Mangupura, baliwakenews.com
Cuaca panas dan kondisi kering masih melanda sejumlah wilayah Bali. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi tersebut masih berlangsung hingga mendekati awal musim penghujan yang diprediksi mulai terjadi pada November hingga Desember 2026.
Kondisi panas dan kering tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kebakaran, memengaruhi ketersediaan air untuk pertanian serta disertai potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Bali.
Prakirawan Cuaca BMKG, Putu Agus Dedy Permana, mengatakan kondisi panas yang dirasakan masyarakat saat ini tidak disebabkan oleh peningkatan suhu udara yang signifikan.
Berdasarkan data pengamatan selama sepekan terakhir, suhu maksimum tertinggi tercatat mencapai 33 derajat Celsius di Stasiun Geofisika Sanglah.
“Dalam seminggu terakhir, suhu tertinggi tercatat di Stasiun Geofisika Sanglah dengan nilai 33 derajat Celsius,” ujar Putu Agus Dedy Permana, Senin (5/10).
Menurutnya, rasa panas yang lebih menyengat dipengaruhi oleh posisi semu matahari yang semakin bergerak ke selatan. Kondisi tersebut membuat intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Bali, menjadi lebih terasa.
Minimnya tutupan awan dalam beberapa hari terakhir juga membuat paparan sinar matahari semakin kuat, terutama pada siang hari.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat yang beraktivitas di kawasan pantai dan wisata bahari diminta tidak hanya mewaspadai paparan panas, tetapi juga memperhatikan kondisi laut.
BMKG mengingatkan potensi gelombang laut mencapai 2 meter atau lebih, terutama di perairan selatan Bali. Kondisi tersebut diperkirakan masih perlu diwaspadai dalam dua hari ke depan.
“Untuk dua hari ke depan secara umum masih perlu diwaspadai gelombang laut mencapai 2 meter atau lebih, terutama di perairan selatan Bali,” jelasnya.
Peringatan tersebut berlaku bagi masyarakat umum, nelayan maupun pelaku kegiatan wisata bahari, khususnya di Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Selat Lombok dan Perairan Selatan Bali.
BMKG menyebut dinamika angin dan gelombang laut saat ini masih sangat bervariasi. Pergerakan semu matahari turut memengaruhi kondisi angin dan tinggi gelombang, namun perkembangannya juga bergantung pada muncul atau tidaknya fenomena cuaca signifikan.
Selain aktivitas di laut, kondisi kering juga menjadi perhatian bagi sektor pertanian. Petani diimbau menyesuaikan kegiatan dengan ketersediaan air serta memperhatikan informasi iklim untuk mengurangi risiko gangguan terhadap produksi pertanian.
Potensi kebakaran juga perlu diantisipasi. Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan maupun membakar sampah secara sembarangan.
Untuk menjaga kesehatan selama periode panas, BMKG mengimbau masyarakat menggunakan tabir surya ketika beraktivitas di luar ruangan. Perlindungan tersebut penting untuk mengurangi dampak paparan sinar ultraviolet dan panas matahari.
Masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan informasi cuaca, terutama peringatan dini terkait cuaca dan iklim ekstrem.
Sementara itu, kondisi panas dan kering diperkirakan mulai berangsur berubah seiring meningkatnya frekuensi hujan. BMKG memprediksi awal musim penghujan di Bali terjadi sekitar November hingga Desember 2026.
Dengan demikian, masyarakat masih perlu bersiap menghadapi periode panas dan kering dalam beberapa pekan ke depan. Kewaspadaan diperlukan untuk mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan, aktivitas wisata bahari, sektor pertanian serta potensi kebakaran. BWN-04
































