Tabanan, baliwakenews.com
Demi mempertahankan progress positif saat Porprov Bali XIV dan XIV, KONI Tabanan sangat aware dengan perkembangan cabang olahraga anggotanya saat ini.
Bahkan dalam perjalanannya, ada beberapa cabang olahraga mati suri seperti SK kepengurusan sudah habis dan minim kegiatan.
Oleh sebab itu, KONI Tabanan akan mengambil Langkah berupa pemanggilan beberapa cabor tersebut. Pada prinsipnya, KONI Tabanan mulai mengedepankan sistem organisasi yang sehat agar tak ada cabor anggota yang hanya tempel nama di KONI atau mati suri.
Ketua Umum KONI Tabanan, I Made Nurbawa saat diwawancara, Selasa (14/2) menjelaskan, pihaknya segera memanggil cabor-cabor mati suri itu yang artinya Surat Keputusan (SK) telah habis. “Mati suri disini dalam artian SK nya sudah habis. Kami akan panggil dan melakukan pendampingan kepada mereka,” tegas Nurbawa.
Disebutkannya cabor-cabor yang SK nya telah mati itu seperti bridge, catur, judo, kabaddi, kempo, menembak, sepak takraw, senam lantai, tenis lapangan, dan woodball. Bahkan kata Nurbawa ada dua cabor yakni catur dan woodball masa akhir kepengurusannya pada tahun 2019 lalu.
“Sementara sisanya mayoritas berakhir di tahun 2022, meskipun sebagian juga mereka masih aktif,” jelasnya sembari mengatakan anggota cabor KONI Tabanan saat ini sebanyak 44.
Sistematisnya nanti per cabor akan dipanggil dan dimintai pendapat mengapa terjadi hal seperti itu, mengingat dampaknya adalah ke pembinaan serta fasilitas yang diberikan terutama dana hibah dari Pemkab Tabanan menjadi tersendat.
Selain memanggil cabor yang SK nya telah mati itu, pihaknya juga akan memanggil anggota cabor yang minim berkegiatan seperti yongmoodo, renang, cricket, dan sebagainya. “Bertahap nantinya setelah cabor yang SK mati itu. Gambaran awalnya, kami akan panggil, beri pendampingan, pendekatan, dan eksekusi program selama satu bulan. Kalau masih mandeg, baru berikan sanksi,” tegasnya.
Namun di luar hal itu, Nurbawa juga berharap pengprov cabor juga harusnya turut aktif untuk memantau perkembangan anggotanya di daerah.
“Jangan sampai terkesan dibiarkan anggotanya tak ada perkembangan. Dengan begitu, organisasi olahraga menjadi sehat, sehingga pembinaan berjalan berkesinambungan. Ini juga berpengaruh ke KONI daerah terutama dalam memberikan dana hibah,” tutup Nurbawa. BWN-06
































