Mangupura, baliwakenews.com
Di tengah sorotan terhadap persoalan sampah dan keberlanjutan pariwisata Bali, kawasan The Nusa Dua justru diproyeksikan sebagai contoh nasional pengembangan destinasi wisata berbasis lingkungan. Hal ini mengemuka saat Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke kawasan pariwisata The Nusa Dua, Selasa (5/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, rombongan DPR RI meninjau langsung sistem pengelolaan sampah terpadu, pengolahan air limbah, hingga utilitas kawasan yang dikembangkan ITDC melalui anak usahanya, ITDC Nusantara Utilitas (ITDC NU).
Plt Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menyebut The Nusa Dua kini tidak hanya fokus pada bisnis pariwisata, tetapi juga membangun sistem kawasan berkelanjutan berbasis circular economy dan green infrastructure.
“Pengembangan kawasan pariwisata masa depan harus ditopang sistem utilitas modern dan pengelolaan lingkungan yang terintegrasi. The Nusa Dua menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi bisa berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Saat ini, kawasan seluas 350 hektare tersebut menaungi lebih dari 20 hotel internasional dengan sekitar 5.000 kamar dan melayani sekitar 3,8 juta wisatawan setiap tahun. Aktivitas besar itu menghasilkan sekitar 32,3 ton sampah per hari.
Namun ITDC mengklaim sekitar 95 persen sampah kawasan sudah dikelola secara sistematis. Sebagian besar sampah organik yang mencapai 70,5 persen diolah menjadi kompos untuk kebutuhan landscape kawasan, sementara sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang maupun dimanfaatkan kembali sebagai material bernilai ekonomi.
Selain pengelolaan sampah, The Nusa Dua juga menerapkan sistem utilitas terpusat melalui Integrated Lagoon & Utilities System. Sistem ini mencakup pengolahan air limbah, produksi air bersih berbasis teknologi desalinasi Seawater Reverse Osmosis (SWRO), distribusi LNG, hingga pemanfaatan reclaim water untuk irigasi kawasan.
ITDC mengklaim penerapan circular water system mampu menekan penggunaan air hingga 40 persen karena seluruh kebutuhan penyiraman taman menggunakan air hasil daur ulang.
Di sektor energi, penggunaan LNG sebagai pengganti LPG disebut mampu menurunkan emisi karbon hingga 12 persen. Bahkan sekitar 25 persen kebutuhan listrik utilitas kawasan ditargetkan berasal dari energi terbarukan dengan total reduksi emisi mencapai 984 ton CO2 per tahun.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Dr. Evita Nursanty, menilai model yang diterapkan ITDC layak menjadi acuan pengembangan destinasi wisata nasional, terutama di wilayah kepulauan dan wisata bahari yang menghadapi persoalan sampah dan keterbatasan air bersih.
“Pengelolaan sampah terintegrasi, daur ulang air limbah, hingga teknologi desalinasi seperti ini bisa menjadi solusi strategis bagi destinasi wisata Indonesia ke depan,” katanya.
ITDC berharap model pengelolaan kawasan berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance) yang diterapkan di The Nusa Dua dapat direplikasi di berbagai destinasi nasional lain untuk memperkuat daya saing pariwisata Indonesia sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. BWN-04
































