Lindungi Sawah dari Hama Tanpa Racun, Desa Bongkasa Kembangkan Solusi Alami Lewat Burung Hantu

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Upaya menjaga keseimbangan ekosistem pertanian di Bali terus diperkuat melalui pendekatan alami yang ramah lingkungan. Di Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, langkah konkret dilakukan dengan memanfaatkan predator alami untuk mengatasi hama tikus yang selama ini merugikan petani.

Sebanyak delapan ekor burung hantu jenis Tyto alba dilepaskan secara simbolis di kawasan Pura Dalem Wantilan. Inisiatif ini menjadi bagian dari gerakan pengendalian hama berbasis ekologi yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia sekaligus menjaga kesehatan lingkungan sawah.

Program ini diinisiasi oleh Bambu Indah bekerja sama dengan Owl Tower Bali Foundation, serta melibatkan unsur pemerintah desa, subak, hingga akademisi. Perwakilan mahasiswa dari Universitas Udayana turut hadir untuk mempelajari langsung penerapan solusi alami tersebut.

Baca Juga:  Bupati Tabanan Rangkaian Ngenteg Linggih di Pura Subak Abian Batur Dayang Kebonjero, Munduktemu, Pupuan

Pemilik Bambu Indah, John Hardy, menegaskan bahwa penggunaan racun tikus selama ini justru berisiko merusak ekosistem secara luas. “Racun tidak hanya membunuh hama, tetapi juga berdampak pada organisme lain dan kualitas tanah. Dengan menghadirkan kembali predator alami, kita bekerja selaras dengan alam,” ujarnya.

Langkah ini menyasar sekitar 40 hektare lahan persawahan yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami kerugian panen akibat serangan tikus. Kehadiran burung hantu diharapkan mampu menjadi pengendali populasi hama secara berkelanjutan tanpa merusak rantai ekosistem.

Lebih dari sekadar solusi teknis, program ini juga memperkuat nilai-nilai kearifan lokal Bali, khususnya sistem Subak yang telah diwariskan secara turun-temurun. Orin Hardy menyebut bahwa sawah di Bali bukan hanya ruang produksi pangan, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan lanskap spiritual masyarakat.

Baca Juga:  Sekda Adi Arnawa menghadiri Upacara Pediksan di Griya Manik Jumpung Br. Gunung Desa Abiansemal

“Sebagai bagian dari industri pariwisata, kami memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga keunikan Bali, termasuk sistem pertaniannya yang berbasis harmoni dengan alam,” jelasnya.

Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak, mulai dari masyarakat, organisasi lingkungan, hingga generasi muda. Warga diimbau untuk menjaga habitat burung hantu, mengurangi gangguan, serta menghindari praktik yang dapat mengancam keberlangsungan predator alami tersebut.

Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Camat Abiansemal Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, Perbekel Bongkasa I Gusti Agung Sumajaya, Bendesa Bongkasa Ida Bagus Gede Sujia Pradanta, serta perwakilan subak dan Owl Tower Bali Foundation.

Baca Juga:  Wujud Kepedulian dan Perhatian PKK Badung Bagi Masyarakat

Melalui pendekatan ini, Desa Bongkasa menunjukkan bahwa pengendalian hama tidak selalu harus bergantung pada bahan kimia. Sebaliknya, solusi berbasis alam justru mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi pertanian, lingkungan, dan keberlanjutan budaya Bali.

Kegiatan kemudian ditutup dengan tradisi makan bersama megibung, sebagai simbol kebersamaan dan komitmen kolektif dalam menjaga keseimbangan alam. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR