Empat Ibu Pulau Bali

Iklan Home Page

OLEH : I K. Eriadi Ariana

Apabila Pulau Bali seorang anak manusia, siapa orang tua yang melahirkan dan merawatnya? Pertanyaan semacam ini mungkin jarang ditanyakan oleh kita kebanyakan. Mungkin dianggap tidak relevan. Mungkin juga dianggap tidak penting. Apa gentingnya menanyakan siapa yang melahirkan bumi? Toh lebih baik membincangkan bagaimana memanfaatkannya. Tentu atas nama pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat.

Memang tidak salah mengolah pikir bagaimana cara memanfaatkan sumber daya. Namun, bukan pula tindakan keliru memikirkan kembali bagaimana sumber daya di sekitar kita dibentuk. Bangun pemikiran semacam ini justru sangat penting dalam mereka ulang arah pemanfaatan tanah tempat kita berpijak. Berpikir kembali, untuk dan kepada siapa tanah ini ada dan diadakan?

Menurut narasi dari sejumlah sastra yang diwariskan leluhur Bali misalnya Usana Bali, Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, dan Kakawin Purwaning Gunung Agung Pulau Bali lahir sebagai nusa yang penuh rahmat. Nun jauh pada masa yang tidak terhitung berapa lamanya, telur semesta (andabhuwana) meledak. Banyak pulau lahir di antara samudera lepas dengan kondisi panas membara. Proses pendinginan pulau-pulau itu memakan waktu yang tidak sebentar.

Setelah dingin, makhluk hidup mulai mencoba peruntungan untuk menapak permukaan bumi Bali. Meskipun demikian, Pulau Bali masih begitu “ringan”. Pulau yang masih muda ini “mengambang tanpa arah” di tengah samudera. Saat itu, terketuklah hati Bhatara Pasupati. Puncak dGunung Mahameru dipotong menjadi beberapa bagian. Dua bongkahan besar ditempatkan di Pulau Bali menjadi Gunung Batur dan Gunung Agung.

Baca Juga:  Di Bawah Cahaya Purnama Kasanga, Bale Pemaruman Pura Alas Arum Batur Disucikan

Dua orang putra Bhatara Pasupati yang merupakan dewa-dewa utama kemudian diturunkan untuk bersetana di dua gunung tersebut. Keduanya adalah Bhatara Putrajaya (Ida I Ratu Gde Gunung Agung) dan Bhatari Dewi Danuh (Ida I Ratu Ayu Ulun Danu). Gunung Agung berperan menjaga energi maskulin (purusa) sementara Gunung Batur adalah simpul energi feminim (pradhana).

Setelah menciptakan gunung, danau-danau juga diciptakan. Total ada empat buah danau yang diciptakan untuk menyokong kehidupan manusia Bali. Teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul versi salinan I Nengah Sanya asal Asah Gobleg menyebut empat danau itu sebagai Catur Danu. Danau-danau ini diciptakan oleh Bhatari Giri Putri melalui yoga-samadi.

Catur Danu adalah empat danau yang menjadi sumber resapan air bagi Pulau Bali. Keempatnya adalah Danau Batur, Danau Bulyan (Buyan), Danau Beratan, dan Danau Tamblingan. Teks mengklaim, inilah empat ibu yang menyusui pulu seluas 5,6 ribu km2 ini. Keempatnya melahirkan mata air, baik yang berupa klebutan (mata air yang menyembul dari dalam tanah) maupun trebesan (mata air yang muncul dari rembesan tebing). Air-air ini mengalir menjadi sungai-sungai, mengalir ke hilir menuju samudera. Dalam perjalanannya ke samudera, sungai-sungai menjadi sumber yang mengairi persawahan.

Baca Juga:  Ketua TP. PKK Badung Terima Kunja TP. PKK Kabupaten Kotawaringin Timur

Keempat danau menjadi tempat bersemayam keempat manifestasi Bhatari Giriputri. Dalam manifestasi sebagai Bhatari Uma, sang dewi bersetana di Danau Batur. Sebagai Bhatari Gangga, ia bersetana di Danau Bulyan (Buyan). Manifestasi bergelar Bhatari Laksmi bersetana di Danau Beratan, sedangkan Bhatari Gori dinarasikan bersetana di Danau Tamblingan.

Teks Kakawin Purwaning Gunung Agung memperkuat klaim danau sebagai ibu dari Pulau Bali. Teks ini menyebut Danau Batur sebagai “kubangan tirtha mahottama mahamreta”. Tirta mahottama mahamreta dapat diartikan sebagai air suci keabadian yang sangat utama, yang menjadi pusat energi kehidupan.

Klaim teks tentang Danau Batur sebagai tirta mahottama mahamreta beririsan dengan narasi teks Purana Tattwa Rajapurana Pura Ulun Danu Batur yang juga dimasyarakatkan dalam bentuk tradisi lisan (mitos) Ida Ratu Ayu Mas Membah. Purana Tattwa dan mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah sama-sama menjelaskan bahwa Danau Batur merupakan ibu dari tiga danau dan banyak mata air di Pulau Bali. Danau dan mata air itu lahir dari upaya “penyebarluasan” Tirta Mas Mampeh oleh Ida Ratu Ayu Mas Membah. Narasi inilah yang menjadi pengikat relasi antara masyarakat subak dan Pura Ulun Danu Batur hingga saat ini.

Keberadaan konsep Catur Danu sebagai ibu yang menyusui Pulau Bali dalam konteks saat ini sekiranya dapat dibaca bukan sekadar pada kaitannya dengan nilai-nilai spiritual. Catur Danu sekiranya merupakan penanda kesadaran ekologis kolektif yang telah direka dan dirawat manusia Bali sejak berabad-abad silam. Danau dipandang sebagai sumber air yang penting, yang mengalirkan air kehidupan hingga ke hilir untuk menopang denyut kehidupan.

Baca Juga:  1.279 Warga Sanur Divaksinasi Covid-19

Kesadaran kolektif atas pentingnya air pada akhirnya akan sampai pada upaya konservasi air yang holistik. Praktik konservasi ini secara tradisional dimodelkan dalam bentuk aktivitas kebudayaan seperti pakelem, mapag toya, wana kreti, danu kreti, dan sebagainya. Praktik budaya yang acapkali dimaknai hanya sekadar aktivitas ritual batiniah, yang tidak menyentuh ruang-ruang fisik-ekologis.

Ke depan, upaya menggiatkan kembali literasi kebudayaan yang tidak sekadar terbang membumbung ke angkasa raya, tetapi mencengkeram ke kedalaman bumi menjadi sangat penting. Artiya, ritual kudus yang telah dilakoni secara disiplin oleh orang Bali hendaknya diturunkan dalam laku hidup lebih nyata seperti menjaga hutan, menanam pohon, dan tidak mencemari lingkungan. Praktik nyata yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi dinamika sosial-ekologis Bali kontemporer, termasuk dalam menjaga kelangsungan hidup Ibu Catur Danu yang tengah dibidik gelombang tsunami kapital.BWN-R

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR