Denpasar, baliwakenews.com
Pada bulan Mei 2025, penjualan eceran di Provinsi Bali diprakirakan masih dalam tren positif yang tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang sebesar 119,6 atau secara tahunan tumbuh 7,4% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja dalam keterangannya, Jumat 20 Juni 2025 menyampaikan IPR Mei 2025 juga meningkat dibandingkan April 2025 yang sebesar 117,9.
Lebih lanjut Erwin memaparkan prakiraan terjaganya kinerja ritel tersebut didukung oleh berlanjutnya optimisme masyarakat dengan peningkatan permintaan pada periode libur dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Waisak dan Kenaikan Yesus Kristus.
“Kinerja positif prakiraan IPR pada Mei 2025 sejalan dengan data inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) posisi Mei 2025 yang sebesar 1,92% (yoy), melandai dibandingkan April 2025 yang mengalami inflasi sebesar 2,30% (yoy). Inflasi yang terjadi masih berada dalam rentang target sasaran inflasi sebesar 2,5% + 1% turut mendorong konsumsi masyarakat di Bali tetap tumbuh positif, khususnya untuk komoditas angkutan udara yang mengalami inflasi sejalan dengan memasukinya musim libur panjang pada Mei 2025,” ungkapnya.
Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.
“Berdasarkan komponen pembentuknya, prakiraan penjualan eceran di Bali pada Mei 2025 didukung oleh tumbuhnya berbagai sub sektor, seperti Peralatan Informasi dan Komunikasi yang meningkat 4,5% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi yang meningkat 3,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau yang meningkat 3,2% (mtm); Suku Cadang dan Aksesori yang meningkat 2,2% (mtm); dan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang meningkat sebesar 1,3% (mtm). Kinerja IPR di Bali yang positif tersebut menunjukkan peningkatan konsumsi masyarakat di Bali,” papar Erwin.
Prospek penjualan eceran di Bali ke depan diprakirakan masih terus bertumbuh. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap pertumbuhan penjualan eceran dalam jangka pendek dan menengah masih meningkat. Responden memprakirakan penjualan pada 3 dan 6 bulan ke depan tetap terjaga yang tercermin dari IEP Juli 2025 sebesar 176, dan pada Oktober 2025 sebesar 196, masih berada di level optimis (IEP > 100). Terjaganya IEP tersebut mencerminkan pertumbuhan ekonomi Bali akan terus melaju, di tengah dinamika perdagangan global yang masih berlanjut.
Performa penjualan ritel dan tingkat konsumsi masyarakat perlu terus ditingkatkan untuk mengoptimalkan IPR. Oleh karena itu, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/kota di wilayah Provinsi Bali terus menjalin sinergi dalam menjaga stabilitas harga, memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga, serta mendorong agar perekonomian Bali terus bergerak menuju pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sarbagita Ke-14 proyek investasi potensial di Bali tersebut, kemudian disusun dalam buku katalog investasi, yang selanjutnya diserahkan oleh PIKBS kepada Pemerintah Provinsi Bali. Hadirnya buku katalog investasi ini diharapkan mampu mempermudah perluasan informasi dan promosi terintegrasi proyek investasi strategis kepada investor potensial yang selanjutnya diharapkan dapat mendukung peningkatan realisasi investasi.
Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Dedi Latif dalam acara talkshow Bali Jagadhita menyampaikan terdapat 3 hal yang menjadi kunci keberhasilan investasi yakni perizinan, regulasi, dan daya saing. Melalui PP No. 24 Tahun 2019, pemerintah berkomitmen memberikan insentif dan kemudahan investasi di Indonesia bagi investor yang memenuhi sejumlah kriteria diantaranya meningkatkan pendapatan masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan, melakukan alih teknologi, menyerap tenaga kerja, menggunakan sumber daya lokal, meningkatkan PDRB, berwawasan orientasi ekspor, dsb.
Dedi turut menegaskan hilirisasi menjadi perhatian pemerintah untuk mendorong investasi yang berkualitas. Bali sendiri memiliki beberapa potensi industri hiliriasi seperti industri kreatif (kriya, fesyen, dll), industri agro (pengolahan hasil perkebunan), termasuk penguatan dari sisi pariwisata dengan pengembangan health tourism dan eco tourism.
Bank Indonesia memprakirakan outlook perekonomian Bali 2025 tetap solid pada kisaran 5,0-
5,8% (yoy). Dengan outlook ekonomi yang tetap kuat, terjaganya inflasi, tetap solidnya optimisme pelaku usaha, dukungan insentif oleh pemerintah, serta daya saing daerah Bali yang sangat baik tentunya semakin membuka peluang untuk peningkatan investasi di Bali.
Strategi kolaboratif antar pemangku kepentingan perlu terus didorong diantaranya melalui fasilitasi kemitraan strategis antara investor besar dengan UMKM, penguatan infrastruktur dan konektivitas, serta pengembangan kualitas SDM. “Melalui penyelenggaraan Bali Jagadhita Investment Forum 2025 diharapkan dapat semakin mendorong tercapainya perekonomian Bali yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Dedi. BWN-03

































