Denpasar, Baliwakenews.com
Optimisme konsumen di Bali masih bertahan di tengah tekanan ekonomi global. Namun, sinyal perlambatan mulai terlihat. Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 turun menjadi 124,1 atau melemah 2,5 persen dibanding bulan sebelumnya.
Meski masih berada di zona optimistis karena berada di atas level 100, perlambatan ini menjadi alarm awal terhadap mulai melemahnya daya beli masyarakat Bali, terutama akibat turunnya kunjungan wisatawan nusantara dan melonjaknya biaya transportasi udara.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Bali, Achris Sarwani dalam siaran pers mengatakan kelompok masyarakat dengan pendapatan Rp4–5 juta tercatat menjadi kelompok paling optimistis dengan indeks 141,4. Disusul kelompok pendapatan di atas Rp8 juta sebesar 135,1 dan kelompok Rp5–6 juta sebesar 127,8.
Namun di balik angka optimisme itu, tekanan ekonomi mulai terasa. “Penurunan paling tajam terjadi pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang anjlok dari 129,8 pada Maret menjadi 120,7 pada April 2026,” ungkapnya.
Penurunan dipicu melemahnya konsumsi barang tahan lama, berkurangnya lapangan kerja, hingga menurunnya penghasilan masyarakat dibanding enam bulan sebelumnya.
BI Bali juga menyoroti turunnya kunjungan wisatawan nusantara sebesar 12,4 persen secara bulanan. Pada April 2026, jumlah wisnus hanya mencapai 310,7 ribu orang.
Penurunan ini terjadi setelah normalisasi pascalibur panjang Maret 2026. Selain itu, lonjakan harga tiket pesawat yang naik lebih dari 30 persen akibat kenaikan harga avtur ikut menekan minat masyarakat untuk berwisata ke Bali.
“Responden menyatakan adanya penurunan penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja dibandingkan enam bulan sebelumnya,” ujarnya.
Meski demikian, harapan masyarakat terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang masih cukup tinggi. Hal itu tercermin dari naiknya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) menjadi 127,5 atau tumbuh 2,3 persen dibanding bulan sebelumnya.
Masyarakat mulai optimistis terhadap peluang kerja, penghasilan, dan aktivitas usaha ke depan.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah, BI Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus menggencarkan operasi pasar murah, pengawasan harga pangan strategis, serta menjaga distribusi kebutuhan pokok.
Di sisi kebijakan moneter, BI juga memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen guna menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga konsumsi masyarakat tetap bergerak.
Pemerintah juga disebut masih menahan harga BBM dan tarif dasar listrik sebagai langkah menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian global. BWN-03


































