Tabanan, baliwakenews.com – Nyoman Jembor (74) duduk di ranjang rumah sakit, tangannya lemah tapi matanya berbinar. Ia sudah kembali. Keluarganya masih tak percaya, setelah sepuluh hari menghilang tanpa jejak, nenek renta itu ditemukan dalam keadaan mengenaskan di tengah kebun pandan.
Luka-luka di tubuhnya masih berbalut perban. Kakinya yang bernanah, dipenuhi belatung, menjadi saksi bahwa ia benar-benar mengalami sesuatu yang tak biasa. Bagi keluarganya, ini bukan sekadar cerita orang hilang, mereka percaya, Nenek Jembor telah “diambil” oleh kekuatan tak kasat mata.
Hari itu, Minggu (23/2/2025), Nenek Jembor berpamitan untuk mencari daun durian dan daun cempaka, bahan penting untuk membuat porosan dalam upacara adat. Ia biasa melakukannya, sehingga tak ada yang mencurigai apa pun.
Namun, senja berlalu, dan Nenek Jembor tak kunjung pulang. Malam datang, keluarga mulai gelisah. Mereka mencari ke seluruh penjuru desa, menyusuri kebun-kebun dan jalan setapak, memanggil namanya. Hasilnya nihil.
Keesokan harinya, pencarian meluas. Warga ikut membantu, polisi menerima laporan, tetapi tak ada jejak yang ditemukan. Hingga hari ketiga, kegelisahan berubah menjadi ketakutan.
“Jangan-jangan beliau disembunyikan,” bisik seorang tetangga.
Di Bali, ada kepercayaan bahwa seseorang bisa saja diambil oleh “penguasa” alam lain. Apalagi, ada petunjuk aneh, keluarga mencium aroma sate di rumahnya.
“Seperti ada upacara pernikahan,” kata seorang warga.
Dalam tradisi mistis Bali, aroma sate yang muncul tiba-tiba sering dikaitkan dengan pernikahan gaib. Jika benar begitu, mungkinkah Nenek Jembor telah “menikah” di alam lain?
Saat pencarian fisik tak membuahkan hasil, keluarga mendatangi orang pintar. Mereka meminta petunjuk, bertanya ke mana harus mencari.
Hingga akhirnya, pada hari ke-10, jawaban itu datang: “Pergilah ke utara Pura Yang Api.”
Nyoman Bagiarta, keponakan korban, mengikuti arahan itu. Ia menyusuri jalan setapak di antara semak belukar. Hingga akhirnya, ia melihat sosok tubuh tergeletak di tengah kebun pandan.
“Astungkara, beliau masih hidup!” serunya.
Nenek Jembor ditemukan dalam keadaan sangat lemah. Tubuhnya penuh luka, terutama di kaki yang sudah bernanah dan dipenuhi belatung. Namun, yang membuat merinding, ia tak ingat apa pun.
“Saya hanya ingat berjalan… setelah itu gelap,” ujarnya pelan.
Keluarga segera melakukan upacara banten penukar, ritual khusus yang diyakini bisa mengembalikan seseorang yang “diambil” oleh dunia lain.
Setelah ritual dilakukan, kondisi Nenek Jembor perlahan membaik. Ia mulai bisa berbicara, meski tetap tak bisa menjelaskan di mana ia berada selama sepuluh hari itu.
Bagi keluarganya, tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Yang penting, Nenek Jembor telah kembali. Apakah ia hanya tersesat? Ataukah benar-benar menghilang ke dimensi lain?
Di desa itu, pertanyaan itu tak perlu dijawab. Mereka percaya, ada dunia yang tak terlihat, dan kali ini, dunia itu sempat membawa Nenek Jembor pergi. BWN-01

































