Denpasar, Baliwakenews.com
Harga properti residensial di Bali tetap menunjukkan tren kenaikan pada akhir 2025. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, sektor ini mulai menghadapi tekanan dari sisi penjualan.
Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis Bank Indonesia Provinsi Bali, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan IV 2025 tumbuh 1,06 persen (year-on-year).
Kepala Perwakilan BI Bali, Erwin Soeriadimadja dalam keterangannya, Rabu 25 Februari 2026 mengatakan angka ini sedikit melambat dibandingkan triwulan III 2025 yang tercatat 1,08 persen (yoy), namun tetap mencerminkan kondisi pasar yang solid.
Kenaikan harga terjadi di seluruh segmen properti:
Rumah kecil (≤36 m²): naik 1,57% (yoy)
Rumah menengah (36–70 m²): naik 1,12% (yoy)
Rumah besar (>70 m²): naik 0,82% (yoy)
“Pertumbuhan tertinggi terjadi pada rumah kecil, menandakan permintaan di segmen ini masih kuat di tengah dinamika ekonomi, ” ungkapnya.
Biaya Bangunan Jadi Pemicu Utama
Kenaikan harga properti terutama didorong oleh meningkatnya biaya konstruksi. Mayoritas developer menyebut lonjakan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja sebagai faktor utama yang mendorong harga rumah terus naik.
“Kondisi ini membuat harga jual sulit ditekan, meskipun daya beli masyarakat tidak sepenuhnya pulih, ” ujar Erwin.
Di sisi lain, penjualan properti residensial justru menghadapi sejumlah tantangan. Developer mengidentifikasi beberapa faktor penghambat utama, yaitu:
Suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
Keterbatasan lahan
Beban pajak
Besaran uang muka (DP)
Kombinasi faktor ini membuat pasar properti cenderung tumbuh dari sisi harga, namun tidak diikuti lonjakan signifikan pada penjualan.
Skema KPR Masih Jadi Andalan
Dari sisi pembiayaan, pembangunan proyek properti di Bali masih didominasi dana internal developer dengan porsi 55,9 persen. Sumber lainnya berasal dari pinjaman bank, dana konsumen, serta lembaga keuangan non-bank.
Sementara itu, dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tetap menjadi pilihan utama dengan porsi 62,4 persen dari total pembiayaan pembelian rumah.
“Data ini menunjukkan pasar properti Bali masih berada di jalur pertumbuhan, namun mulai menghadapi tekanan struktural. Jika biaya terus naik tanpa diimbangi kemudahan akses pembiayaan, potensi perlambatan penjualan bisa semakin terasa di tahun 2026,” pungkas Erwin. BWN-03


































