Nahkoda Bali Dolphin Cruise Dilaporkan, Polisi Selidiki Dugaan Kelalaian di Balik Tewasnya Tiga Orang

Iklan Home Page

Denpasar, baliwakenews.com – Langit di atas Sanur siang itu tampak pucat, seperti menandakan sesuatu yang buruk akan datang. Ombak menggulung lebih tinggi dari biasanya, memukul sisi-sisi kapal cepat Bali Dolphin Cruise II yang tengah memasuki jalur pelabuhan. Dalam hitungan detik, teriakan penumpang pecah, bercampur bunyi benda-benda terlempar, sebelum lambung kapal terbalik menelan semua yang ada di atasnya.

Tiga nyawa tak kembali. Dua wisatawan asal Tiongkok, Shi Guo Hong (23) dan Honqing Yu (37), serta seorang anak buah kapal, ditemukan tak bernyawa. Sisa-sisa tragedi itu masih terasa di bibir pantai Sanur: pelampung hanyut, sepatu tanpa pasangan, dan tatapan kosong dari mereka yang selamat.

Baca Juga:  Ayoo Datang Ke Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja Ada Serbuan Vaksinasi Nasional TNI-Polri

Seminggu kemudian, duka berubah menjadi langkah hukum. Yaja Travel Agent, agen perjalanan yang mengurus dua korban Tiongkok, resmi melaporkan nahkoda kapal berinisial AA (30) ke Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polda Bali. Tuduhannya: kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa.

Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Bali, AKBP Nanang Prihasmoko, membenarkan laporan itu. “Laporan ini mengacu pada Pasal 359 KUHP. Kami sudah memeriksa 13 saksi—korban selamat, kru, warga sekitar, hingga pihak KSOP,” ujarnya, Selasa (12/8).

Pemeriksaan awal mengungkap petunjuk yang mengarah pada dua kemungkinan: murni faktor alam atau kesalahan manusia. “Memang ombak tinggi saat itu, tapi kami juga harus melihat sejauh mana penguasaan nahkoda terhadap kapal,” kata Nanang. Penyidikan resmi dimulai, dan tak menutup kemungkinan ada saksi tambahan.

Baca Juga:  Puluhan Ribu Warga Badung Deklarasi Menangkan Paslon Nomor 2 Koster-Giri dan Adicipta

Namun, fokus polisi bukan hanya soal nahkoda. Kelayakan kapal juga ikut diperiksa. “Kami ingin pastikan, kapal ini layak bawa penumpang atau hanya layak untuk memancing,” ucap Nanang, menyiratkan keraguan.

Sheng Hanning, perwakilan Yaja Travel Agent, memahami cuaca buruk sebagai faktor, tetapi ia menegaskan satu hal: keselamatan tak boleh ditawar. “Keselamatan adalah kunci pariwisata internasional. Semua kapal wajib punya pelampung dan perlengkapan yang memadai,” katanya.

Baca Juga:  Kisah Tragis di Balik Penemuan Jasad Pasutri Muda di Pantai Padanggalak, Putri Kecilnya Menunggu di Rumah

Kuasa hukum keluarga korban, Hariadi, menambahkan bahwa seluruh keterangan telah diserahkan ke penyidik. “Keluarga hanya ingin keadilan, termasuk ganti rugi biaya perawatan dan kremasi. Nyawa yang hilang tak bisa kembali, tapi kebenaran harus ditemukan,” ucapnya.

Kini, laut Sanur kembali tampak tenang. Kapal-kapal cepat melaju membawa wisatawan ke Nusa Penida, seolah tak pernah ada bencana. Tapi bagi keluarga korban, setiap hempasan ombak adalah pengingat: tragedi itu nyata, dan jawabannya belum ditemukan. BWN-07

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR