Batur, Baliwakenews.com
Denting gong gede berpadu dengan gerak sakral Tari Baris dan Rejang Batur mengalun khidmat di Pura Desa Adat Batur, Kamis (16/4/2026). Pagi itu, masyarakat Batur menutup rangkaian panjang Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur 2026 melalui ritual sakral Bakti Patetami, sebuah tradisi turun-temurun yang sarat makna spiritual.
Bakti Patetami atau Ngantukang Ida Bhatara Lingsir Nyujur Balidwipa Mandala menjadi pamungkas seluruh rangkaian upacara yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Upacara ini dipimpin langsung oleh Jero Gede Batur bersama jajaran prajuru Manggala Setimahan Desa Adat Batur, diiringi nuansa sakral yang terasa kuat sejak awal prosesi.
Pangemong Pura Ulun Danu Batur sekaligus Pamucuk Desa Adat Batur, Jero Gede Duhuran Batur, menjelaskan bahwa Bakti Patetami merupakan ritual penting dalam siklus spiritual masyarakat Batur. Ritual ini bertujuan mengantar kembali Ida Bhatara Lingsir menuju Jambudwipa Mandala.
Ida Bhatara Lingsir sendiri merujuk pada lima entitas suci yang dikenal sebagai Ida Bhatara Dalem Pasamuhan. Kelima entitas tersebut yakni Ida Bhatara Dalem Maspahit, Ida Bhatara Dalem Mas Siem, Ida Bhatara Dalem Madura, Ida Bhatara Dalem Mekah, dan Ida Bhatara Dalem Tambang Layar.
“Sebelumnya, Ida Bhatara Dalem Pasamuhan dijemput di Pura Jaba Kuta saat Purnama Kapitu, atau sekitar tiga bulan sebelum puncak Ngusaba Kadasa. Kemudian pada Tilem Kadasa, Ida Bhatara dihaturkan kembali melalui Padma Tiga di Pura Desa Adat Batur,” jelas Jero Gede Duhuran Batur.
Ia menambahkan, prosesi ini juga menjadi penanda penting bahwa rangkaian Ngusaba Kadasa tidak boleh melewati Tilem Kadasa. Selain itu, ritual ini juga menjadi momen untuk mempersembahkan bakti guru piduka sebagai permohonan maaf kepada Ida Bhatara selama prosesi berlangsung.
“Selain ngantukang Ida Bhatara Ajine ring Semeru, kami juga nunas pangampura apabila selama Ida Bhatara nyejer ada hal yang kurang berkenan. Kami juga memohon tuntunan dan amreta kahuripan bagi kesejahteraan jagat Bali,” ujarnya.
Tak hanya secara niskala, secara sekala pihak panitia juga menyampaikan permohonan maaf kepada para pemedek dan masyarakat apabila selama pelaksanaan Ngusaba Kadasa terdapat kekurangan pelayanan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh pihak. Jika selama pelaksanaan ada kekurangan, kami mohon dimaklumi. Semoga ke depan kami bisa memberikan pelayanan yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Jero Penyarikan Duuran Batur mengungkapkan bahwa pelaksanaan Ngusaba Kadasa tahun 2026 secara umum berjalan lancar. Namun, sejumlah persoalan klasik masih menjadi catatan, khususnya terkait kepadatan pemedek dan keterbatasan parkir.
“Antara 8 sampai 12 April, pemedek sangat padat hingga terjadi antrean panjang. Ini menjadi evaluasi kami. Kami berharap pembangunan fasilitas parkir ke depan bisa mengurai persoalan ini,” jelasnya.
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah volume sampah yang meningkat selama pelaksanaan upacara. Meski telah dilakukan imbauan, sampah organik masih cukup tinggi di sekitar kawasan pura.
Di sisi lain, pelaksanaan Ngusaba Kadasa 2026 juga mencatat pemasukan yang cukup besar. Jero Penyarikan Duuran Batur melaporkan total pemasukan mencapai Rp5.590.753.000, sementara pengeluaran sebesar Rp2.464.882.530.
Dana tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari bantuan pemerintah, punia masyarakat, canang sari, hingga panukun wewalungan. Selisih dana nantinya akan digunakan untuk pemeliharaan situs serta pelaksanaan siklus ritual di Pura Ulun Danu Batur dan 24 pura pasanakan.
“Ritual di Pura Ulun Danu Batur berjalan sepanjang 11 sasih, dari Kasa hingga Jiestha. Karena itu, dukungan semua pihak sangat penting,” ujarnya.
Bakti Patetami pun menjadi penutup yang sarat makna. Di tengah khidmatnya prosesi, masyarakat Batur kembali menegaskan komitmen menjaga tradisi, merawat warisan leluhur, serta menjaga keseimbangan spiritual Bali yang telah diwariskan turun-temurun. BWN-03

































