Singaraja, Baliwakenews.com
Sulit membayangkan bahwa hamparan laut jernih di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, yang kini dipenuhi terumbu karang berwarna-warni dan menjadi rumah bagi ribuan biota laut, pernah berada di ambang kehancuran.
Puluhan tahun lalu, kawasan pesisir di Bali Utara itu menyimpan cerita yang jauh dari kata indah. Terumbu karang rusak akibat praktik pengeboman ikan, penggunaan potasium, serta tekanan perubahan iklim yang perlahan menggerus kehidupan bawah laut. Nelayan kehilangan harapan. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan seolah tak lagi mampu memberi kehidupan.
Namun dari keprihatinan itulah lahir sebuah gerakan yang kini menginspirasi Indonesia.
Pada Kamis (11/6/2026) di Jakarta, Kabupaten Buleleng menerima penghargaan bergengsi Kalpataru. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas keberhasilan restorasi terumbu karang berbasis teknologi Biorock di Desa Pemuteran, yang mampu bersaing dengan lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Bagi banyak orang, Kalpataru mungkin hanya sebuah trofi. Namun bagi masyarakat Pemuteran, penghargaan itu adalah simbol kemenangan atas keputusasaan.
Di balik kisah tersebut, ada sosok Komang Astika yang memilih tidak menyerah pada keadaan. Ia masih mengingat bagaimana laut Pemuteran dahulu kehilangan pesonanya. Karang-karang mati, ikan semakin sulit ditemukan, dan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan masyarakat pesisir perlahan menghilang.
Alih-alih menyalahkan keadaan, Komang bersama masyarakat setempat memilih bertindak. Mereka memperkenalkan teknologi bernama Biorock, sebuah metode rehabilitasi terumbu karang yang pada awalnya terdengar asing bagi sebagian besar warga.
Teknologi ini memanfaatkan arus listrik bertegangan rendah yang dialirkan melalui dua komponen utama: anoda berbahan titanium dan katoda dari besi bangunan yang dibentuk menyerupai kubah atau bunga lotus.
Proses sederhana itu ternyata menghasilkan keajaiban kecil di bawah laut. “Dengan mengalirkan listrik tegangan rendah ke struktur besi tersebut, terjadi reaksi kimia yang menyebabkan mineral kapur atau kalsium karbonat mengendap pada permukaannya,” jelas Komang.
Lapisan mineral itu menjadi tempat yang ideal bagi bibit terumbu karang untuk menempel, tumbuh, dan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan proses alami.
Sedikit demi sedikit, kehidupan mulai kembali. Ikan-ikan datang. Karang tumbuh. Laut yang pernah terluka perlahan kembali bernapas. Bagi masyarakat Pemuteran, keberhasilan memulihkan terumbu karang bukan hanya soal menjaga lingkungan.
Ini tentang mempertahankan masa depan. Ekosistem yang sehat menghadirkan kembali sumber mata pencaharian nelayan. Wisatawan berdatangan untuk menyelam dan menyaksikan keindahan bawah laut yang sempat hilang. Peluang usaha tumbuh di desa. Anak-anak melihat bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban, tetapi investasi kehidupan.
Kini, sekitar dua hektare kawasan perairan Pemuteran telah berhasil dipulihkan melalui teknologi Biorock. Keberhasilan tersebut bahkan kerap dijadikan contoh praktik ekonomi biru, sebuah konsep pembangunan yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.
“Keberhasilan ini tidak hanya mengembalikan keindahan bawah laut, tetapi juga menjadi model keberlanjutan ekonomi biru bagi masyarakat pesisir di Indonesia,” tutur Komang.
Kalpataru: Pengakuan untuk Mereka yang Menjaga Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, I Gede Putra Aryana, menyebut penghargaan Kalpataru sebagai buah dari kerja kolektif yang tidak pernah berhenti.
Menurutnya, penghargaan tersebut bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk menggerakkan lebih banyak pihak agar ikut menjaga lingkungan.
“Penghargaan ini menjadi contoh sekaligus katalisator agar daerah lain, khususnya di Buleleng, turut bergerak dalam pelestarian lingkungan, terutama ekosistem laut. Kami sangat bangga dengan dedikasi Bapak Komang Astika dan tim di Pemuteran,” ujarnya.
Kalpataru akhirnya bukan sekadar penghargaan nasional yang dipajang di ruang kantor pemerintahan. Ia adalah penghormatan bagi masyarakat yang memilih merawat laut ketika banyak orang mengabaikannya. Cerita Pemuteran mengajarkan bahwa kerusakan lingkungan bukanlah akhir dari segalanya.
Laut yang rusak dapat dipulihkan. Terumbu karang yang mati bisa tumbuh kembali. Kehidupan yang nyaris hilang dapat bangkit, selama ada keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk menjaga bersama.
Dari pesisir utara Bali, masyarakat Pemuteran telah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan.
Dan ketika penghargaan Kalpataru akhirnya tiba, sesungguhnya yang dirayakan bukan hanya sebuah prestasi. Bahwa manusia dan alam masih bisa saling menyelamatkan. Bahwa laut bukan warisan dari masa lalu, melainkan titipan untuk masa depan. Dan bahwa dari sebuah desa kecil di Buleleng, Indonesia belajar bagaimana mencintai laut dengan cara yang nyata. BWN-03

































