Denpasar, baliwakenews.com – Harapan 21 pemuda dari berbagai daerah di Pulau Jawa untuk mengubah nasib lewat pekerjaan di laut pupus sudah. Dengan iming-iming gaji besar dan pekerjaan layak, mereka direkrut lewat media sosial untuk bekerja sebagai anak buah kapal (ABK). Namun, kenyataannya justru mereka terjebak dalam jeratan perdagangan orang.
Para korban berusia 18 hingga 23 tahun dibawa ke Bali dan ditempatkan di kapal cumi KM Awindo 2A yang bersandar di Pelabuhan Benoa, Denpasar. Hidup mereka di atas kapal itu jauh dari kata manusiawi. Identitas dan ponsel disita, tak ada kontrak kerja, hanya makan mi instan dua sendok per orang, air minum diambil dari tangki kapal, bahkan gelap tanpa penerangan.
“Sebenarnya mereka dijanjikan gaji Rp3,4 juta, tapi yang diterima hanya Rp2,5 juta, dipotong biaya calo dan sponsor. Sebagian besar merasa ditipu, takut, dan ingin pulang,” ujar Kabid Humas Polda Bali Kombes Ariasandy, Jumat (5/9).
Kasus ini terungkap setelah salah satu ABK melapor ke Basarnas pada akhir Juli lalu. Polda Bali kemudian mengevakuasi para korban dan menyerahkannya ke Direktorat Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kini mereka dipulangkan ke rumah masing-masing, sementara penyidik menelusuri pemilik kapal serta pihak-pihak yang terlibat.
“Ini kejahatan luar biasa terhadap rasa kemanusiaan. Kami akan tuntaskan agar korban mendapat keadilan,” tegas Ariasandy. BWN-01


































