dan strategi pemasaran terkait tanaman obat herbal.
Desa Pengotan dipilih sebagai lokasi dengan 50 orang ibu PKK sebagai sasaran utama. Lebih dari sekadar program pelatihan, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan gaya hidup sehat, mandiri, dan produktif melalui pengelolaan tanaman obat yang dapat ditanam serta diolah secara sederhana di pekarangan rumah.
Sasarannya adalah memberdayakan para ibu PKK Desa Pengotan agar mampu membudidayakan, mengolah, hingga memasarkan tanaman obat herbal sebagai bagian dari kemandirian keluarga dan masyarakat.
Menurut Direktur Politeknik Kesehatan Kartini Bali, G.A. Martha Winingsih mengatakan, inisiatif ini bukan sekadar pelatihan sesaat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kemandirian kesehatan masyarakat.
“Kami melihat potensi besar di Desa Pengotan, baik dari sisi alam maupun semangat warganya. Tujuan kami bukan hanya memberikan pengetahuan, tapi menumbuhkan gaya hidup sehat dan produktif,” ujar Martha.
Program ini mencakup delapan tahapan menyeluruh, dimulai dari observasi kebutuhan hingga pelatihan teknik pemasaran produk herbal. Para ibu PKK tidak hanya mendapatkan materi penyuluhan, tetapi juga diajak praktik langsung menanam tanaman obat di halaman rumah masing-masing.
Ni Made Padma Batiari, yang turut menjadi penggerak kegiatan ini, menjelaskan bahwa pendekatan edukatif dan partisipatif menjadi kunci keberhasilan.
“Kami melakukan pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasilnya menunjukkan adanya lonjakan pemahaman yang signifikan mengenai manfaat dan jenis tanaman herbal,” kata Padma.
Selain manfaat kesehatan, program ini juga membuka potensi ekonomi baru. Ni Made Ari Febriyanti, yang terlibat dalam pelatihan pengolahan produk herbal, menekankan pentingnya aspek kewirausahaan.
“Kami latih ibu-ibu cara mengolah herbal menjadi produk bernilai jual seperti jamu, teh herbal, hingga minyak oles. Bahkan kami beri pelatihan strategi pemasaran sederhana yang bisa langsung diterapkan,” jelas Febriyanti.
Lebih lanjut, Wakil Direktur Politeknik Kesehatan Kartini Bali, I Ni Wayan Noviani menyampaikan bahwa keberlanjutan program ini akan menjadi fokus utama pasca-implementasi.
“Kami akan melakukan monitoring berkala dan menyiapkan dukungan lanjutan, termasuk jaringan distribusi dan pendampingan usaha rumahan,” ungkap Noviani. BWN-09


































