Mangupura, baliwakenews.com
Pulau Bali kembali memancarkan pesonanya di tengah memanasnya situasi geopolitik di Asia Tenggara. Ketika ketegangan antara Thailand dan Kamboja menimbulkan ketidakpastian bagi wisatawan, Bali justru tampil sebagai destinasi yang aman, nyaman, dan layak dipilih.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menilai kondisi ini sebagai peluang strategis untuk semakin memperkuat posisi Bali sebagai pusat utama pariwisata nasional. Menurutnya, meningkatnya arus kunjungan ke Pulau Dewata tak lepas dari reputasi positif yang terus terjaga di mata dunia.
“Bali tetap menjadi pilihan utama karena dianggap stabil dan aman. Banyak wisatawan yang awalnya hendak ke Thailand akhirnya mengalihkan tujuan ke sini,” ungkap Agung Rai, sapaan akrabnya, saat dihubungi Minggu (27/7).
Meski data resmi terkait lonjakan kunjungan akibat pengalihan belum tersedia, PHRI Badung mencatat adanya peningkatan signifikan diperkirakan mencapai 10 hingga 15 persen. “Memang belum ada angka pasti, tetapi lonjakannya terlihat dari peningkatan okupansi hotel dan naiknya load factor penumpang,” jelasnya.
Agung Rai menegaskan bahwa industri perhotelan di Bali dalam kondisi siap menyambut lonjakan wisatawan. Dengan kapasitas lebih dari 160.000 kamar, Bali dinilai sangat mampu menampung tambahan kunjungan, terutama memasuki musim liburan puncak dari Juli hingga Oktober.
“Dengan tingkat hunian sekitar 70–80 persen, masih tersedia 20–30 persen kamar. Industri kita siap secara infrastruktur dan layanan,” katanya optimistis.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya melihat Bali bukan sekadar sebagai destinasi pelarian dari konflik, tetapi sebagai destinasi utama pariwisata dunia yang bermartabat dan berkelas.
Ia juga mendorong agar momentum pasca pemilu nasional dimanfaatkan untuk memperkuat branding Bali sebagai penyangga utama ekonomi berbasis pariwisata berkualitas.
“Sekitar 60 persen ekonomi Bali bergantung pada pariwisata. Karena itu, seluruh elemen harus bersinergi menjaga citra Bali sebagai destinasi unggulan dunia,” tegasnya.
Dengan kesiapan infrastruktur, daya tarik budaya, dan semangat kolaboratif, Bali kini berdiri bukan sekadar sebagai pilihan alternatif, tetapi sebagai simbol pariwisata global yang tangguh, adaptif, dan selalu menyambut wisatawan dengan hangat.
Jika diinginkan, saya bisa bantu ubah lagi sesuai segmentasi pembaca tertentu, seperti investor, pembuat kebijakan, atau wisatawan. BWN-04
































