Kutsel, baliwakenews.com
Aksi kebut-kebutan di Jalan kembali muncul di kawasan Kuta Selatan (Kutsel). Hal ini membuat gerah sejumlah tokoh masyarakat setempat. Meski sudah diantisipasi pelaku trek-trekan ini kerap melakukan aksi nya berpindah-pindah sehingga menyulitkan pengawasan.
Hal Itu diakui Camat Kutsel, I Ketut Gede Arta dihubungi Senin 15 Mei 2023. Gede Arta mengungkapkan kalau permasalahan tersebut telah diatensi pihak kepolisian. “Pengawasan dan patroli wilayah sebenarnya sudah rutin dilaksanakan bersama dengan unsur kepolisian dan TNI, namun memang aksi trek-trekan itu terjadi berpindah tempat dan pelakunya kerap kucing-kucingan,” ujarnya.
Diungkapkannya pula di tengah keterbatasan petugas, penertiban tidak serta merta bisa dilakukan mengingat hal itu juga dilakukan tengah malam sampai dini hari. “Pengawasan dan patroli sebenarnya rutin kami laksanakan. Tapi oknum ini mencari celah dengan berpindah-pindah tempat dan dilakukan dalam rentang waktu tertentu,” ungkapnya.
Melihat fenomena ini, kata dia tentu diperlukan peran serta masyarakat untuk ikut mengawasi. “Jangan sampai ketika ada korban, hal itu baru membuat ngeh. Peran pengawasan tentu sangat diperlukan mulai dari tingkat rumah tangga, hingga lingkungan sekitar,” ujarnya.
Selain itu keluarga memiliki peran untuk mengedukasi anak-anaknya agar tidak melakukan hal yang cenderung bersifat kepuasan sesaat, namun merugikan dirinya dan lingkungannya. “Selama ini kami juga telah menyambangi sejumlah sekolah, mulai dari SMP dan SMA di Kuta Selatan, untuk memberikan edukasi tentang kenakalan remaja,” ucapnya.
Melalui program pemberdayaan, ketentraman dan ketertiban kewilayahan, dia bersama stakeholder terkait melakukan sosialisasi dan edukasi tentang berbagai hal perbuatan yang tidak patut dilakukan. Seperti edukasi narkoba, trek-trekan, serta kenakalan lain yang kerap kali dilakukan remaja pada umumnya. “Itu sudah kami lakukan di anggaran perubahan 2022. Nanti itu akan kami ajukan lagi di anggaran perubahan 2023. Kami harap peran pengawasan dan edukasi ini juga dapat dilakukan semua pihak,” tegas mantan Sekcam Kuta tersebut.
Salah seorang Tokoh Kutsel yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Benoa, Wayan Ambara Putra juga menyayangkan trek-trekan tersebut. Dikonfirmasi terpisah Ambara Putra meminta agar aksi ini ditertibkan karena sangat membahayakan. Seperti yang terjadi di depan Lapangan Lagoon beberapa hari lalu sehingga membuat salah seorang warga cedera.
Aksi ini tidak hanya berlangsung di depan Lapangan Lagoon, namun kerap berpindah-pindah tempat. Termasuk juga jam aksi tersebut juga tidak menentu. “Ini harus ditertibkan karena selain mengganggu juga sangat membahayakan,” ujarnya.
Sebab suara bising kendaraan sangat mengganggu Masyarakat yang sedang beristirahat di pagi hari. BWN-04

































