Mangupura, baliwakenews.com
Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang berdampak pada industri pariwisata dunia, kawasan Nusa Dua di Bali justru menunjukkan performa yang stabil dan cenderung positif.
Aktivitas pariwisata di kawasan premium ini tetap bergeliat. Tingkat hunian hotel (okupansi) pada triwulan pertama 2026 tercatat mencapai 68,17 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa Bali masih menjadi destinasi unggulan di tengah dinamika global.
General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menegaskan bahwa tren kunjungan wisatawan masih menunjukkan pertumbuhan.
“Kalau melihat data Maret, kunjungan masih meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini tidak hanya soal statistik, tetapi juga mencerminkan tingkat kepercayaan wisatawan terhadap Bali yang tetap terjaga.
Dwiatmika mengungkapkan adanya perubahan pola perjalanan wisatawan mancanegara. Sejumlah wisatawan yang sebelumnya merencanakan liburan ke Eropa kini mulai beralih ke Bali sebagai alternatif destinasi yang lebih aman dan nyaman.
Fenomena ini turut menopang stabilitas okupansi di Nusa Dua, terutama di tengah ketidakpastian di berbagai kawasan dunia.
Komposisi wisatawan di kawasan ini masih didominasi wisatawan mancanegara (wisman) hingga sekitar 80 persen. Australia menjadi pasar utama, disusul Rusia dan China.
Karakter wisatawan ini cenderung mencari destinasi dengan standar tinggi, mulai dari keamanan, kenyamanan, hingga pengalaman budaya yang autentik. Hal ini menjadi keunggulan utama Nusa Dua sebagai kawasan pariwisata terintegrasi.
Meski kinerja masih positif, Dwiatmika mengingatkan bahwa potensi dampak geopolitik tetap perlu diwaspadai, terutama terkait penurunan frekuensi penerbangan dan kenaikan harga tiket.
“Kita masih menunggu data April untuk melihat dampak yang lebih jelas, karena isu geopolitik mulai berkembang di periode itu,” jelasnya.
Selain wisman, wisatawan domestik tetap menjadi faktor penyeimbang. Dalam situasi global yang fluktuatif, pasar domestik kerap menjadi penopang stabilitas industri pariwisata Bali.
Untuk menjaga daya saing jangka panjang, pengelola kawasan ITDC terus melakukan program rejuvenasi. Pembaruan ini mencakup peningkatan infrastruktur, penataan kawasan, hingga peningkatan kualitas layanan.
Direktur Operasi ITDC, Troy Reza Warokka, sebelumnya menyatakan bahwa program ini dirancang berlangsung selama 4–5 tahun guna memastikan Nusa Dua tetap kompetitif sebagai destinasi kelas dunia.
Di tengah kondisi global yang tidak menentu, faktor utama yang menentukan pilihan wisatawan adalah rasa aman dan kepercayaan.
Selama dua faktor ini tetap terjaga, kawasan Nusa Dua diyakini akan tetap menjadi pilihan utama wisatawan dunia.“Selama kepercayaan wisatawan tetap terjaga, kami optimistis kunjungan akan tetap stabil,” tegas Dwiatmika.
Alih-alih terdampak signifikan oleh gejolak global, Nusa Dua justru menunjukkan ketahanan yang kuat. Dengan dominasi wisman, dukungan pasar domestik, serta strategi rejuvenasi kawasan, Nusa Dua tetap berada di jalur pertumbuhan di tengah ketidakpastian dunia. BWN-04

































